Kabarmadrasah.com-Leadership#10
“Jangan ukur kepemimpinan hanya dari apa yang berhasil kita kerjakan hari ini. Ukurlah dari apa yang tetap tumbuh ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.”
Setelah berbicara panjang tentang kepemimpinan, ada satu tahap yang tidak boleh dilewatkan: aksi. Sebab seorang pemimpin tidak dinilai hanya dari seberapa baik ia memahami teori, seberapa banyak ia mengetahui konsep kepemimpinan, atau seberapa sering ia memberikan nasihat kepada orang lain. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan akan terlihat dari perubahan nyata yang terjadi pada dirinya, pada tim yang dipimpinnya, dan pada lingkungan tempat ia bekerja.
Perjalanan
pada seri-seri sebelumnya telah membawa kita mengenal gagasan 5G Leadership:
Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Kita kemudian
diajak melihat sisi lain kepemimpinan melalui pembahasan tentang pemimpin yang
pengecut, kesalahan kepala madrasah dalam memimpin, pentingnya komunikasi,
keteladanan, serta keberanian seorang pemimpin untuk melakukan refleksi
terhadap dirinya sendiri.
Kini
pertanyaannya bukan lagi sekadar apa itu kepemimpinan. Pertanyaan yang lebih
penting adalah: apa yang akan kita lakukan setelah memahami semua itu?
Sebab
refleksi yang tidak diikuti perubahan hanya akan berhenti sebagai renungan.
Pengetahuan yang tidak diterjemahkan menjadi perilaku tidak akan banyak
mengubah keadaan. Dan kepemimpinan yang hanya berhenti pada jabatan akan
kehilangan makna terbesarnya. Kepemimpinan harus bergerak dari pemahaman
menuju tindakan.
Pemimpin
Tidak Harus Mengerjakan Semuanya
Dalam
kehidupan sebuah madrasah, kepala madrasah memang memiliki tanggung jawab
besar. Ia harus memastikan program berjalan, mengoordinasikan guru dan tenaga
kependidikan, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, sekaligus menjaga
arah lembaga agar tetap sesuai dengan tujuan pendidikan. Namun, ada satu
jebakan yang terkadang tidak disadari oleh seorang pemimpin: merasa bahwa semua
persoalan harus diselesaikan sendiri.
Pada
awalnya, pola tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk tanggung jawab. Pemimpin
menjadi orang pertama yang turun tangan ketika ada masalah. Semua keputusan
berada di tangannya. Semua persoalan datang kepadanya. Tetapi jika berlangsung
terus-menerus, organisasi justru dapat menjadi terlalu bergantung kepada satu
orang.
Guru
terbiasa menunggu perintah. Tim ragu mengambil keputusan. Inisiatif menjadi
lemah karena setiap langkah harus menunggu persetujuan pemimpin.
Di sinilah
pemimpin perlu mengubah cara pandangnya. Tugas seorang pemimpin bukan menjadi
satu-satunya orang yang mampu bekerja, tetapi menciptakan lingkungan yang
membuat semakin banyak orang mampu bekerja dan mengambil tanggung jawab.
Pemimpin
yang berhasil bukanlah orang yang membuat dirinya menjadi pusat dari segala
aktivitas. Ia justru mampu membangun sistem dan menumbuhkan orang-orang yang
dapat bergerak bersama.
Dari “Saya”
Menuju “Kita”
Perubahan
budaya kepemimpinan sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
cara pemimpin menggunakan bahasa. Ada perbedaan suasana ketika seorang pemimpin
mengatakan, “Ini program saya,” dengan ketika ia mengatakan, “Ini
program kita.” Kata “saya” menempatkan pemimpin sebagai pusat. Sementara
kata “kita” membuka ruang bagi orang lain untuk merasa memiliki.
Demikian
pula ketika sebuah persoalan muncul. Pemimpin dapat memilih mengatakan, “Siapa
yang bertanggung jawab atas masalah ini?” atau mengubahnya menjadi, “Mari
kita lihat bersama apa yang terjadi dan bagaimana kita menyelesaikannya.”
Perbedaannya
bukan sekadar pilihan kata. Di baliknya terdapat cara berpikir tentang manusia
yang dipimpin.
Pemimpin
yang selalu menempatkan dirinya sebagai pusat akan lebih mudah membangun
organisasi yang bergantung kepada dirinya. Sebaliknya, pemimpin yang membangun
semangat kebersamaan akan lebih mudah menciptakan sense of ownership,
yaitu rasa memiliki terhadap pekerjaan dan lembaga.
