Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

11 September 2026

Sebelum Memimpin Orang Lain, Sudahkah Kita Memimpin Diri Sendiri?

Kabarmadrasah.com – Leadership#9

    Ada satu pertanyaan sederhana yang terkadang justru paling sulit dijawab oleh seorang pemimpin:“Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya sebelum saya meminta orang lain berubah?”


    Pertanyaan ini tampak sederhana,namun, bagi seorang pemimpin madrasah, jawabannya bisa menjadi bahan perenungan yang panjang. Sebab memimpin bukan hanya tentang memberikan arahan kepada orang lain. Memimpin juga berarti mengelola diri sendiri—mengelola emosi, waktu, sikap, keputusan, komunikasi, bahkan ego.

    Setelah pada Leadership #8 kita membahas lima kesalahan kepala madrasah saat memimpin, kali ini kita memasuki ruang yang lebih personal: refleksi kepemimpinan.

    Bukan lagi tentang bagaimana melihat kesalahan orang lain.Tetapi tentang keberanian melihat diri sendiri.

 

Pemimpin Adalah Cermin Organisasi

Dalam sebuah madrasah, perilaku pemimpin sering kali menjadi cermin bagi budaya organisasi.Jika pemimpinnya disiplin, budaya disiplin lebih mudah tumbuh. Jika pemimpinnya terbuka terhadap kritik, guru akan lebih berani menyampaikan gagasan. Jika pemimpinnya mau belajar, budaya belajar akan lebih mudah  berkembang.

Sebaliknya, jika pemimpin mudah menyalahkan, budaya saling menyalahkan pun dapat tumbuh. Jika pemimpin tidak mau mendengarkan, komunikasi organisasi menjadi satu arah. Jika pemimpin tidak konsisten, anggota tim akan kebingungan menentukan standar. Karena itu, perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai dari program baru. Terkadang perubahan justru harus dimulai dari orang yang memimpin program tersebut.

 

Jangan Meminta Apa yang Tidak Kita Contohkan

  • ·        Seorang kepala madrasah meminta guru disiplin.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya sudah menjadi contoh kedisiplinan?
  • ·        Seorang pemimpin meminta guru meningkatkan kompetensi.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya masih mau belajar?
  • ·        Pemimpin meminta komunikasi yang santun.
  • Pertanyaannya: Bagaimana cara dirinya berbicara ketika sedang marah?
  • ·        Pemimpin meminta guru bekerja sama.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya mau mendengarkan pendapat orang lain?

Di sinilah keteladanan menjadi sangat penting. Sebab manusia lebih mudah mengikuti contoh daripada sekadar mendengarkan perintah.

Kepemimpinan yang hanya berisi instruksi akan menghasilkan kepatuhan. Tetapi kepemimpinan yang disertai keteladanan dapat menghasilkan kesadaran.

 

Memimpin Diri Sendiri Tidak Mudah

Ada alasan mengapa self-leadership menjadi salah satu kemampuan penting dalam kepemimpinan. Memimpin orang lain terkadang lebih mudah daripada memimpin diri sendiri. Kita bisa meminta orang lain bersabar. Tetapi apakah kita sendiri mampu bersabar?

Kita bisa meminta orang lain mengendalikan emosi. Tetapi apakah kita mampu mengendalikan emosi ketika keputusan kita dipertanyakan?

Kita bisa meminta orang lain menerima kritik. Tetapi apakah kita mampu menerima kritik tanpa langsung bersikap defensif?

Di sinilah kualitas seorang pemimpin diuji. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan mengendalikan diri.

 

Ego: Tantangan yang Sering Tidak Terlihat

    Jabatan membawa kewenangan. Dan kewenangan membawa risiko. Salah satunya adalah ego kepemimpinan. Ketika seseorang terlalu lama berada dalam posisi pengambil keputusan, ada kemungkinan muncul perasaan bahwa pendapatnya harus selalu menjadi yang paling benar. Padahal, jabatan tidak menjadikan seseorang selalu benar. Seorang kepala madrasah tetap bisa salah. Guru tetap bisa memiliki gagasan yang lebih baik. Bawahan terkadang dapat melihat persoalan yang tidak terlihat oleh pemimpin. Bahkan seorang murid pun dapat menyampaikan sesuatu yang membuat orang dewasa berpikir ulang. Maka, pemimpin perlu memiliki kerendahan hati intelektual: “Saya mungkin tidak mengetahui semuanya.”

