Kabarmadrasah.com-Leadership #3
Setelah menemukan Grand Why,
seorang pemimpin perlu menjawab pertanyaan berikutnya: apa yang dapat saya
berikan kepada orang-orang yang saya pimpin?
Pertanyaan inilah yang
mengantarkan kita pada unsur kedua dalam konsep 5G Leadership, yaitu Gift.
Dalam materi pembinaan Kepala MI
yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H.
Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., konsep 5G Leadership terdiri atas lima unsur: Grand
Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Unsur Gift
ditempatkan sebagai salah satu karakter penting dalam membangun kepemimpinan
yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Gift: Kepemimpinan yang Memberi
Secara sederhana, gift berarti hadiah atau pemberian. Namun dalam konteks kepemimpinan, maknanya jauh lebih dalam. Gift dapat dimaknai sebagai kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan sesuatu yang bernilai kepada orang-orang yang dipimpinnya, baik berupa perhatian, kepercayaan, kesempatan, ilmu, dukungan, maupun ruang untuk berkembang.
Pemimpin tidak hanya bertanya:
"Apa yang bisa saya dapatkan dari mereka?"
Tetapi mengubah pertanyaan tersebut menjadi:
"Apa yang bisa saya berikan agar mereka menjadi lebih baik?"
Perubahan cara berpikir inilah
yang membedakan kepemimpinan yang berorientasi pada diri sendiri dengan
kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan.
Pemimpin Bukan Pusat Segalanya
Dalam sebuah organisasi, termasuk
madrasah, seorang kepala madrasah memang memiliki kewenangan dan tanggung jawab
yang besar.
Namun, pemimpin tidak harus
menjadi orang yang paling tahu segala sesuatu, paling mampu melakukan semua
pekerjaan, atau selalu menjadi pusat dari setiap keberhasilan.
Justru salah satu ukuran
kepemimpinan yang sehat adalah kemampuan mengembangkan orang lain.
Kepala madrasah yang baik akan melihat potensi yang
dimiliki guru dan tenaga kependidikan. Ia kemudian berusaha memberikan
kesempatan agar potensi tersebut muncul dan berkembang.
Guru yang memiliki kemampuan teknologi dapat diberi
ruang untuk mengembangkan digitalisasi pembelajaran.
Guru yang memiliki kemampuan berorganisasi dapat
dipercaya mengelola program.
Guru yang memiliki kemampuan seni dapat diberi
kesempatan mengembangkan kegiatan kreatif murid.
Dengan demikian, pemimpin tidak mengambil semua
peran. Pemimpin justru membuka pintu agar orang lain menemukan dan
menggunakan potensinya.
Memberi Kepercayaan adalah Sebuah Gift
Salah satu bentuk gift
yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah kepercayaan.
Tidak semua guru membutuhkan
perintah. Sebagian justru membutuhkan kepercayaan.
Ketika seorang kepala madrasah
memberikan amanah kepada seorang guru untuk memimpin sebuah program, sebenarnya
ia sedang mengatakan:
"Saya percaya Anda
mampu."
Kalimat sederhana tersebut dapat
menjadi sumber motivasi yang luar biasa.
Sebaliknya, jika setiap pekerjaan
selalu dikendalikan oleh pemimpin, setiap kesalahan langsung disalahkan, dan
setiap inisiatif selalu dicurigai, maka orang-orang di dalam organisasi akan
kehilangan keberanian untuk berkembang.
Karena itu, memberikan
kepercayaan bukan berarti membiarkan seseorang bekerja tanpa arah. Kepercayaan
tetap membutuhkan pendampingan, komunikasi, dan evaluasi.
Memberi Kesempatan untuk Bertumbuh
Gift juga berarti memberikan kesempatan.
Tidak semua guru akan langsung
tampil percaya diri. Tidak semua guru memiliki kemampuan yang sama. Ada yang
membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, mencoba, dan berkembang.
Di sinilah pemimpin berperan
sebagai fasilitator.
Seorang kepala madrasah dapat
memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan, mencoba metode
pembelajaran baru, berbagi praktik baik, menjadi koordinator kegiatan, atau
mengambil tanggung jawab tertentu.
Kesempatan tersebut mungkin tidak
selalu menghasilkan keberhasilan pada percobaan pertama.
Tetapi pemimpin yang memiliki
perspektif Gift memahami bahwa proses bertumbuh membutuhkan ruang
untuk mencoba.
Pemimpin yang Membuat Orang Lain Bersinar
Ada sebuah prinsip sederhana
dalam kepemimpinan:
Pemimpin hebat bukan yang selalu terlihat paling bersinar, tetapi yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya ikut bersinar.
Jika kepala madrasah selalu
menjadi orang pertama yang berbicara, selalu mengambil semua keputusan, selalu
tampil dalam setiap kegiatan, dan selalu menjadi pusat keberhasilan, maka
organisasi akan sangat bergantung kepada satu orang.
Sebaliknya, ketika banyak guru
mampu mengambil peran, berinisiatif, memimpin kegiatan, memecahkan masalah, dan
menghasilkan inovasi, maka sebenarnya pemimpin telah berhasil membangun
organisasi yang sehat.
Pemimpin tidak kehilangan wibawa ketika memberikan kesempatan kepada orang lain. Justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji.
Gift dalam
Kehidupan Madrasah
Konsep Gift sangat dekat dengan kehidupan
sehari-hari di madrasah.
