Kabarmadrasah.com – Leadership#9
Ada satu pertanyaan sederhana yang terkadang justru paling sulit dijawab oleh seorang pemimpin:“Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya sebelum saya meminta orang lain berubah?”
Pertanyaan ini tampak sederhana,namun, bagi seorang
pemimpin madrasah, jawabannya bisa menjadi bahan perenungan yang panjang. Sebab
memimpin bukan hanya tentang memberikan arahan kepada orang lain. Memimpin juga
berarti mengelola diri sendiri—mengelola emosi, waktu, sikap, keputusan,
komunikasi, bahkan ego.
Setelah pada Leadership #8 kita membahas lima
kesalahan kepala madrasah saat memimpin, kali ini kita memasuki ruang yang
lebih personal: refleksi kepemimpinan.
Bukan lagi tentang bagaimana melihat kesalahan
orang lain.Tetapi tentang keberanian melihat diri sendiri.
Pemimpin
Adalah Cermin Organisasi
Dalam sebuah
madrasah, perilaku pemimpin sering kali menjadi cermin bagi budaya organisasi.Jika
pemimpinnya disiplin, budaya disiplin lebih mudah tumbuh. Jika pemimpinnya
terbuka terhadap kritik, guru akan lebih berani menyampaikan gagasan. Jika
pemimpinnya mau belajar, budaya belajar akan lebih mudah berkembang.
Sebaliknya,
jika pemimpin mudah menyalahkan, budaya saling menyalahkan pun dapat tumbuh. Jika
pemimpin tidak mau mendengarkan, komunikasi organisasi menjadi satu arah. Jika
pemimpin tidak konsisten, anggota tim akan kebingungan menentukan standar. Karena
itu, perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai dari program baru. Terkadang
perubahan justru harus dimulai dari orang yang memimpin program tersebut.
Jangan Meminta Apa yang Tidak Kita Contohkan
- ·
Seorang kepala madrasah meminta guru disiplin.
- Pertanyaannya: Apakah dirinya sudah menjadi contoh kedisiplinan?
- ·
Seorang pemimpin meminta guru meningkatkan kompetensi.
- Pertanyaannya: Apakah dirinya masih mau belajar?
- ·
Pemimpin meminta komunikasi yang santun.
- Pertanyaannya: Bagaimana cara dirinya berbicara ketika sedang marah?
- ·
Pemimpin meminta guru bekerja sama.
- Pertanyaannya: Apakah dirinya mau mendengarkan pendapat orang lain?
Di sinilah keteladanan menjadi sangat penting. Sebab
manusia lebih mudah mengikuti contoh daripada sekadar mendengarkan perintah.
Kepemimpinan yang hanya berisi instruksi akan
menghasilkan kepatuhan. Tetapi kepemimpinan yang disertai keteladanan dapat
menghasilkan kesadaran.
Memimpin Diri Sendiri Tidak Mudah
Ada alasan
mengapa self-leadership menjadi salah satu kemampuan penting dalam
kepemimpinan. Memimpin orang lain terkadang lebih mudah daripada memimpin diri
sendiri. Kita bisa meminta orang lain bersabar. Tetapi apakah kita sendiri
mampu bersabar?
Kita bisa meminta orang lain mengendalikan emosi. Tetapi
apakah kita mampu mengendalikan emosi ketika keputusan kita dipertanyakan?
Kita bisa meminta orang lain menerima kritik. Tetapi
apakah kita mampu menerima kritik tanpa langsung bersikap defensif?
Di sinilah kualitas seorang pemimpin diuji. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan mengendalikan diri.
Ego: Tantangan yang Sering Tidak Terlihat
Jabatan membawa kewenangan. Dan kewenangan membawa risiko. Salah satunya adalah ego kepemimpinan. Ketika seseorang terlalu lama berada dalam posisi pengambil keputusan, ada kemungkinan muncul perasaan bahwa pendapatnya harus selalu menjadi yang paling benar. Padahal, jabatan tidak menjadikan seseorang selalu benar. Seorang kepala madrasah tetap bisa salah. Guru tetap bisa memiliki gagasan yang lebih baik. Bawahan terkadang dapat melihat persoalan yang tidak terlihat oleh pemimpin. Bahkan seorang murid pun dapat menyampaikan sesuatu yang membuat orang dewasa berpikir ulang. Maka, pemimpin perlu memiliki kerendahan hati intelektual: “Saya mungkin tidak mengetahui semuanya.”