    Kalimat tersebut bukan kelemahan. Justru merupakan tanda bahwa seorang pemimpin masih memiliki ruang untuk bertumbuh.

 

Berani Mendengar Kritik

Salah satu ukuran kematangan seorang pemimpin adalah bagaimana ia merespons kritik. Kritik yang disampaikan dengan baik seharusnya tidak langsung dianggap sebagai ancaman. Bisa jadi kritik adalah informasi yang tidak menyenangkan, tetapi justru diperlukan. Ada kalanya seorang pemimpin tidak mengetahui bahwa komunikasi yang disampaikannya membingungkan. Tidak mengetahui bahwa sebuah kebijakan menimbulkan persoalan di lapangan. Tidak menyadari bahwa cara bicaranya membuat orang lain enggan menyampaikan pendapat. Jika tidak ada orang yang berani menyampaikan kritik, seorang pemimpin dapat hidup dalam ruang gema-hanya mendengar hal-hal yang menyenangkan dirinya.

Dan kondisi tersebut berbahaya bagi organisasi. Pemimpin membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mengatakan: “Siap, Pak.” Tetapi juga orang yang berani mengatakan: “Mohon izin, saya memiliki pandangan yang berbeda.”

Tentu perbedaan itu harus disampaikan dengan etika. Tetapi  pemimpin juga harus menciptakan ruang agar perbedaan tersebut dapat didengar.

 

Mengubah “Siapa yang Salah?” Menjadi “Apa yang Bisa Diperbaiki?”

Salah satu perubahan pola pikir yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah mengubah pertanyaan. Ketika terjadi masalah, jangan selalu berhenti pada: “Siapa yang salah?” Cobalah bertanya: “Apa yang bisa kita pelajari dari masalah ini?” Lalu: “Apa yang harus kita perbaiki?” Dan:“Bagaimana agar masalah yang sama tidak terulang?”

Perubahan pertanyaan menghasilkan perubahan budaya. Organisasi yang selalu mencari kesalahan akan dipenuhi ketakutan. Organisasi yang terbiasa melakukan refleksi akan dipenuhi pembelajaran. Tentu kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun, pertanggungjawaban dan pembelajaran tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.

 

Pemimpin yang Mau Berkata: “Saya Salah”

Ada satu kalimat yang sederhana tetapi membutuhkan keberanian luar biasa dari seorang pemimpin: “Saya salah.” Tidak semua pemimpin mampu mengucapkannya. Sebagian takut kehilangan wibawa. Sebagian khawatir dianggap tidak mampu. Sebagian merasa bahwa pemimpin harus selalu terlihat benar. Padahal, mengakui kesalahan justru dapat menjadi salah satu bentuk keteladanan terbaik.

Ketika kepala madrasah berani mengatakan: “Keputusan saya kemarin kurang tepat. Mari kita evaluasi dan perbaiki.” guru belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar. Di sinilah semangat Growth Mindset kembali menemukan relevansinya. Pemimpin yang bertumbuh bukan pemimpin yang tidak pernah salah. Pemimpin yang bertumbuh adalah pemimpin yang belajar dari kesalahannya.

 

Dari Kritik Menuju Refleksi

Refleksi berbeda dengan menyalahkan diri sendiri.Refleksi berarti melihat kembali pengalaman dengan jujur untuk menemukan apa yang dapat diperbaiki. Setelah sebuah rapat yang tidak berjalan baik, misalnya, seorang pemimpin dapat bertanya:

  • Apakah tujuan rapat sudah jelas?
  • Apakah semua pihak mendapatkan kesempatan berbicara?
  • Apakah saya terlalu banyak berbicara?
  • Apakah saya mendengarkan?
  • Apakah keputusan akhirnya dipahami semua pihak?

Begitu pula setelah sebuah program tidak mencapai target. Bukan sekadar: “Siapa yang tidak bekerja?” Tetapi juga:

  •  “Apakah saya sudah memberikan arahan yang jelas?”
  •  “Apakah sumber dayanya cukup?”
  • “Apakah pembagian tugasnya tepat?”
  • “Apakah saya melakukan pendampingan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pemimpin tidak hanya menjadi hakim, tetapi juga menjadi pembelajar.

