Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

21 August 2026

Grand Why: Pemimpin Harus Memiliki Alasan Besar dalam Mengabdi

Kabarmadrasah.com- Leadership#2

Menjadi seorang pemimpin bukan sekadar memperoleh posisi, jabatan, atau kewenangan untuk mengambil keputusan. Di balik sebuah kepemimpinan yang kuat, terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: mengapa saya memilih untuk memimpin?


Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami konsep Grand Why, salah satu unsur dalam konsep 5G Leadership yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam pembinaan Kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Rabu (5/8/2026).

Dalam materi tersebut, 5G Leadership diperkenalkan dengan lima unsur utama, yaitu Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Kelimanya menjadi rangkaian karakter yang dapat menjadi refleksi bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah kepemimpinannya.

Apa Itu Grand Why?

Secara sederhana, Grand Why dapat dimaknai sebagai alasan besar yang menjadi dasar seseorang dalam menjalankan kepemimpinan.

Seorang kepala madrasah tentu memiliki tugas dan tanggung jawab formal. Ada administrasi yang harus diselesaikan, program yang harus dijalankan, guru yang harus dikoordinasikan, serta berbagai persoalan madrasah yang harus diselesaikan.

Namun, kepemimpinan tidak seharusnya berhenti pada daftar tugas tersebut.

Di balik semua pekerjaan itu, seorang pemimpin membutuhkan tujuan yang lebih besar: untuk apa semua itu dilakukan? Untuk siapa kepemimpinan tersebut dijalankan? Dan perubahan seperti apa yang ingin diwujudkan?

Di sinilah Grand Why menjadi penting.

Pemimpin yang memiliki alasan besar akan memiliki arah yang lebih jelas. Ia tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi persoalan karena ia mengetahui tujuan yang hendak dicapai.

Bukan Sekadar Menjalankan Jabatan

Jabatan kepala madrasah pada dasarnya adalah amanah. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang kepala madrasah tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak program yang terlaksana atau seberapa rapi administrasi yang diselesaikan.

Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari dampaknya terhadap manusia dan lingkungan yang dipimpinnya.

Apakah guru menjadi lebih berkembang?

Apakah murid mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik?

Apakah budaya kerja di madrasah menjadi lebih positif?

Apakah masyarakat semakin percaya kepada madrasah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa seorang pemimpin dari sekadar "apa yang harus saya kerjakan?" menuju pertanyaan yang lebih mendasar: "mengapa saya harus melakukan semua ini?"

Itulah ruang refleksi Grand Why.


Grand Why Mengubah Cara Pemimpin Mengambil Keputusan

Alasan besar yang dimiliki seorang pemimpin juga akan memengaruhi cara ia mengambil keputusan.

Ketika tujuan utama kepemimpinan adalah membangun madrasah yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi murid, guru, orang tua, serta masyarakat, maka keputusan tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan pribadi.

Pemimpin akan lebih mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Misalnya, ketika menghadapi seorang guru yang mengalami kesulitan, pemimpin dengan Grand Why tidak terburu-buru mencari siapa yang harus disalahkan. Ia akan lebih dahulu berpikir: bagaimana guru tersebut dapat dibantu agar berkembang?

Ketika sebuah program belum berhasil, pertanyaannya bukan hanya "siapa yang gagal?", tetapi juga "apa yang dapat kita pelajari dan bagaimana memperbaikinya?"

Dengan demikian, Grand Why dapat menjadi kompas moral dalam kepemimpinan.


Dari Jabatan Menuju Pengabdian

Dalam konteks madrasah, Grand Why memiliki makna yang semakin kuat karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan.

Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus akhlak.

Karena itu, seorang kepala madrasah perlu melihat kepemimpinannya sebagai bagian dari proses pengabdian yang lebih luas.

Jabatan mungkin memiliki batas waktu. Namun, jejak kepemimpinan dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa seseorang menduduki jabatan.