Seorang kepala madrasah dapat memberikan gift
melalui berbagai tindakan sederhana:
Pertama, memberikan apresiasi.
Ucapan terima kasih atas kerja keras seorang guru
dapat menjadi energi positif yang membuatnya merasa dihargai.
Kedua, memberikan kepercayaan.
Guru yang dipercaya akan belajar bertanggung jawab
terhadap amanah yang diberikan.
Ketiga, memberikan kesempatan.
Kesempatan menjadi ruang bagi seseorang untuk
menemukan kemampuan yang mungkin selama ini belum terlihat.
Keempat, memberikan pendampingan.
Ketika seseorang mengalami kesulitan, pemimpin
hadir bukan sekadar untuk menilai, tetapi membantu mencari jalan keluar.
Kelima, memberikan teladan.
Pemimpin yang disiplin, jujur, terbuka, dan mau
belajar sebenarnya sedang memberikan contoh yang jauh lebih kuat daripada
sekadar memberikan instruksi.
Gift dan Budaya Saling Menguatkan
Madrasah merupakan komunitas
pendidikan. Karena itu, keberhasilan tidak seharusnya dibangun melalui
kompetisi yang saling menjatuhkan, tetapi melalui budaya saling menguatkan.
Ketika seorang guru berhasil,
keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi guru lainnya.
Ketika seorang guru mengalami
kesulitan, rekan kerja dapat memberikan dukungan.
Ketika sebuah program berhasil,
apresiasi diberikan kepada tim, bukan hanya kepada individu tertentu.
Budaya seperti inilah yang
membuat Gift tidak berhenti sebagai karakter seorang kepala madrasah,
tetapi berkembang menjadi budaya organisasi.
Jangan Hanya Menilai, Tetapi Tumbuhkan
Salah satu tantangan kepemimpinan
adalah kecenderungan untuk terlalu cepat menilai orang lain.
Ketika seorang guru melakukan
kesalahan, pemimpin mudah melihat kekurangannya.
Namun pemimpin dengan semangat Gift
akan mencoba melihat pertanyaan yang berbeda:
"Apa yang dapat saya lakukan
agar ia menjadi lebih baik?"
Perubahan sudut pandang ini sangat penting. Menilai memang diperlukan. Evaluasi juga penting. Tetapi kepemimpinan tidak boleh berhenti pada penilaian.
Tujuan akhirnya adalah
pertumbuhan.
Karena itu, evaluasi seharusnya
menjadi pintu menuju perbaikan, bukan sekadar sarana untuk mencari kesalahan.
Dari Gift Menuju Legacy
Pada akhirnya, Gift berbicara tentang warisan kepemimpinan. Seorang kepala madrasah mungkin suatu saat menyelesaikan masa jabatannya. Ruang kerjanya mungkin ditempati oleh pemimpin berikutnya. Program-program baru mungkin menggantikan program lama.
Namun ada satu hal yang dapat
tetap tinggal: orang-orang yang pernah ia tumbuhkan.
Guru yang menjadi lebih percaya diri.
Guru yang berani berinovasi.
Guru yang menemukan potensi terbaiknya.
Tim yang mampu bekerja tanpa selalu menunggu
instruksi.
Dan generasi murid yang memperoleh layanan
pendidikan yang lebih baik.
Itulah salah satu bentuk legacy
seorang pemimpin.
Bukan sekadar bangunan atau
dokumen program, tetapi manusia-manusia yang menjadi lebih baik karena
pernah dipimpin olehnya.
Refleksi Leadership#3
Setiap kepala madrasah dan
pemimpin pendidikan dapat berhenti sejenak dan bertanya:
1.
Apa yang selama ini saya berikan kepada orang-orang yang saya pimpin?
2.
Apakah saya sudah memberikan kepercayaan kepada guru untuk berkembang?
3.
Apakah saya lebih sering mencari kesalahan atau membantu mencari solusi?
4.
Sudahkah saya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil dan
memimpin?
5.
Jika suatu hari saya tidak lagi memimpin, orang-orang seperti apa yang
akan saya tinggalkan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut
dapat menjadi cermin sederhana untuk melihat apakah kepemimpinan kita telah
menjadi Gift bagi orang lain.
Penutup: Kepemimpinan yang Memberi Jejak
Kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa banyak orang yang berada di bawah kita. Kepemimpinan justru dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang menjadi lebih kuat karena pernah berjalan bersama kita. Seorang pemimpin yang memiliki Gift tidak takut melihat orang lain tumbuh.
Ia tidak takut memberikan kesempatan.
Ia tidak takut berbagi pengetahuan.
Ia tidak takut ketika orang lain tampil lebih baik.
Karena ia memahami bahwa
keberhasilan kepemimpinan bukanlah ketika semua orang bergantung kepadanya,
melainkan ketika orang-orang yang dipimpinnya mampu tumbuh, berkembang, dan
memberikan manfaat yang lebih luas.
Pada akhirnya, seorang pemimpin
akan dikenang bukan hanya karena apa yang pernah ia kerjakan, tetapi juga
karena orang-orang yang pernah ia bantu untuk tumbuh.
Itulah Gift dalam kepemimpinan:
menjadikan diri kita sebagai sumber manfaat, sekaligus membuka jalan agar orang
lain menemukan potensi terbaiknya.
.jpeg)

.jpeg)

