KUDUS, kabarmadrasah.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah Kudus, Sabtu (12/9/2026), berlangsung semarak. Bukan sekadar menghadirkan lantunan Al-Qur’an dan Maulid Al-Barzanji, kegiatan yang digelar di Aula Balai Desa Undaan Tengah tersebut dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak: kisah Nabi, storytelling, peraga, sulap, hingga kemunculan karakter robot transformer.
Sejak pukul
07.00 WIB, murid dan keluarga besar madrasah telah mengikuti rangkaian acara
dengan penuh antusias. Kegiatan dipandu oleh Ibu Chusnul Inayah, S.Pd.I
sebagai pembawa acara.
Rangkaian
kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh ananda Mohammad
Bagas, murid kelas 5. Suasana kemudian berlanjut khidmat melalui pembacaan Maulid
Al-Barzanji oleh ananda Zafira, Hafida, dan kawan-kawan. Namun,
suasana aula berubah semakin hidup ketika Mr. Black tampil di hadapan
para murid.
Ketika Sejarah Islam Dibawakan dengan Gaya Anak-Anak
Mengenakan kostum serba hitam, Mr. Black tidak sekadar bercerita. Ia membawa murid masuk ke dalam kisah sejarah yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, terutama peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah.
Dengan gaya
storytelling yang atraktif, ekspresi yang kuat, serta bantuan peraga gajah
dan burung, kisah tentang kesombongan Abrahah dan kegagalan upayanya
menghancurkan Ka’bah menjadi jauh lebih mudah dibayangkan oleh anak-anak.
Abrahah
datang dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, rencana
tersebut gagal. Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengirim
burung-burung Ababil yang membawa batu dari neraka yang telah ditetapkan
sebagai azab bagi pasukan tersebut. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah
Al-Fil.
Di tangan
Mr. Black, kisah yang selama ini mungkin hanya didengar melalui buku pelajaran
berubah menjadi pengalaman yang lebih konkret.
Sesekali
murid tertawa, sesekali mereka terdiam memperhatikan peraga yang dimainkan.
Pesan tentang kekuasaan Allah dan akibat kesombongan pun disampaikan tanpa
membuat suasana menjadi kaku. Inilah salah satu kekuatan pendidikan berbasis
pengalaman: anak tidak hanya mendengar, tetapi melihat, membayangkan, tertawa,
dan mengingat.
Kepala Madrasah: Kebaikan Harus Dilatih, Bukan Sekadar Diucapkan
Di balik
kemeriahan peringatan Maulid, Kepala MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Ahmad
Yunus, M.Pd., memberikan pesan yang justru menjadi inti pendidikan karakter
dalam kegiatan tersebut.
Ia
mengingatkan bahwa melakukan kebaikan terkadang membutuhkan proses memaksa diri
sebelum akhirnya berubah menjadi kebiasaan.
“Kita harus memaksakan diri dalam
berbuat kebaikan. Misalnya belajar. Kita paksakan diri sekali, dua kali dan
seterusnya. Nanti akan menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter.”
Pesan
tersebut sederhana, tetapi memiliki makna pendidikan yang kuat. Sebab, karakter
tidak lahir hanya dari nasihat. Karakter tumbuh dari kebiasaan yang
dilakukan berulang-ulang.
Murid yang
dibiasakan belajar akan belajar dengan lebih ringan. Murid yang dibiasakan
disiplin akan mulai merasa tidak nyaman ketika melanggar. Begitu pula dengan
kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan berbagai akhlak mulia lainnya.
Dalam
konteks Maulid Nabi, pesan tersebut menemukan relevansinya. Mencintai Rasulullah
SAW tidak berhenti pada perasaan senang mendengar kisah beliau, tetapi harus
dilanjutkan dengan latihan meneladani akhlaknya.
Dari Burung Merpati hingga Transformer
Setelah
kisah sejarah disampaikan, Mr. Black kembali mengajak murid memasuki sesi
hiburan. Sejumlah atraksi sulap membuat suasana aula semakin riuh. Satu demi
satu kejutan ditampilkan. Burung merpati muncul dari sebuah kotak. Ayam
muncul dari sebuah wadah. Sebuah payung kemudian digandakan menjadi empat. Setiap
atraksi disambut tepuk tangan dan teriakan antusias para murid.
Puncaknya
terjadi ketika sosok robot transformer muncul di hadapan mereka. Spontan,
murid-murid berebut mendekat. Mereka ingin secara dekat menyaksian sosok
karakter yang selama ini hanya mereka kenal dari layar.
Aula Balai
Desa Undaan Tengah yang sejak pagi digunakan untuk kegiatan keagamaan itu pun
berubah menjadi ruang kegembiraan anak-anak. Tetapi di balik kemeriahan
tersebut terdapat satu hal yang menarik: hiburan digunakan sebagai pintu
masuk untuk menyampaikan pesan pendidikan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Maulid yang Tidak Berhenti di Atas Panggung
Peringatan
Maulid Nabi Muhammad SAW di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pada akhirnya
bukan hanya tentang bagaimana merayakan kelahiran Nabi. Lebih jauh, kegiatan
tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan nilai agama, pendidikan karakter,
kreativitas, dan kegembiraan anak dalam satu kegiatan.
Murid diajak
mendengar Al-Qur’an, bershalawat melalui Al-Barzanji, mengenal sejarah Islam,
menyaksikan storytelling, menikmati sulap, hingga berfoto bersama karakter
Transformer. Semua dikemas dalam satu pesan besar: mengenal Nabi Muhammad
SAW, mencintai beliau, dan belajar meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Maulid hanya berhenti pada
acara, maka ia akan selesai ketika panggung ditutup. Namun jika Maulid berhasil
melahirkan kebiasaan baik, maka peringatannya justru baru dimulai setelah acara
berakhir.
Sejalan
dengan pesan Kepala Madrasah, kebaikan memang perlu dilatih. Sekali, dua
kali, berkali-kali—hingga akhirnya menjadi kebiasaan, lalu tumbuh menjadi
karakter.
Rangkaian
kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Fathur Rohman,
S.Pd.I. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW keluarga besar MI NU Miftahul
Falah Undaan Tengah pun berakhir. Tetapi semangat untuk menjadikan kecintaan
kepada Rasulullah sebagai bagian dari perilaku sehari-hari diharapkan terus
tumbuh di lingkungan madrasah.

