Ahad Pon, 15 Februari 2026 M bertepatan 27 Sya’ban 1447 H, Pemerintah Desa Sambung Undaan Kudus bersinergi dengan NU sebanom kembali menggelar Ziarah Massal dan Tahlilan Umum di Makam Muslim Desa Sambung. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H. Acara yang dimulai pukul 15.30 WIB ini berlangsung khidmat, penuh doa dan renungan.
Hadir dalam kegiatan ini, ibu Astuti Widyawati,S.Pd (Kepala Desa Sambung ) beserta perangkat Desa, BPD beserta jajarannya, Sesepuh Desa dan seluruh pengurus NU sebanom,serta masyarakat yang menempatkan diri di atas makam ahli qubur masing-masing.
Tausiyah disampaikan oleh KH. Nor Halim Ma'ruf dari Kudus, yang memberikan nasihat mendalam tentang akhirat, kemuliaan kaum dhuafa, pentingnya ilmu, serta penguatan tauhid dalam urusan rezeki.
Beliau mengingatkan jamaah: “Jangan sampai senang yang berlebihan sampai melupakan akhirat.”
Dunia hanyalah persinggahan. Terlalu tenggelam dalam kesenangan bisa melalaikan manusia dari kematian yang pasti datang. Karena itu, beliau mengajak untuk selalu memusatkan perhatian pada kehidupan setelah kematian.
Ziarah kubur disebutnya sebagai “survey rumah masa depan.” Sebuah ungkapan sederhana namun sangat menggugah. Kubur adalah tempat tinggal sementara sebelum hari kebangkitan. Maka berziarah sejatinya adalah momentum muhasabah atau instrospeksi diri
KH. Nor Halim Ma'ruf menyampaikan tausiyah yang kami coba rangkum beberapa catatan sebagai berikut :
Tujuan utama kegiatan ziarah masal antara lain :
1. Majlis Silaturrahim, antar sesama warga
2. Do'a bersama, memohon nuzulurrrahmah dan maghfiroh bagi seluruh ahli kubur muslimin dan muslimat.
3. Bungahake lan ngayemke ahli qubur, membahagiakan para ahli kubur dengan salam,doa dan bacaan kalimah thoyyibah
Beliau juga menyampaikan makna dari sebuah hadis Nabi, bahwa: “Paling ayem-ayeme wong mukmin neng alam kubur iku nalika diziarahi wong sing paling disenengi wektu neng alam dunya.”
(Saat paling menenangkan bagi ahli kubur mukmin adalah ketika diziarahi oleh orang yang paling ia cintai semasa hidupnya.) Betapa besar nilai sebuah kunjungan dan doa dari keluarga, sahabat, dan orang-orang tercinta.
4. Menguatkan iman dan kesadaran akan kehidupan akhirat.
Dalam tausiyahnya, beliau tidak hanya menghormati para kyai, tokoh masyarakat dan pejabat, tetapi secara khusus memberikan penghormatan kepada fuqoro dan masakin.
“Mulyane wong ora nduwe.”
Kemuliaan orang miskin seringkali justru karena ketulusan dan kedekatan mereka kepada Allah. Doa mereka menjadi pilar kebaikan umat, berdampingan dengan kedermawanan orang kaya dan ilmunya para alim.
Pesan ini menjadi refleksi sosial bahwa ukuran kemuliaan bukan pada harta, tetapi pada ketakwaan.
Pentingnya Ilmu Alat: Nahwu, Balaghah, dan Alfiyah
Beliau juga menekankan pentingnya ilmu alat dalam memahami Al-Qur’an dan dawuh-dawuh agama, seperti: Ilmu Nahwu,Ilmu balaghah dan Alfiyah sebagai dasar kaidah bahasa Arab. Tanpa penguasaan ilmu alat, seseorang bisa keliru dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Pemahaman agama tidak cukup hanya dengan terjemahan, tetapi membutuhkan kedalaman ilmu agar tidak salah makna.
Pesan ini sekaligus menjadi penguat tradisi pesantren yang menjaga sanad keilmuan dan ketelitian dalam memahami teks suci.
Menguatkan Tauhid dalam Urusan Rezeki
Di akhir tausiyah, beliau menguatkan aspek ketauhidan, khususnya dalam hal rezeki. Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Setiap manusia memiliki ukuran masing-masing. Tidak perlu iri, tidak perlu risau berlebihan, apalagi sampai menghalalkan segala cara. Dalam hal ini beliau mengingatkan saat bayi masih dalam kandungan sang ibu, Allah-lah yang mengatur rezekinya melalui Air Susu Ibu.(ASI).
Rezeki bukan semata hasil kerja keras, tetapi juga ketetapan Allah. Tugas manusia adalah berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.. Allah SWT bersifat Wasiur Rohmah, luas welase, maka jangan takut dan khawatir akan rizqi
Ziarah sebagai pengingat akhir kehidupan
Beliau juga mengingatkan tentang bahaya takabur tidak mau beribadah. Api neraka dinyalakan bagi orang-orang yang sombong. Kesombongan dapat menutup pintu hidayah dan menghancurkan amal.
Dengan berziarah, manusia diingatkan bahwa semua akan kembali ke tanah. Jabatan, harta, dan kebanggaan dunia tidak akan dibawa kecuali amal saleh.
Untuk itu , beliau berpesan agar berusaha bagaimana agar kelak makam (alam kubur ) kita nanti menjadi raudloh min riyadlil jinan ( taman dari pertamanan surga) dengan menguatkan syahadat kita, ibadah, puasa,zakat dan haji jika sudah mampu.
Beliau menyampaikan dan mengingatkan bahwa alam kubur, (yang pastinya kita akan memasukinya) adalah kawit kawitane panggonan ning alam akhirat, sing sopo wonge selamet ora kena siksa qubur mergo ibadahe tethes, maka alam quburnya menjadi raudhoh min riyadlil Jinan, tetapi sebaliknya, jika di alam kubur tidak selamat, mendapat siksa maka dikhawatirkan di alam-alam akhirat berikutnya tidak selamat
Diantara hal yang menjadikan siksa kubur kebanyakan dari hal kebersihan dari najis air kencing, maka berhati-hatilah terutama dalam hal kebersihan
Menjaga Tradisi, Menjaga Kesadaran
Ziarah massal Desa Sambung Undaan Kudus bukan sekadar agenda rutin, tetapi sarana memperkuat ukhuwah, melestarikan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdhiyyah, serta memperdalam kesadaran spiritual masyarakat.
Semoga doa yang dipanjatkan menjadi wasilah turunnya rahmat dan ampunan bagi para ahli kubur, serta menjadi pengingat bagi kita semua untuk mempersiapkan bekal terbaik sebelum tiba saat menempati “rumah masa depan.”









