Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

10 December 2019

Pak Kamad dan Sepeda Brompton




http://www.kabarmadrasah.com/


Siang yang asin. Motor tujuh lima Pak Mad terpaksa dituntun menyusuri lorong gang lantaran tadi pagi lupa isi bensin. Tepatnya, menunda isi bensin dulu. Dalam pikirnya, masih cukuplah kalau untuk pulang pergi ngajar. Paling tidak hari ini.

“Hallo, Pak.” Sapa si Iyung bekas muridnya dulu. Wih, sangar tenan, batin beliau. Murid-murid Pak Mad sekarang itu sudah pada jadi orang. Salah satunya ya si Iyung ini. Celana necis, pake baju masuk. Berdasi, sepatu, rambut bersemir klimis. Pokoknya beda dari dulu yang Pak Mad lihat di kelas. Dimana si Iyung ini umbelen, kaos kaki gak pernah dicuci sampai seminggu oleh ibunya. Kalau ada PR pelajaran tertentu, buku selalu dicampur-campur macam sayur pecel saja.

“Lho? Mau kemana, Yung?” Balas Pak Kamad. Lha tadinya agak nggrundel juga. Menyapa guru mbok ya salam, atau apa... Ini apa karena saking gaulnya si Iyung, berucap hallo sambil mengangkat telapak tangan. Wis ndak apa-apalah... Daripada kemarin lusa, tetangga satu kampung yang bernama Ucin, panjangnya Husain Aris Munandar. Mobil Brio-nya yang menyalip Pak Mad malah ia cipratkan pada genangan air sewaktu hendak berangkat kerja. Sudah otomatis seragam hitam putih Pak Kamad jadi bermotif pulau dengan warna coklat. Parahnya... Ucin ini kecilnya dulu sekolah di madrasah tempat Pak Kamad ngajar. Dan ajaibnya, Pak Kamad yang ngajari matematika lho...

Baca Juga

Ah, dunia memang tak perlu ditanggapi dengan serius. Contoh si Ucin dan si Iyung hanyalah sebagian kecil potret manusia zaman sekarang. Apakah guru seperti Pak Kamad tetap minta dihargai dan disegani oleh anak-anak didiknya yang sekarang mungkin banyak yang sudah jadi orang? Lantas bukankah itu nanya pamrih. Eh, pamrih tidak hanya uang lho. Memberhalakan keinginan untuk diajeni juga pamrih.

Pak Mad coba menghitung nafas yang mulai terengah. Ia tak tahu ini kegagalan dari sekolahan mendidik manusia atau bukan. Kalau ini kegagalan, ya ndak bisa dikatakan gitu juga. Lha wong si Ucin dan si Iyung itu sekarang sukses kok. Wis ah, Pak Kamad akhirnya tak hendak mikir jeru-jeru takut loru. Selain Ucin dan Iyung, banyak juga murid Pak Kamad yang berbudi luhur, baik hati, suka menabung, eh...

Contoh saja saat ini si Budi Prakoso Noto Boto Songo, ia adalah anggota DPRD terpilih. Bayangkan, lebaran kemarin sebelum pencalonan, ia rajin bersilaturrahmi ke guru-guru, ustadz-ustadz, pengajian-pengajian. Ia juga tak segan menitipkan amplopnya ke madrasah. Kalau Pak Kamad sih merem saja madrasahnya disanguni amplop wah untuk dialokasikan ke pembangunan. Pokoknya tetap melihat itu dengan kacamata kebaikan, pantang su’udzon! Lha kalau ditanya duit itu dari mana? Ngapain repot-repot bertanya.

Intinya tinggal nagih janji Budi Prakoso Noto Boto Songo ini saja. Tak usahlah Pak Kamad mengurai dalil-dalil. Wis, urip kuwi selow...

Motor tujuh lima Pak Kamad masih ia tuntun, berhenti pada Pertamini milik Mak Atun.
“Ngisi, Mak!”
“Apalll, sepuluhewu Pertalite tho?”
“Yess!”
“Wah, kemajuan, Yi... Jawabe nganggo inggeris.”
“Wehehehe, lagi gembira iki, Mak.”

Pak Kamad menutup tangki motornya setelah Mak Atun berucap terima kasih.
“Thin! Thin!” Mobil pick up terbuka dari arah berlawanan menyapa Pak Kamad. Mobil yang melaju pelan itu membawa sebuah sepeda lipat bertuliskan merk ‘Brompton’.

Baca Juga

Yang mengemudikan pick up itu si Anto, juga pernah jadi muridnya. Wih akih bener murid Pak Kamad. Lha iya, sudah hampir tiga dekade ia mengabdikan diri di madrasah meski hanya menjadi guru swasta. Tapi ya... Alhamdulillah, barokah iku sing tetep kanthil.

“Assalamualaikum, Pak Kamad! Mau nganter pesanan Pak Budi Prakoso Noto Boto Songo.” Sapa Anto yang merapat dan berhenti sejenak.
“Wa’alaikum salam, suwangar jebule Pak Budi kuwi? Wih, iki merk ‘Brompton’ lho!” Balas Pak Kamad.

Mak Atun yang masih berdiri di mesin Pertamini miliknya berujar.
“Walah, sepeda lipat wae kok! Itu kayak punya’e Didit anak saya tho, Yi.”
Anto terkekeh dalam tawa yang ingin ditahan. Sementara Pak Kamad menimpali.
“Merk iki gawe tuku motor anyar tes dapat empat lho, Mak. Ojo kaget sampeyan!”
“Ha???? Mosok, Yi?”

“Owalaaaah... Makanya sekali-kali lihat berita tho, Mak! Iki sepeda viral mencuat usai kasus Dirut Garuda itu lho, Mak!” Tambah Anto.
“Opo? Pilus Garuda?” Mak Atun membelalak lebar. Sementara Pak Kamad dan Anto makin terkekeh.
“Yo anggep wae kuwi lah, Mak! Pilus Garuda!”

Redaksi : Yani

www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
jangan lupa baca artikel :Download RPP Kelas 1 Kurikulum 2013 Revisi 2017

Untuk melihat lebih jauh tentang semua postingan blog kabarmadrasah.com  ini,, silakan kunjungi
 [ Daftar Isi ] Semoga bermanfaat dan jangan lupa sebarkan kemafaatan lebih luas kepada teman dan sahabat dengan klik tombol like dan Share Terima Kasih
Comments
0 Comments

No comments:

Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com