 

Pemimpin Tidak Harus Selalu Berada di Depan

Ada kalanya pemimpin perlu berada di depan untuk memberikan arah.Ada kalanya ia berada di tengah untuk bekerja bersama. Dan ada kalanya ia perlu berada di belakang untuk memberikan dukungan kepada tim. Kepemimpinan bukan tentang selalu menjadi orang yang paling terlihat. Justru salah satu keberhasilan pemimpin adalah ketika tim mampu bergerak tanpa harus selalu menunggu instruksi.

Jika setiap keputusan kecil harus menunggu kepala madrasah, mungkin organisasi terlalu bergantung kepada satu orang. Tetapi jika guru memiliki keberanian mengambil inisiatif dalam koridor yang benar, itu menunjukkan bahwa pemimpin berhasil menumbuhkan kepemimpinan di dalam tim.

 

Dari “Saya Memimpin” Menjadi “Kita Bertumbuh”

Inilah titik penting dari refleksi kepemimpinan. Pemimpin tidak seharusnya menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia adalah pengarah, penggerak, fasilitator, sekaligus teladan. Tujuannya bukan membuat semua orang bergantung kepadanya. Tujuannya adalah membuat semakin banyak orang mampu berkembang dan mengambil peran.

Karena itu, kepemimpinan yang sehat tidak menghasilkan pengikut yang takut. Ia menghasilkan anggota tim yang percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama.

 

Refleksi Leadership #9

Kini saatnya pertanyaan tersebut diarahkan kepada diri kita sendiri.

·        Tentang keteladanan : Apakah saya sudah melakukan apa yang saya minta dari orang lain?

·        Tentang komunikasi : Apakah saya lebih banyak berbicara atau benar-benar mendengarkan?

·        Tentang kritik : Apakah orang-orang di sekitar saya merasa aman menyampaikan pendapat yang berbeda?

·        Tentang kesalahan : Apakah saya berani mengakui kesalahan saya sendiri?

·        Tentang ego : Apakah jabatan membuat saya sulit menerima masukan?

·        Tentang pertumbuhan : Apa yang sudah saya pelajari dari kesalahan kepemimpinan saya selama ini?

Dan pertanyaan yang paling penting: “Jika saya ingin madrasah ini berubah, perubahan apa yang harus saya mulai dari diri saya sendiri?”

 

Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa

Ada pesan penting yang layak direnungkan dalam konteks pendidikan: perubahan harus dimulai dari orang dewasa.

Guru memiliki pengaruh terhadap murid. Kepala madrasah memiliki pengaruh terhadap guru. Karena itu, perubahan budaya madrasah tidak cukup hanya dilakukan dengan membuat aturan. Budaya dibangun melalui contoh yang dilakukan berulang-ulang. Anak bukanlah cermin kata-kata kita, melainkan cermin perilaku kita orang dewasa

  • ·        Jika ingin budaya literasi tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan budaya membaca.
  • ·        Jika ingin budaya disiplin tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan disiplin.
  • ·        Jika ingin budaya saling menghargai tumbuh, orang dewasa harus mempraktikkan penghargaan.
  • ·        Jika ingin murid memiliki karakter baik, orang dewasa harus menunjukkan karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan. Ia harus diperlihatkan.

 

Bercermin Sebelum Menunjuk

    Ada kalanya kita terlalu sibuk melihat apa yang harus diperbaiki dari orang lain.

  •  Guru harus disiplin.
  • Guru harus komunikatif.
  •  Guru harus kreatif.
  • Guru harus bertanggung jawab.
  • Guru harus mau belajar.
  • Semua itu benar.

Tetapi seorang pemimpin perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana dengan saya?”

  •  Apakah saya sudah disiplin?
  •   Apakah saya komunikatif?
  •   Apakah saya kreatif?
  • Apakah saya bertanggung jawab?
  • Apakah saya masih mau belajar?

Karena perubahan yang hanya dituntut kepada orang lain akan mudah menjadi perintah. Tetapi perubahan yang dimulai dari diri sendiri dapat menjadi keteladanan.

Dan keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Sebagaimana pesan dalam materi kepemimpinan: “Pemimpin yang hebat bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar, memperbaiki diri, dan menginspirasi tim untuk tumbuh bersama.”