Seorang kepala madrasah mungkin akan berganti. Tetapi budaya kerja yang telah dibangun, guru-guru yang telah berkembang, dan murid-murid yang pernah mendapatkan inspirasi dari kepemimpinannya dapat terus membawa pengaruh tersebut ke masa depan.


Grand Why dan Kepemimpinan Berbasis Cinta

Konsep Grand Why juga menarik untuk dikaitkan dengan gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang turut menjadi materi dalam pembinaan tersebut.

Kurikulum Berbasis Cinta mengajak warga pendidikan untuk memulai perubahan dari orang dewasa. Artinya, kepala madrasah dan guru tidak hanya dituntut memahami konsep pendidikan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai tersebut melalui sikap dan keteladanan.

Di titik ini, Grand Why menjadi pertanyaan reflektif:

Apakah saya memimpin karena jabatan, atau karena ingin memberikan manfaat?

Jika jawabannya adalah memberikan manfaat, maka kepemimpinan akan memiliki energi yang berbeda.

Pemimpin tidak hanya meminta orang lain bekerja, tetapi juga berusaha menjadi teladan.

Tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga memberikan dukungan.

Tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memperhatikan manusia yang berada di balik proses tersebut.


Saat Pemimpin Kehilangan Grand Why

Sebaliknya, pemimpin yang kehilangan alasan besar dalam kepemimpinannya berpotensi terjebak pada rutinitas.

Rapat dilakukan karena jadwal.

Administrasi diselesaikan karena kewajiban.

Program dilaksanakan karena tuntutan.

Evaluasi dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Semua kegiatan mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan ruh dan makna.

Di sinilah pentingnya seorang pemimpin melakukan refleksi secara berkala.

Bukan hanya bertanya:

"Apa yang sudah saya kerjakan?"

Tetapi juga:

"Untuk apa saya mengerjakannya?"

Pertanyaan kedua sering kali lebih sulit, tetapi justru lebih penting.


Refleksi untuk Kepala Madrasah

Grand Why pada akhirnya bukan sekadar konsep kepemimpinan. Ia adalah ajakan untuk kembali menemukan makna dari amanah yang sedang dijalankan.

Setiap kepala madrasah dapat mengambil waktu sejenak untuk menjawab lima pertanyaan sederhana:

1.  Mengapa saya menerima amanah sebagai pemimpin?

2.  Siapa yang paling ingin saya beri manfaat melalui kepemimpinan ini?

3.  Perubahan apa yang ingin saya tinggalkan di madrasah?

4.  Nilai apa yang ingin saya wariskan kepada guru dan murid?

5.  Jika suatu hari saya tidak lagi menjadi kepala madrasah, jejak apa yang ingin tetap hidup?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin berbeda antara satu pemimpin dan pemimpin lainnya.

Namun, satu hal yang sama: kepemimpinan yang memiliki tujuan besar akan lebih kuat menghadapi perjalanan yang panjang.


Penutup: Pemimpin dan Alasan Besarnya

Grand Why mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang alasan.

Bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang pengabdian.

Bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang warisan kebaikan yang ditinggalkan untuk masa depan.

Karena itu, sebelum bertanya bagaimana menjadi pemimpin yang hebat, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk direnungkan:

"Untuk apa saya memimpin?"

Ketika seorang pemimpin telah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, ia memiliki kompas untuk menentukan ke mana harus melangkah, bagaimana menghadapi tantangan, dan untuk siapa seluruh perjuangan kepemimpinannya dipersembahkan.

Itulah Grand Why: menemukan alasan besar agar kepemimpinan tidak sekadar menjadi jabatan, tetapi menjadi jalan pengabdian yang memberikan makna dan manfaat.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 
Baca selengkapnya ...

