Kabarmadrasah.com- Leadership#2
Menjadi seorang pemimpin bukan sekadar memperoleh posisi, jabatan, atau kewenangan untuk mengambil keputusan. Di balik sebuah kepemimpinan yang kuat, terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: mengapa saya memilih untuk memimpin?
Pertanyaan sederhana tersebut
menjadi pintu masuk untuk memahami konsep Grand Why, salah satu unsur
dalam konsep 5G Leadership yang disampaikan Pengawas Madrasah
Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam
pembinaan Kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Kecamatan Undaan,
Rabu (5/8/2026).
Dalam materi tersebut, 5G
Leadership diperkenalkan dengan lima unsur utama, yaitu Grand Why, Gift,
Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Kelimanya menjadi rangkaian karakter
yang dapat menjadi refleksi bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah
kepemimpinannya.
Apa Itu Grand Why?
Secara sederhana, Grand Why
dapat dimaknai sebagai alasan besar yang menjadi dasar seseorang dalam
menjalankan kepemimpinan.
Seorang kepala madrasah tentu
memiliki tugas dan tanggung jawab formal. Ada administrasi yang harus
diselesaikan, program yang harus dijalankan, guru yang harus dikoordinasikan,
serta berbagai persoalan madrasah yang harus diselesaikan.
Namun, kepemimpinan tidak
seharusnya berhenti pada daftar tugas tersebut.
Di balik semua pekerjaan itu,
seorang pemimpin membutuhkan tujuan yang lebih besar: untuk apa semua itu
dilakukan? Untuk siapa kepemimpinan tersebut dijalankan? Dan perubahan seperti
apa yang ingin diwujudkan?
Di sinilah Grand Why menjadi
penting.
Pemimpin yang memiliki alasan
besar akan memiliki arah yang lebih jelas. Ia tidak mudah kehilangan semangat
ketika menghadapi persoalan karena ia mengetahui tujuan yang hendak dicapai.
Bukan Sekadar Menjalankan Jabatan
Jabatan kepala madrasah pada
dasarnya adalah amanah. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang kepala madrasah
tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak program yang terlaksana atau
seberapa rapi administrasi yang diselesaikan.
Lebih jauh, kepemimpinan perlu
dilihat dari dampaknya terhadap manusia dan lingkungan yang dipimpinnya.
Apakah guru menjadi lebih berkembang?
Apakah murid mendapatkan layanan
pendidikan yang lebih baik?
Apakah budaya kerja di madrasah
menjadi lebih positif?
Apakah masyarakat semakin percaya
kepada madrasah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
membawa seorang pemimpin dari sekadar "apa yang harus saya
kerjakan?" menuju pertanyaan yang lebih mendasar: "mengapa
saya harus melakukan semua ini?"
Itulah ruang refleksi Grand Why.
Grand Why Mengubah Cara Pemimpin Mengambil Keputusan
Alasan besar yang dimiliki
seorang pemimpin juga akan memengaruhi cara ia mengambil keputusan.
Ketika tujuan utama kepemimpinan
adalah membangun madrasah yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi murid,
guru, orang tua, serta masyarakat, maka keputusan tidak semata-mata didasarkan
pada kepentingan pribadi.
Pemimpin akan lebih
mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Misalnya, ketika menghadapi
seorang guru yang mengalami kesulitan, pemimpin dengan Grand Why tidak
terburu-buru mencari siapa yang harus disalahkan. Ia akan lebih dahulu
berpikir: bagaimana guru tersebut dapat dibantu agar berkembang?
Ketika sebuah program belum
berhasil, pertanyaannya bukan hanya "siapa yang gagal?",
tetapi juga "apa yang dapat kita pelajari dan bagaimana
memperbaikinya?"
Dengan demikian, Grand Why dapat
menjadi kompas moral dalam kepemimpinan.
Dari Jabatan Menuju Pengabdian
Dalam konteks madrasah, Grand Why
memiliki makna yang semakin kuat karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan
transfer pengetahuan.
Madrasah juga memiliki tanggung
jawab membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan generasi yang
memiliki pengetahuan sekaligus akhlak.
Karena itu, seorang kepala
madrasah perlu melihat kepemimpinannya sebagai bagian dari proses pengabdian
yang lebih luas.
Jabatan mungkin memiliki batas
waktu. Namun, jejak kepemimpinan dapat bertahan jauh lebih lama daripada
masa seseorang menduduki jabatan.