Ketika guru
merasa bahwa madrasah adalah milik bersama, pekerjaan tidak lagi dipandang
sekadar sebagai tugas dari atasan. Ia mulai dipahami sebagai bagian dari
tanggung jawab bersama untuk membangun pendidikan.
Budaya
Madrasah Tidak Cukup Dibangun dengan Slogan
Di banyak
lembaga pendidikan, kita mudah menemukan kata-kata indah tentang disiplin,
integritas, profesionalisme, kolaborasi, pelayanan, dan karakter. Semua itu
penting. Tetapi budaya tidak lahir hanya karena sebuah slogan dipasang di
dinding.
Budaya lahir
dari perilaku yang dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya menjadi kebiasaan.
Jika sebuah
madrasah ingin membangun budaya disiplin, maka disiplin harus terlihat dalam
keseharian para pemimpinnya. Jika ingin membangun budaya komunikasi yang sehat,
pemimpin harus menunjukkan bagaimana cara berbicara dan mendengarkan dengan
baik. Jika ingin membangun budaya belajar, pemimpin tidak boleh berhenti
belajar. Dan jika ingin membangun budaya saling menghargai, penghargaan
tersebut harus terlebih dahulu hadir dalam hubungan antara pemimpin dengan
orang-orang yang dipimpinnya.
Karena itu,
seorang pemimpin perlu memahami bahwa budaya organisasi tidak terutama
dibentuk oleh apa yang dikatakan pemimpin, tetapi oleh apa yang secara
konsisten dilakukan dan ditoleransi oleh pemimpin.
Apa yang
terus dilakukan akan menjadi kebiasaan. Apa yang terus ditoleransi akan menjadi
budaya.
Berikan
Ruang untuk Berbeda Pendapat
Madrasah
yang sehat bukan madrasah yang seluruh orangnya selalu sepakat dengan pemimpin.
Justru organisasi yang sehat membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat.
Guru yang
memiliki pandangan berbeda seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai orang
yang sulit diarahkan. Bisa jadi ia sedang melihat persoalan dari sudut yang
belum terlihat oleh pemimpin.
Dalam sebuah
rapat, misalnya, ketika seorang guru mengatakan, “Mohon izin, saya mempunyai
pandangan yang berbeda,” pemimpin memiliki pilihan untuk memotong pembicaraan
atau memberikan ruang untuk mendengarkan alasan di balik perbedaan tersebut. Mendengarkan
bukan berarti harus menyetujui.
Pemimpin
tetap memiliki kewenangan untuk menentukan keputusan akhir. Namun, proses
menuju keputusan akan menjadi lebih sehat ketika setiap pihak memiliki
kesempatan menyampaikan argumen secara rasional dan santun. Justru dari
perbedaan itulah organisasi dapat menemukan alternatif yang lebih baik.
Sebaliknya,
ketika semua orang takut berbicara, rapat mungkin terlihat tenang, tetapi ketenangan
tersebut belum tentu menunjukkan kesehatan organisasi. Bisa jadi orang-orang
hanya belajar bahwa pendapat yang berbeda tidak memiliki tempat.
Kepercayaan
Adalah Investasi Kepemimpinan
Seorang
pemimpin tidak akan mampu membangun tim yang kuat tanpa memberikan kepercayaan.Kepercayaan
memang memiliki risiko. Orang yang diberi tanggung jawab bisa saja melakukan
kesalahan. Program yang dipercayakan kepada seseorang mungkin tidak langsung
berhasil. Keputusan yang diambil oleh tim mungkin berbeda dari apa yang
dipikirkan pemimpin.
Namun, tanpa
kesempatan, seseorang juga tidak akan pernah belajar mengambil tanggung jawab. Karena
itu, memberikan kepercayaan bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa
arah. Pemimpin tetap perlu memberikan tujuan, batas kewenangan, pendampingan,
dan evaluasi. Yang dihindari adalah kebiasaan mengendalikan setiap detail
pekerjaan sampai orang yang diberi tugas tidak memiliki ruang untuk berpikir.
Guru yang
dipercaya akan belajar bertanggung jawab. Guru yang diberi kesempatan akan
belajar mengambil keputusan. Dan guru yang mendapatkan ruang untuk berkembang
akan memiliki peluang menjadi penggerak bagi orang lain.
Di sinilah
prinsip Gift dalam 5G Leadership menemukan bentuk praktisnya: pemimpin
bukan hanya melihat seseorang berdasarkan posisi yang sedang ditempatinya,
tetapi juga berdasarkan potensi yang dapat dikembangkan.