17 August 2026

Semarak HUT Kemerdekaan RI ke-81, MI NU Miftahul Falah Gelar Upacara dengan Khidmat dan Penuh Semangat

Undaan Tengah, 17 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, keluarga besar MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah melaksanakan upacara bendera pada Senin (17/8/2026). Kegiatan berlangsung di Lapangan Koperasi Desa Merah Putih, sebelah utara Balai Desa Undaan Tengah, dengan penuh semangat, tertib, dan khidmat.

Foto : Dok. Tim IT Miftahul Falah

Upacara diikuti oleh seluruh Pendidi da Tenaga Kependidikan dan semua  murid dari kelas 1 sampai kelas 6 sebanyak 13 rombel. Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Ahmad Yunus, S.Pd.I., M.Pd.

Dalam amanatnya, Ahmad Yunus mengajak seluruh murid untuk memaknai kemerdekaan tidak sekadar sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai tanggung jawab generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu.

Menurutnya, perjuangan para pahlawan di masa lalu harus diteruskan oleh generasi sekarang melalui pendidikan, akhlak, dan kontribusi positif bagi bangsa.


“Sebagai generasi saat ini, kita harus melanjutkan perjuangan para pendahulu dan para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan menjadi generasi yang berakhlakul karimah, memiliki akhlak yang baik, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa,” pesan Ahmad Yunus dalam amanatnya.

Ia juga menyampaikan ungkapan Arab yang sarat makna bagi generasi muda, “Syubbanul yaum rijalul ghod”, yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku madrasah merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah bangsa di masa mendatang. Karena itu, mereka perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, serta akhlak yang baik.


“Anak-anak yang saat ini masih belia, kelak di kemudian hari akan menjadi pemimpin masa mendatang. Karena itu, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya sejak sekarang,” lanjutnya.

Rangkaian upacara berlangsung dengan lancar. Seluruh petugas upacara berasal dari murid-murid MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah. Mereka menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab sehingga seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana secara lancar, tertib, dan khidmat.

Suasana semakin syahdu ketika doa dipimpin oleh H. Ahmad Halim, S.Pd.I. Dengan khusyuk, seluruh peserta mengikuti doa sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus memanjatkan harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan keberkahan.

Dimeriahkan Tarian Kolosal dan Musik Biola

Semangat peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 tidak berhenti setelah upacara selesai. Keluarga besar MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah juga menyuguhkan berbagai penampilan seni dari para murid.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah tarian kolosal yang merupakan kolaborasi sejumlah tarian daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Penampilan tersebut menjadi gambaran keberagaman budaya Nusantara yang tetap dapat bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak kalah menarik, penampilan musik biola secara live oleh Ananda Aurora, murid kelas 4A, turut memeriahkan suasana. Dengan kelihaian memainkan biola, Aurora mengiringi lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan oleh dua teman vokalisnya, Wulan dan Cantika.

Perpaduan musik, vokal, dan seni tari tersebut menghadirkan suasana peringatan kemerdekaan yang semarak sekaligus sarat pesan pendidikan. Para murid tidak hanya diajak mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga diberikan ruang untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.


Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pun menjadi momentum untuk menanamkan nilai nasionalisme, persatuan, keberanian, tanggung jawab, dan akhlakul karimah kepada generasi muda.

Kemerdekaan bukan sekadar warisan yang diterima, tetapi amanah yang harus dijaga dan diisi dengan karya. Dari madrasah, semangat itu terus ditanamkan: belajar, berakhlak, berkarya, dan kelak menjadi generasi penerus bangsa yang mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan.

Baca selengkapnya ...

14 August 2026

Mengenal Kepemimpinan 5G: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban

 

"Kepemimpinan sejati bukan tentang menjadi yang terhebat,tetapi tentang menghadirkan manfaat, menggerakkan dengan empati,dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak lekang oleh waktu."- H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I.

 


Kabarmadrasah.com-Leadership#1

Menjadi kepala madrasah bukan sekadar mengelola administrasi atau memastikan program kerja berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, seorang pemimpin adalah penggerak perubahan, penumbuh harapan, sekaligus teladan bagi seluruh warga madrasah.