  • Maka, sebelum memimpin guru, pimpinlah diri sendiri.
  • Sebelum meminta orang lain berubah, beranilah berubah.
  • Sebelum meminta orang lain belajar, jadilah pembelajar.

Dan sebelum menuntut orang lain menjadi teladan, pastikan diri kita layak menjadi contoh. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak orang yang mengikuti kita. Kepemimpinan adalah tentang seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena pernah berjalan bersama kita.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "Perubahan Karakter dimulai dari Aktor Utama" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi. 

Baca selengkapnya ...

03 September 2026

5 Kesalahan Kepala Madrasah Saat Memimpin: Ketika Kebiasaan Kecil Menghambat Kemajuan

Kabarmadrasah.com –Leadership#8

Menjadi kepala madrasah bukan sekadar memiliki jabatan. Di balik sebuah jabatan terdapat tanggung jawab untuk menggerakkan manusia, membangun budaya kerja, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta memastikan madrasah terus bertumbuh. Karena itu, kepemimpinan tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak program yang berhasil dilaksanakan. Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari bagaimana seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.


  • ·        Apakah guru merasa dihargai?
  • ·        Apakah komunikasi berjalan terbuka?
  • ·        Apakah pemimpin menjadi teladan?
  • ·        Apakah setiap orang memahami arah yang sedang dituju?

·        Dan apakah kepala madrasah hadir bukan hanya ketika administrasi harus diselesaikan, tetapi juga ketika guru dan murid membutuhkan dukungan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting ketika Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan materi “5 Kesalahan Kepala Sekolah Saat Memimpin” dalam pembinaan kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Materi tersebut bukan semata-mata daftar kesalahan. Ia lebih tepat dipahami sebagai cermin untuk melakukan refleksi kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik bukan pemimpin yang tidak pernah melakukan kesalahan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau menyadari, mengevaluasi, dan memperbaiki kesalahannya.

1. Terlalu Sering Menyalahkan

Ketika sebuah program tidak berjalan sesuai harapan, respons pertama seorang pemimpin menjadi sangat penting. Ada pemimpin yang langsung bertanya: “Siapa yang salah?” Namun ada pula pemimpin yang bertanya: “Apa yang menyebabkan ini terjadi dan bagaimana kita memperbaikinya?”

Dua pertanyaan tersebut menghasilkan budaya organisasi yang berbeda. Jika pemimpin terlalu sering mencari siapa yang salah, anggota tim akan belajar untuk melindungi diri. Ketika muncul masalah, mereka sibuk mencari alasan. Ketika program gagal, mereka mencari pihak lain untuk dijadikan penyebab. Pada akhirnya, energi organisasi habis bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk mencari kambing hitam. Padahal, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya penyelesaian masalah.

Tentu bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Akuntabilitas tetap penting. Namun, akuntabilitas yang sehat harus disertai evaluasi dan pembelajaran.Pertanyaan utamanya bukan hanya: “Siapa yang salah?” Tetapi: “Apa yang harus kita perbaiki agar kesalahan ini tidak terulang?”

 

2. Tidak Mau Mendengarkan

Pemimpin memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. Tetapi kewenangan tidak berarti pemimpin harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Kadang-kadang, kualitas seorang pemimpin justru terlihat dari kemampuannya mendengarkan.

Guru memiliki pengalaman di kelas. Tenaga kependidikan mengetahui persoalan administrasi. Murid memiliki pengalaman belajar. Orang tua memiliki perspektif terhadap pelayanan madrasah. Semua itu merupakan sumber informasi yang berharga. Ketika pemimpin tidak mau mendengarkan, informasi yang sampai kepadanya akan semakin sedikit. Akibatnya, keputusan bisa saja terlihat benar di atas meja, tetapi tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui.

Pemimpin tetap memiliki hak untuk menentukan keputusan. Namun sebelum memutuskan, ia perlu memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Pemimpin yang mau mendengarkan sedang membangun satu hal yang sangat penting: kepercayaan.

3. Tidak Menjadi Teladan

Guru adalah teladan bagi murid. Tetapi sebelum guru menjadi teladan bagi murid, seorang pemimpin perlu menjadi teladan bagi guru. Inilah salah satu prinsip paling sederhana sekaligus paling sulit dalam kepemimpinan: Apa yang dilakukan pemimpin sering kali lebih kuat daripada apa yang dikatakannya.