Evaluasi
Tidak Harus Menjadi Penghakiman
Dalam
perjalanan sebuah organisasi, kesalahan adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Program
tidak selalu berhasil. Target tidak selalu tercapai. Komunikasi kadang
mengalami hambatan. Bahkan keputusan seorang pemimpin pun tidak selalu tepat. Karena
itu, budaya evaluasi menjadi penting. Namun, evaluasi akan kehilangan
manfaatnya jika hanya digunakan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Ketika
sebuah kegiatan tidak berjalan sesuai harapan, pemimpin dapat memilih bertanya,
“Siapa yang salah?” Tetapi pemimpin juga dapat mengambil pendekatan yang
lebih konstruktif dengan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa hal
itu terjadi, dan apa yang harus kita perbaiki?”
Pertanyaan
kedua tidak berarti menghapus tanggung jawab. Jika ada kesalahan yang memang
harus dipertanggungjawabkan, tentu harus ada pertanggungjawaban. Namun,
organisasi juga perlu mendapatkan pembelajaran dari kesalahan tersebut.
Dengan cara
demikian, kesalahan tidak hanya menghasilkan hukuman, tetapi juga menghasilkan pengetahuan
baru untuk perbaikan. Inilah karakter organisasi pembelajar: pengalaman
tidak dibiarkan berlalu begitu saja, tetapi diolah menjadi pelajaran.
Pemimpin Harus
Menumbuhkan Pemimpin Baru
Ada ukuran
keberhasilan seorang pemimpin yang jauh lebih penting daripada sekadar
banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
Ukuran tersebut adalah: apakah orang-orang yang
dipimpinnya menjadi lebih mampu?
Jika seorang
kepala madrasah mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi tidak
meninggalkan orang-orang yang mampu melanjutkan pekerjaannya, maka keberhasilan
itu belum sepenuhnya berkelanjutan.
Sebaliknya,
jika guru-guru semakin berani mengambil inisiatif, semakin mampu menyelesaikan
persoalan, semakin percaya diri memimpin kegiatan, dan semakin siap bertanggung
jawab, maka sesungguhnya sedang terjadi proses regenerasi kepemimpinan.
Pemimpin yang baik tidak takut melihat orang lain
tumbuh. Ia tidak merasa kehilangan wibawa ketika seorang guru memiliki
kemampuan yang lebih baik dalam bidang tertentu. Justru ia merasa berhasil
ketika orang-orang di sekelilingnya berkembang.
Karena pada akhirnya, pemimpin yang hebat bukan
yang membuat dirinya semakin besar, tetapi yang membuat orang-orang di
sekitarnya semakin kuat.
Kembali
kepada 5G Leadership
Jika
perjalanan seri ini kita tarik kembali ke gagasan awal tentang 5G Leadership,
kita akan menemukan hubungan yang menarik.
Grand Why memberikan
arah. Seorang pemimpin harus mengetahui untuk apa lembaga ini bergerak dan
mengapa perjuangan tersebut penting.
·
Gift mengingatkan bahwa setiap orang memiliki potensi. Tugas pemimpin bukan
hanya mengatur manusia, tetapi menemukan dan mengembangkan potensi tersebut.
·
Grind mengajarkan bahwa perubahan tidak lahir dari semangat sesaat. Budaya
yang baik membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan kesediaan untuk terus bekerja
meskipun hasil belum langsung terlihat.
·
Growth
Mindset membuat pemimpin dan tim tidak takut belajar dari
kesalahan. Kegagalan tidak dilihat sebagai identitas, tetapi sebagai pengalaman
yang dapat digunakan untuk berkembang.
·
Great Hope menjaga agar organisasi tidak kehilangan harapan ketika menghadapi
tantangan. Pemimpin perlu mampu melihat bahwa keadaan yang belum ideal bukan
berarti tidak mungkin diperbaiki.
Kelima unsur tersebut bukan sekadar konsep yang indah untuk dibaca. Nilainya justru muncul ketika diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.
Pemimpin yang Mengubah Budaya
Perubahan
sebuah madrasah tidak selalu dimulai dengan program besar. Terkadang ia dimulai
dari kepala madrasah yang bersedia mendengarkan guru lebih lama.
- ·
Dari seorang
pemimpin yang berani mengakui kesalahan.
- ·
Dari rapat
yang memberikan ruang bagi perbedaan pendapat.
- ·
Dari guru
yang diberi kepercayaan untuk mengembangkan gagasannya.
- ·
Dari
evaluasi yang tidak mempermalukan.