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam materi "5G Leadership: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban" yang disampaikan Pengawas Madrasah Undaan Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., pada kegiatan pembinaan kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Rabu (5/8/2026).

Melalui konsep 5G Leadership, para kepala madrasah diajak membangun kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada nilai, karakter, dan kebermanfaatan.

1. Grand Why: Memimpin dengan Tujuan yang Mulia

Setiap pemimpin perlu memiliki Grand Why, yaitu alasan besar mengapa ia mengemban amanah kepemimpinan. Tujuan tersebut bukan sekadar mengejar jabatan atau prestasi pribadi, melainkan menghadirkan manfaat bagi murid, guru, dan masyarakat.

Ketika seorang kepala madrasah memahami alasan mengapa ia memimpin, setiap keputusan akan lebih terarah, setiap tantangan akan dihadapi dengan keteguhan, dan setiap keberhasilan akan dimaknai sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

2. Gift: Menjadi Anugerah bagi Orang Lain

Kepemimpinan sejati bukan tentang menerima penghormatan, tetapi tentang memberi manfaat.

Konsep Gift mengajak pemimpin menjadi pribadi yang murah hati dalam berbagi ilmu, perhatian, kesempatan, dan apresiasi. Pemimpin yang baik menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung sehingga setiap guru dan tenaga kependidikan merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berkembang.

Madrasah yang hebat lahir dari budaya saling menguatkan, bukan budaya saling menyalahkan.

 

3. Grind: Konsisten dalam Berjuang

Perubahan tidak lahir dari pekerjaan sesaat, tetapi dari ketekunan yang dilakukan setiap hari.

Grind mengajarkan pentingnya kerja keras, disiplin, konsistensi, dan semangat pantang menyerah. Tantangan dalam mengelola madrasah akan selalu ada, mulai dari peningkatan mutu pembelajaran hingga pengembangan sumber daya manusia. Namun, pemimpin yang tetap teguh melangkah akan mampu membawa organisasinya menuju kemajuan.

 

4. Growth Mindset: Terus Belajar dan Bertumbuh

Dunia pendidikan terus berubah. Karena itu, seorang kepala madrasah harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dengan Growth Mindset, pemimpin tidak takut menerima masukan, berani mengevaluasi diri, serta terbuka terhadap inovasi. Kesalahan dipandang sebagai pelajaran, bukan sebagai kegagalan. Sikap inilah yang akan menumbuhkan budaya belajar di lingkungan madrasah.

5. Great Hope: Menumbuhkan Harapan

Tugas pemimpin bukan hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menjaga semangat tim.

Great Hope mengingatkan bahwa seorang kepala madrasah harus mampu menghadirkan optimisme di tengah berbagai tantangan. Harapan yang dibangun melalui komunikasi yang baik, keteladanan, dan kepercayaan akan melahirkan energi positif yang menggerakkan seluruh warga madrasah untuk terus maju bersama.

 

Kepemimpinan yang Meninggalkan Jejak

Konsep 5G menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya tampak dari capaian program, tetapi juga dari perubahan positif yang ia tinggalkan.

Guru yang semakin bersemangat mengajar, murid yang tumbuh dengan karakter baik, budaya kerja yang harmonis, serta kepercayaan masyarakat kepada madrasah merupakan warisan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar angka-angka dalam laporan administrasi.

Kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling hebat, melainkan tentang menghadirkan kesempatan agar orang lain ikut bertumbuh.


Refleksi Madrasah Leadership

Setiap pemimpin dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

  • Apa Grand Why saya dalam memimpin madrasah?
  • Sudahkah saya menjadi Gift bagi orang-orang di sekitar?
  • Apakah saya tetap Grind ketika menghadapi tantangan?
  • Masihkah saya memiliki Growth Mindset untuk terus belajar?
  • Sudahkah saya menumbuhkan Great Hope bagi guru, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua?