Seorang kepala madrasah mungkin
akan berganti. Tetapi budaya kerja yang telah dibangun, guru-guru yang telah
berkembang, dan murid-murid yang pernah mendapatkan inspirasi dari
kepemimpinannya dapat terus membawa pengaruh tersebut ke masa depan.
Grand Why dan Kepemimpinan Berbasis Cinta
Konsep Grand Why juga menarik
untuk dikaitkan dengan gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang turut
menjadi materi dalam pembinaan tersebut.
Kurikulum Berbasis Cinta mengajak
warga pendidikan untuk memulai perubahan dari orang dewasa. Artinya, kepala
madrasah dan guru tidak hanya dituntut memahami konsep pendidikan, tetapi juga
menghadirkan nilai-nilai tersebut melalui sikap dan keteladanan.
Di titik ini, Grand Why menjadi
pertanyaan reflektif:
Apakah saya memimpin karena
jabatan, atau karena ingin memberikan manfaat?
Jika jawabannya adalah memberikan
manfaat, maka kepemimpinan akan memiliki energi yang berbeda.
Pemimpin tidak hanya meminta orang
lain bekerja, tetapi juga berusaha menjadi teladan.
Tidak hanya memberikan instruksi,
tetapi juga memberikan dukungan.
Tidak hanya mengejar hasil,
tetapi juga memperhatikan manusia yang berada di balik proses tersebut.
Saat Pemimpin Kehilangan Grand Why
Sebaliknya, pemimpin yang
kehilangan alasan besar dalam kepemimpinannya berpotensi terjebak pada
rutinitas.
Rapat dilakukan karena jadwal.
Administrasi diselesaikan karena
kewajiban.
Program dilaksanakan karena
tuntutan.
Evaluasi dilakukan sekadar menggugurkan
kewajiban.
Semua kegiatan mungkin tetap
berjalan, tetapi kehilangan ruh dan makna.
Di sinilah pentingnya seorang
pemimpin melakukan refleksi secara berkala.
Bukan hanya bertanya:
"Apa yang sudah saya
kerjakan?"
Tetapi juga:
"Untuk apa saya
mengerjakannya?"
Pertanyaan kedua sering kali
lebih sulit, tetapi justru lebih penting.
Refleksi untuk Kepala Madrasah
Grand Why pada akhirnya bukan
sekadar konsep kepemimpinan. Ia adalah ajakan untuk kembali menemukan makna
dari amanah yang sedang dijalankan.
Setiap kepala madrasah dapat
mengambil waktu sejenak untuk menjawab lima pertanyaan sederhana:
1.
Mengapa saya menerima amanah sebagai pemimpin?
2.
Siapa yang paling ingin saya beri manfaat melalui kepemimpinan ini?
3.
Perubahan apa yang ingin saya tinggalkan di madrasah?
4.
Nilai apa yang ingin saya wariskan kepada guru dan murid?
5.
Jika suatu hari saya tidak lagi menjadi kepala madrasah, jejak apa yang
ingin tetap hidup?
Jawaban atas pertanyaan tersebut
mungkin berbeda antara satu pemimpin dan pemimpin lainnya.
Namun, satu hal yang sama: kepemimpinan
yang memiliki tujuan besar akan lebih kuat menghadapi perjalanan yang panjang.
Penutup: Pemimpin dan Alasan Besarnya
Grand Why mengajarkan bahwa
kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang alasan.
Bukan hanya tentang kekuasaan,
tetapi tentang pengabdian.
Bukan hanya tentang apa yang
dicapai hari ini, tetapi tentang warisan kebaikan yang ditinggalkan
untuk masa depan.
Karena itu, sebelum bertanya
bagaimana menjadi pemimpin yang hebat, mungkin ada pertanyaan yang lebih
mendasar untuk direnungkan:
"Untuk apa saya
memimpin?"
Ketika seorang pemimpin telah
menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, ia memiliki kompas untuk menentukan
ke mana harus melangkah, bagaimana menghadapi tantangan, dan untuk siapa
seluruh perjuangan kepemimpinannya dipersembahkan.
Itulah Grand Why: menemukan alasan besar agar kepemimpinan tidak sekadar menjadi jabatan, tetapi menjadi jalan pengabdian yang memberikan makna dan manfaat.
.jpeg)