·        Jika pemimpin meminta disiplin, tetapi dirinya tidak disiplin, pesan tersebut kehilangan kekuatan.

·        Jika pemimpin meminta guru datang tepat waktu, tetapi dirinya sendiri sering terlambat, akan muncul pertanyaan tentang konsistensi.

·        Jika pemimpin meminta guru menjalankan aturan, tetapi dirinya sendiri mengabaikannya, kewibawaan kepemimpinan akan berkurang.

Keteladanan tidak selalu berupa tindakan besar.

  • ·        Datang tepat waktu.
  • ·        Menepati janji.
  • ·        Menghargai orang lain.
  • ·        Berbicara santun.
  • ·        Mengakui kesalahan.
  • ·        Meminta maaf ketika keliru.
  • ·        Memberikan apresiasi.

·        Bahkan bersedia turun tangan ketika tim menghadapi kesulitan.

Hal-hal sederhana tersebut justru menjadi bahasa kepemimpinan yang paling mudah dipahami.

4. Komunikasi Tidak Jelas

Banyak persoalan dalam organisasi sebenarnya bukan karena orang tidak mau bekerja. Kadang mereka tidak memahami apa yang harus dikerjakan. Instruksi yang berubah-ubah. Informasi yang tidak lengkap. Tujuan yang tidak dijelaskan. Pembagian tugas yang tidak jelas. Batas waktu yang tidak tegas. Semua itu dapat membuat pekerjaan berjalan tanpa arah yang sama. Pemimpin perlu memahami bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan perintah. Komunikasi harus memastikan bahwa pesan dipahami.

Jika kepala madrasah mengatakan: “Tolong program ini segera dilaksanakan.”

Pertanyaannya: Program apa? Siapa yang bertanggung jawab? Kapan dilaksanakan? Apa targetnya? Bagaimana indikator keberhasilannya?

Tanpa kejelasan tersebut, sebuah instruksi dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda. Karena itu, pemimpin perlu membangun komunikasi yang jelas, terbuka, konsisten, dan dua arah. Dan sekali lagi, komunikasi yang baik bukan hanya tentang kemampuan berbicara. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan.

 

5. Hanya Fokus pada Administrasi

Administrasi adalah bagian penting dalam pengelolaan madrasah.Dokumen harus tertata. Program harus terdokumentasi.Laporan harus diselesaikan. Data harus akurat.Namun, ada bahaya ketika kepemimpinan berhenti pada administrasi. Madrasah bukan sekadar kumpulan dokumen. Madrasah adalah organisasi pendidikan yang di dalamnya terdapat manusia. Ada guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan masyarakat. Karena itu, kepala madrasah tidak cukup hanya memastikan bahwa laporan selesai. Ia juga perlu memastikan:

  • ·        Apakah guru berkembang?
  • ·        Apakah pembelajaran semakin baik?
  • ·        Apakah murid merasa aman dan nyaman?
  • ·        Apakah budaya kerja semakin sehat?
  • ·        Apakah program yang dibuat benar-benar memberikan dampak?

Administrasi seharusnya menjadi alat untuk mendukung peningkatan mutu, bukan tujuan akhir kepemimpinan.

 

Lima Kesalahan, Satu Benang Merah

Jika kelima kesalahan tersebut diperhatikan, sebenarnya terdapat satu benang merah. Kepemimpinan yang terlalu berpusat pada diri sendiri. Terlalu sering menyalahkan membuat pemimpin berfokus pada kesalahan orang lain. Tidak mau mendengarkan membuat pemimpin berfokus pada pikirannya sendiri. Tidak menjadi teladan membuat pemimpin menuntut orang lain tanpa menuntut dirinya sendiri. Komunikasi tidak jelas membuat pemimpin gagal memastikan orang lain memahami arah yang dituju. Sementara terlalu fokus pada administrasi dapat membuat pemimpin lupa bahwa inti madrasah adalah manusia dan proses pendidikan. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan perubahan perspektif: dari “saya” menuju “kita”.