Mungkin jawaban atas lima pertanyaan itulah yang akan menentukan kualitas kepemimpinan kita di masa depan.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5G Leadership: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.

Baca selengkapnya ...

13 August 2026

Wasmad Undaan ajak guru naik level dalam membuat perangkat pembelajaran dengan berbasis IT

Kudus, Kabar Madrasah — Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Modul Ajar dan Asesmen Sumatif Kelas 3 dan 4, Kamis (13/8/2026).


Kegiatan yang berlangsung di MI Raudlatut Tholibin Sambung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tersebut diikuti oleh guru kelas 3 dan 4 MI se-Kecamatan Undaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas sumber daya pendidik dan mutu pendidikan madrasah.

Ketua KKMI Kecamatan Undaan, H. Supono, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para guru serta dukungan dari madrasah yang menjadi tuan rumah kegiatan.

“Terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu guru KKG kelas 3 dan 4. Juga terima kasih kepada MI Raudlatut Tholibin Sambung atas kesediaan menjadi tuan rumah kegiatan. Monggo diniatkan semua ini sebagai ibadah.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan peningkatan kompetensi guru tidak semata-mata menjadi agenda profesional, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengabdian dan ibadah apabila dilaksanakan dengan niat yang baik.


Workshop menghadirkan Pengawas Madrasah Kecamatan Undaan, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., sebagai narasumber 

Fokus kegiatan adalah penyusunan perangkat pembelajaran, khususnya modul ajar dan asesmen sumatif untuk kelas 3 dan 4. Nara sumber mengajak guru-guru Undaan untuk "naik level"  dalam membuat berbagai administrasi dan perangkat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi IT yang senantiasa berkembang dengan pesat. Para peserta mengikuti kegiatan dengan membawa laptop, perangkat pembelajaran, dan koneksi internet, serta bahan lain yang relevan sebagaimana tercantum dalam undangan resmi KKMI Kecamatan Undaan.

Suasana workshop berlangsung aktif dan kondusif. Para guru menyimak pemaparan narasumber serta mengikuti proses pendampingan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Forum KKG seperti ini juga menjadi ruang bagi guru untuk saling berbagi pengalaman ( Take and give), berdiskusi, dan memperkuat praktik pembelajaran di madrasah masing-masing.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada penyusunan dokumen perangkat pembelajaran semata. Lebih dari itu, hasil workshop diharapkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar murid.

Workshop KKGMI Kelas 3 dan 4 Kecamatan Undaan sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi, peningkatan kompetensi, dan semangat belajar bersama di kalangan guru madrasah. Dengan semangat “diniatkan sebagai ibadah”, kegiatan pengembangan profesional guru diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi murid-murid madrasah.

 


Baca selengkapnya ...

05 August 2026

Tekankan Kepemimpinan dan Kurikulum Berbasis Cinta,Pengawas Madrasah Berikan Pembinaan Kepala MI se-Kecamatan Undaan

 

Kudus – Pengawas Madrasah, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., memberikan pembinaan kepada para Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Undaan dalam kegiatan yang diselenggarakan di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas kepemimpinan kepala madrasah dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan pendidikan.


Dalam pembinaannya, H. Noor Yadi menyampaikan beberapa pokok materi yang menjadi fokus pembahasan, meliputi kepemimpinan "5 G", lima kesalahan saat memimpin, refleksi diri, serta informasi kedinasan yang perlu menjadi perhatian seluruh kepala madrasah. Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat karakter kepemimpinan yang adaptif, visioner, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan di lingkungan madrasah.

Salah satu bagian penting dalam pembinaan adalah sesi Refleksi Mendalam yang mengangkat tema "Kurikulum Berbasis Cinta: Memulai Perubahan dari Orang Dewasa." Melalui tema tersebut, para kepala madrasah diajak melakukan introspeksi bahwa perubahan budaya belajar di madrasah harus dimulai dari para pendidik dan pemimpin pendidikan sebagai teladan bagi seluruh warga madrasah.