- ·
Dari
apresiasi yang diberikan secara tulus.
- ·
Dari
kebiasaan belajar yang terus dijaga.
Perubahan-perubahan kecil tersebut, ketika
dilakukan secara konsisten, dapat membentuk sesuatu yang jauh lebih besar: budaya
madrasah. Dan ketika budaya telah berubah, perubahan tidak lagi bergantung
pada satu orang. Ia mulai hidup dalam kebiasaan seluruh warga madrasah.
Apa yang
Akan Kita Tinggalkan?
Pada
akhirnya, setiap pemimpin akan sampai pada titik ketika masa jabatannya
selesai. Kursi kepemimpinan akan berganti. Struktur organisasi akan berubah.
Program akan diteruskan atau diperbarui. Nama pemimpin perlahan akan menjadi
bagian dari sejarah. Namun, ada sesuatu yang dapat bertahan jauh lebih lama
daripada jabatan: pengaruh.
Seorang guru
mungkin masih mengingat pemimpin yang pernah memberinya kesempatan ketika ia
belum percaya diri. Seorang anggota tim mungkin masih membawa kebiasaan baik
yang dahulu ia pelajari dari pemimpinnya. Bahkan budaya kerja yang dibangun
bertahun-tahun dapat terus hidup meskipun orang yang pertama kali menanamkannya
sudah tidak lagi berada di dalam organisasi.
Karena itu,
pertanyaan penting bagi seorang pemimpin bukan hanya tentang berapa lama ia
memegang jabatan. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:
Ketika saya tidak lagi berada di posisi ini, apa
yang masih hidup dari cara saya memimpin?
·
Jika yang
tersisa hanyalah aturan, mungkin kepemimpinan kita hanya menghasilkan
kepatuhan.
·
Jika yang
tersisa adalah ketergantungan, mungkin kita belum berhasil membangun tim.
·
Tetapi jika
yang tersisa adalah budaya belajar, keberanian, kolaborasi, integritas,
keteladanan, dan orang-orang yang mampu melanjutkan kebaikan, maka di situlah
kepemimpinan meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada masa jabatan.
Dari Jabatan Menuju Pengabdian
Kepemimpinan
pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang berada di posisi paling tinggi. Ia
adalah tentang siapa yang bersedia mengambil tanggung jawab untuk membuat
keadaan menjadi lebih baik.
Seorang
kepala madrasah memang memiliki jabatan formal. Namun kepemimpinan yang
sesungguhnya baru terasa ketika jabatan tersebut diterjemahkan menjadi
pelayanan, keteladanan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun
manusia, dan kesediaan memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang.
Maka,
setelah melalui rangkaian pembahasan tentang 5G Leadership dan berbagai wajah
kepemimpinan, kita sampai pada satu kesimpulan sederhana: kepemimpinan tidak
selesai ketika kita memahami bagaimana cara memimpin. Kepemimpinan justru
dimulai ketika kita mulai mempraktikkannya.
- ·
Dari
refleksi menuju aksi.
- ·
Dari
individu menuju tim.
- ·
Dari
instruksi menuju pemberdayaan.
- ·
Dari jabatan
menuju pengabdian.
- ·
Dan dari
kepemimpinan seseorang menuju budaya kepemimpinan bersama.
Pemimpin mungkin tidak dapat mengubah seluruh
keadaan dalam satu malam. Ia juga tidak selalu memiliki jawaban untuk setiap
persoalan. Namun, seorang pemimpin selalu memiliki pilihan tentang bagaimana ia
bersikap ketika menghadapi persoalan tersebut.
- ·
Ia dapat
memilih menyalahkan atau mencari solusi.
- ·
Ia dapat
memilih menutup ruang dialog atau membuka kesempatan untuk mendengar.
- ·
Ia dapat
memilih memusatkan semua keputusan pada dirinya atau mulai mempercayai tim.
- ·
Ia dapat
memilih mempertahankan cara lama atau berani belajar.
- ·
Dan ia dapat
memilih sekadar mempertahankan jabatan atau menggunakan jabatan tersebut untuk menumbuhkan
manusia.
Pada titik inilah kepemimpinan menemukan maknanya. Pemimpin
yang baik tidak hanya meninggalkan program yang pernah dijalankan. Ia
meninggalkan manusia yang lebih baik, tim yang lebih kuat, dan budaya yang
mampu terus bertumbuh.
Karena pada akhirnya, jabatan memiliki batas
waktu, tetapi jejak kepemimpinan dapat hidup jauh lebih lama.