 

Pemimpin yang Hebat Bukan yang Selalu Benar

Pesan penutup pada materi memberikan perspektif yang sangat menarik: “Pemimpin yang hebat bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar, memperbaiki diri, dan menginspirasi tim untuk tumbuh bersama.”

Kalimat ini penting karena membongkar anggapan bahwa seorang pemimpin harus selalu terlihat sempurna. Tidak. Pemimpin juga manusia.

  • ·        Ia bisa keliru.
  • ·        Ia bisa salah mengambil keputusan.
  • ·        Ia bisa kurang tepat berkomunikasi.
  • ·        Ia bisa terlambat memahami sebuah persoalan.

Yang membedakan adalah apa yang dilakukan setelah menyadari kesalahan tersebut.

  • ·        Apakah ia mencari pembenaran?
  • ·        Atau melakukan refleksi?
  • ·        Apakah ia menyalahkan orang lain?
  • ·        Atau mengambil tanggung jawab?
  • ·        Apakah ia mempertahankan ego?
  • ·        Atau bersedia belajar?

Di situlah kualitas kepemimpinan diuji.

 

Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa

Menariknya, materi pembinaan tersebut juga mengarah pada refleksi mendalam tentang Kurikulum Berbasis Cinta: “Memulai Perubahan dari Orang Dewasa.”

Pesan ini memiliki hubungan yang kuat dengan kepemimpinan. Jika kita menginginkan guru yang disiplin, pemimpin harus memberi contoh disiplin. Jika kita menginginkan guru yang mau belajar, pemimpin harus menjadi pembelajar. Jika kita menginginkan komunikasi yang santun, pemimpin harus menunjukkan komunikasi yang santun. Jika kita menginginkan budaya saling menghargai, pemimpin harus terlebih dahulu menghargai orang lain.

Perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai dengan program baru. Kadang perubahan justru dimulai dari perubahan perilaku orang dewasa yang memimpin.

 

Refleksi Leadership #8

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

1. Ketika terjadi kesalahan, apakah saya lebih cepat mencari siapa yang salah daripada mencari solusi?

2. Apakah guru merasa nyaman menyampaikan pendapat yang berbeda kepada saya?

3. Apakah perilaku saya sudah sesuai dengan aturan yang saya tuntut dari orang lain?

4. Apakah instruksi dan komunikasi saya sudah cukup jelas?

5. Apakah saya terlalu sibuk dengan administrasi hingga kurang hadir dalam persoalan guru dan murid?

6. Jika ada kritik terhadap kepemimpinan saya, apakah saya menerimanya sebagai ancaman atau sebagai bahan belajar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ditujukan untuk menghakimi. Justru sebaliknya. Ia adalah cermin. Dan setiap pemimpin sesekali membutuhkan cermin untuk melihat apakah dirinya masih berada di jalan yang benar.

 

Memimpin Bukan Tentang Kesempurnaan

Lima kesalahan dalam kepemimpinan bukanlah daftar untuk mencari siapa yang paling banyak melakukan kesalahan. Ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan selalu membutuhkan evaluasi.

Pemimpin yang hebat bukan orang yang tidak pernah salah. Pemimpin yang hebat adalah orang yang ketika salah, berani mengakuinya. Ketika dikritik, mau mendengarkan. Ketika menghadapi persoalan, tidak mencari kambing hitam. Ketika memberikan aturan, bersedia menjadi teladan. Ketika berkomunikasi, berusaha memastikan pesan benar-benar dipahami. Dan ketika mengelola administrasi, tidak lupa bahwa di balik setiap dokumen terdapat manusia yang harus dilayani dan dikembangkan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala madrasah bukan hanya terlihat dari tebalnya laporan atau banyaknya program.

Keberhasilan kepemimpinan akan jauh lebih terasa ketika: guru tumbuh, murid berkembang, tim semakin solid, komunikasi semakin sehat, dan madrasah bergerak maju bersama. Maka, sebelum bertanya: “Apa yang harus diperbaiki di madrasah saya?” seorang pemimpin mungkin perlu terlebih dahulu bertanya: “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?”

Karena sering kali, perubahan terbesar di sebuah madrasah dimulai bukan dari meja rapat, bukan dari dokumen program, melainkan dari keberanian seorang pemimpin untuk bercermin.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5 Kesalahan Kepala Madrasah Saat Memimpin" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.

Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com