Selain penyampaian materi, kegiatan juga menjadi ruang refleksi bersama mengenai pentingnya membangun kepemimpinan yang humanis, kolaboratif, dan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman bagi murid. Refleksi ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para kepala madrasah dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan pendidikan secara efektif di satuan pendidikan masing-masing.

Melalui pembinaan ini, diharapkan seluruh Kepala MI di Kecamatan Undaan semakin siap menghadirkan tata kelola madrasah yang profesional, memperkuat budaya kerja yang positif, serta mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bagian dari transformasi pendidikan madrasah menuju layanan yang lebih bermutu dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.

 

Baca selengkapnya ...

28 July 2026

KKGMI Kecamatan Undaan Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran dan KKTP Guru Kelas 3, 4, dan PJOK

 

Kudus, 28 Juli 2026 – Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah (KKGMI) Kecamatan Undaan menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran dan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) bagi guru kelas 3, kelas 4, dan guru PJOK Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Undaan. Kegiatan berlangsung di MI NU Maslakul Falah Glagahwaru, Selasa (28/7/2026), mulai pukul 09.00 WIB.


Workshop ini menghadirkan Pengawas Madrasah Kecamatan Undaan, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., dan Istifaizah, S.Pd.I., M.Pd. sebagai narasumber. Kegiatan bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang berkualitas, sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka di madrasah.

Dalam pemaparannya, para narasumber memberikan penguatan mengenai penyusunan modul ajar, alur tujuan pembelajaran, KKTP, serta administrasi pembelajaran yang efektif, praktis, dan berorientasi pada peningkatan kualitas proses belajar murid.

Pengawas Madrasah Kecamatan Undaan, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan pentingnya perangkat pembelajaran yang disusun secara matang sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Beliau memaparkan 6 hal yang menjadi persiapan guru di awal tahun ajaran 2026/2027 : 1) Mempelajari alender Pendidian (Kaldik), 2) Menyusun administrasi guru, 3) Mempelajari Capaian Pembeajaran (CP), 4) Menyiapan Modu Ajar, 5) Menyiapkan Asesmen Awal, 6) Menata Lingunga Kelas

"Perangkat pembelajaran bukan sekadar kelengkapan administrasi, tetapi merupakan panduan utama bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang terarah, bermakna, dan berpihak kepada murid. Oleh karena itu, setiap guru perlu menyusunnya dengan cermat sesuai karakteristik madrasah dan kebutuhan belajar murid," ujar H. Noor Yadi.

Dan di akhir pemaparan, H.Noor Yadi mengulas akan Panca Cinta dalam Kurikulum Merdeka


Sementara itu, Istifaizah, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan bahwa penyusunan KKTP harus benar-benar menggambarkan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dapat diukur secara jelas.

"KKTP harus disusun secara sederhana, jelas, dan terukur agar mampu menjadi acuan guru dalam melakukan asesmen sekaligus memberikan umpan balik terhadap perkembangan belajar murid," jelas Istifaizah.

Dengan berdasarkan Tujuan Pemelajaran yang telah dibuat sebelumnya, Kalender Pendidikan yang teah dikeluakan oleh lembaga, peserta worshop diajak mengebangan KKTP dan menganalisis Minggu Efektif , Minggu Tidak Efektif, JTM tiap mapel.


Ketua KKGMI Kecamatan Undaan, H. Supono, S.Pd.I., M.Pd.I., berharap kegiatan ini mampu meningkatkan profesionalisme guru sekaligus menyamakan persepsi dalam penyusunan administrasi pembelajaran di seluruh Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Undaan.

Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga melakukan praktik penyusunan perangkat pembelajaran secara langsung dengan pendampingan narasumber. Diharapkan hasil kegiatan ini dapat diterapkan di masing-masing madrasah sehingga proses pembelajaran menjadi semakin berkualitas, efektif, dan berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan madrasah di Kecamatan Undaan

 

Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com