Kalimat tersebut bukan kelemahan. Justru merupakan
tanda bahwa seorang pemimpin masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
Berani Mendengar Kritik
Salah satu
ukuran kematangan seorang pemimpin adalah bagaimana ia merespons kritik. Kritik
yang disampaikan dengan baik seharusnya tidak langsung dianggap sebagai ancaman.
Bisa jadi kritik adalah informasi yang tidak menyenangkan, tetapi justru
diperlukan. Ada kalanya seorang pemimpin tidak mengetahui bahwa komunikasi yang
disampaikannya membingungkan. Tidak mengetahui bahwa sebuah kebijakan
menimbulkan persoalan di lapangan. Tidak menyadari bahwa cara bicaranya membuat
orang lain enggan menyampaikan pendapat. Jika tidak ada orang yang berani
menyampaikan kritik, seorang pemimpin dapat hidup dalam ruang gema-hanya
mendengar hal-hal yang menyenangkan dirinya.
Dan kondisi tersebut berbahaya bagi organisasi. Pemimpin membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mengatakan: “Siap, Pak.” Tetapi juga orang yang berani mengatakan: “Mohon izin, saya memiliki pandangan yang berbeda.”
Tentu perbedaan itu harus disampaikan dengan etika.
Tetapi pemimpin juga harus menciptakan
ruang agar perbedaan tersebut dapat didengar.
Mengubah “Siapa yang Salah?” Menjadi “Apa yang Bisa Diperbaiki?”
Salah satu perubahan pola pikir yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah mengubah pertanyaan. Ketika terjadi masalah, jangan selalu berhenti pada: “Siapa yang salah?” Cobalah bertanya: “Apa yang bisa kita pelajari dari masalah ini?” Lalu: “Apa yang harus kita perbaiki?” Dan:“Bagaimana agar masalah yang sama tidak terulang?”
Perubahan pertanyaan menghasilkan perubahan budaya. Organisasi yang selalu mencari kesalahan akan dipenuhi ketakutan. Organisasi yang terbiasa melakukan refleksi akan dipenuhi pembelajaran. Tentu kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun, pertanggungjawaban dan pembelajaran tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.
Pemimpin yang Mau Berkata: “Saya Salah”
Ada satu kalimat yang sederhana tetapi membutuhkan keberanian luar biasa dari seorang pemimpin: “Saya salah.” Tidak semua pemimpin mampu mengucapkannya. Sebagian takut kehilangan wibawa. Sebagian khawatir dianggap tidak mampu. Sebagian merasa bahwa pemimpin harus selalu terlihat benar. Padahal, mengakui kesalahan justru dapat menjadi salah satu bentuk keteladanan terbaik.
Ketika kepala madrasah berani mengatakan: “Keputusan saya kemarin kurang tepat. Mari kita evaluasi dan perbaiki.” guru belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar. Di sinilah semangat Growth Mindset kembali menemukan relevansinya. Pemimpin yang bertumbuh bukan pemimpin yang tidak pernah salah. Pemimpin yang bertumbuh adalah pemimpin yang belajar dari kesalahannya.
Dari Kritik Menuju Refleksi
Refleksi
berbeda dengan menyalahkan diri sendiri.Refleksi berarti melihat kembali
pengalaman dengan jujur untuk menemukan apa yang dapat diperbaiki. Setelah
sebuah rapat yang tidak berjalan baik, misalnya, seorang pemimpin dapat
bertanya:
- Apakah tujuan rapat sudah jelas?
- Apakah semua pihak mendapatkan kesempatan
berbicara?
- Apakah saya terlalu banyak berbicara?
- Apakah saya mendengarkan?
- Apakah keputusan akhirnya dipahami semua
pihak?
Begitu pula setelah sebuah program tidak mencapai target. Bukan sekadar: “Siapa yang tidak bekerja?” Tetapi juga:
- “Apakah saya sudah memberikan arahan yang jelas?”
- “Apakah sumber dayanya cukup?”
- “Apakah pembagian tugasnya tepat?”
- “Apakah saya melakukan pendampingan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pemimpin
tidak hanya menjadi hakim, tetapi juga menjadi pembelajar.
Pemimpin Tidak Harus Selalu Berada di Depan
Ada kalanya
pemimpin perlu berada di depan untuk memberikan arah.Ada kalanya ia berada di
tengah untuk bekerja bersama. Dan ada kalanya ia perlu berada di belakang untuk
memberikan dukungan kepada tim. Kepemimpinan bukan tentang selalu menjadi orang
yang paling terlihat. Justru salah satu keberhasilan pemimpin adalah ketika tim
mampu bergerak tanpa harus selalu menunggu instruksi.
Jika setiap
keputusan kecil harus menunggu kepala madrasah, mungkin organisasi terlalu
bergantung kepada satu orang. Tetapi jika guru memiliki keberanian mengambil
inisiatif dalam koridor yang benar, itu menunjukkan bahwa pemimpin berhasil menumbuhkan
kepemimpinan di dalam tim.
Dari “Saya Memimpin” Menjadi “Kita Bertumbuh”
Inilah titik
penting dari refleksi kepemimpinan. Pemimpin tidak seharusnya menjadi pusat
dari segala sesuatu. Ia adalah pengarah, penggerak, fasilitator, sekaligus
teladan. Tujuannya bukan membuat semua orang bergantung kepadanya. Tujuannya
adalah membuat semakin banyak orang mampu berkembang dan mengambil peran.
Karena itu,
kepemimpinan yang sehat tidak menghasilkan pengikut yang takut. Ia menghasilkan
anggota tim yang percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama.
Refleksi Leadership #9
Kini saatnya
pertanyaan tersebut diarahkan kepada diri kita sendiri.
· Tentang keteladanan : Apakah saya sudah melakukan apa yang saya minta dari orang lain?
· Tentang komunikasi : Apakah saya lebih banyak berbicara atau benar-benar mendengarkan?
· Tentang kritik : Apakah orang-orang di sekitar saya merasa aman menyampaikan pendapat yang berbeda?
· Tentang kesalahan : Apakah saya berani mengakui kesalahan saya sendiri?
· Tentang ego : Apakah jabatan membuat saya sulit menerima masukan?
· Tentang pertumbuhan : Apa yang sudah saya pelajari dari kesalahan kepemimpinan saya selama ini?
Dan pertanyaan yang paling penting: “Jika saya
ingin madrasah ini berubah, perubahan apa yang harus saya mulai dari diri saya
sendiri?”
Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa
Ada pesan
penting yang layak direnungkan dalam konteks pendidikan: perubahan harus
dimulai dari orang dewasa.
Guru memiliki pengaruh terhadap murid. Kepala
madrasah memiliki pengaruh terhadap guru. Karena itu, perubahan budaya madrasah
tidak cukup hanya dilakukan dengan membuat aturan. Budaya dibangun melalui contoh
yang dilakukan berulang-ulang. Anak bukanlah cermin kata-kata kita,
melainkan cermin perilaku kita orang dewasa
- ·
Jika ingin budaya literasi tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan budaya
membaca.
- ·
Jika ingin budaya disiplin tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan
disiplin.
- ·
Jika ingin budaya saling menghargai tumbuh, orang dewasa harus
mempraktikkan penghargaan.
- ·
Jika ingin murid memiliki karakter baik, orang dewasa harus menunjukkan
karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan. Ia harus
diperlihatkan.
Bercermin Sebelum Menunjuk
Ada kalanya kita terlalu sibuk melihat apa yang
harus diperbaiki dari orang lain.
- Guru harus disiplin.
- Guru harus komunikatif.
- Guru harus kreatif.
- Guru harus bertanggung jawab.
- Guru harus mau belajar.
- Semua itu benar.
Tetapi seorang pemimpin perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana dengan saya?”
- Apakah saya sudah disiplin?
- Apakah saya komunikatif?
- Apakah saya kreatif?
- Apakah saya bertanggung jawab?
- Apakah saya masih mau belajar?
Karena perubahan yang hanya dituntut kepada orang
lain akan mudah menjadi perintah. Tetapi perubahan yang dimulai dari diri
sendiri dapat menjadi keteladanan.
Dan keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih
besar. Sebagaimana pesan dalam materi kepemimpinan: “Pemimpin yang hebat
bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar, memperbaiki diri, dan
menginspirasi tim untuk tumbuh bersama.”
- Maka, sebelum memimpin guru, pimpinlah diri sendiri.
- Sebelum meminta orang lain berubah, beranilah berubah.
- Sebelum meminta orang lain belajar, jadilah pembelajar.
Dan sebelum menuntut orang lain menjadi teladan, pastikan diri kita layak menjadi contoh. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak orang yang mengikuti kita. Kepemimpinan adalah tentang seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena pernah berjalan bersama kita.
Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "Perubahan Karakter dimulai dari Aktor Utama" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.