Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

22 August 2026

Gift: Pemimpin Hebat Membuat Orang Lain Bertumbuh

Kabarmadrasah.com-Leadership #3

Setelah menemukan Grand Why, seorang pemimpin perlu menjawab pertanyaan berikutnya: apa yang dapat saya berikan kepada orang-orang yang saya pimpin?

Pertanyaan inilah yang mengantarkan kita pada unsur kedua dalam konsep 5G Leadership, yaitu Gift.

Dalam materi pembinaan Kepala MI yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., konsep 5G Leadership terdiri atas lima unsur: Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Unsur Gift ditempatkan sebagai salah satu karakter penting dalam membangun kepemimpinan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Gift: Kepemimpinan yang Memberi

Secara sederhana, gift berarti hadiah atau pemberianNamun dalam konteks kepemimpinan, maknanya jauh lebih dalam. Gift dapat dimaknai sebagai kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan sesuatu yang bernilai kepada orang-orang yang dipimpinnya, baik berupa perhatian, kepercayaan, kesempatan, ilmu, dukungan, maupun ruang untuk berkembang.

Pemimpin tidak hanya bertanya:

"Apa yang bisa saya dapatkan dari mereka?"

Tetapi mengubah pertanyaan tersebut menjadi:

"Apa yang bisa saya berikan agar mereka menjadi lebih baik?"

Perubahan cara berpikir inilah yang membedakan kepemimpinan yang berorientasi pada diri sendiri dengan kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan.


Pemimpin Bukan Pusat Segalanya

Dalam sebuah organisasi, termasuk madrasah, seorang kepala madrasah memang memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang besar.

Namun, pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling tahu segala sesuatu, paling mampu melakukan semua pekerjaan, atau selalu menjadi pusat dari setiap keberhasilan.

Justru salah satu ukuran kepemimpinan yang sehat adalah kemampuan mengembangkan orang lain.

Kepala madrasah yang baik akan melihat potensi yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan. Ia kemudian berusaha memberikan kesempatan agar potensi tersebut muncul dan berkembang.

Guru yang memiliki kemampuan teknologi dapat diberi ruang untuk mengembangkan digitalisasi pembelajaran.

Guru yang memiliki kemampuan berorganisasi dapat dipercaya mengelola program.

Guru yang memiliki kemampuan seni dapat diberi kesempatan mengembangkan kegiatan kreatif murid.

Dengan demikian, pemimpin tidak mengambil semua peran. Pemimpin justru membuka pintu agar orang lain menemukan dan menggunakan potensinya.


Memberi Kepercayaan adalah Sebuah Gift

Salah satu bentuk gift yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah kepercayaan.

Tidak semua guru membutuhkan perintah. Sebagian justru membutuhkan kepercayaan.

Ketika seorang kepala madrasah memberikan amanah kepada seorang guru untuk memimpin sebuah program, sebenarnya ia sedang mengatakan:

"Saya percaya Anda mampu."

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi sumber motivasi yang luar biasa.

Sebaliknya, jika setiap pekerjaan selalu dikendalikan oleh pemimpin, setiap kesalahan langsung disalahkan, dan setiap inisiatif selalu dicurigai, maka orang-orang di dalam organisasi akan kehilangan keberanian untuk berkembang.

Karena itu, memberikan kepercayaan bukan berarti membiarkan seseorang bekerja tanpa arah. Kepercayaan tetap membutuhkan pendampingan, komunikasi, dan evaluasi.


Memberi Kesempatan untuk Bertumbuh

Gift juga berarti memberikan kesempatan.

Tidak semua guru akan langsung tampil percaya diri. Tidak semua guru memiliki kemampuan yang sama. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, mencoba, dan berkembang.

Di sinilah pemimpin berperan sebagai fasilitator.

Seorang kepala madrasah dapat memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan, mencoba metode pembelajaran baru, berbagi praktik baik, menjadi koordinator kegiatan, atau mengambil tanggung jawab tertentu.

Kesempatan tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan keberhasilan pada percobaan pertama.

Tetapi pemimpin yang memiliki perspektif Gift memahami bahwa proses bertumbuh membutuhkan ruang untuk mencoba.


Pemimpin yang Membuat Orang Lain Bersinar

Ada sebuah prinsip sederhana dalam kepemimpinan:

Pemimpin hebat bukan yang selalu terlihat paling bersinar, tetapi yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya ikut bersinar.

Jika kepala madrasah selalu menjadi orang pertama yang berbicara, selalu mengambil semua keputusan, selalu tampil dalam setiap kegiatan, dan selalu menjadi pusat keberhasilan, maka organisasi akan sangat bergantung kepada satu orang.

Sebaliknya, ketika banyak guru mampu mengambil peran, berinisiatif, memimpin kegiatan, memecahkan masalah, dan menghasilkan inovasi, maka sebenarnya pemimpin telah berhasil membangun organisasi yang sehat.

Pemimpin tidak kehilangan wibawa ketika memberikan kesempatan kepada orang lain. Justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji.


Gift dalam Kehidupan Madrasah

Konsep Gift sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di madrasah.

Seorang kepala madrasah dapat memberikan gift melalui berbagai tindakan sederhana:

Pertama, memberikan apresiasi.

Ucapan terima kasih atas kerja keras seorang guru dapat menjadi energi positif yang membuatnya merasa dihargai.

Kedua, memberikan kepercayaan.

Guru yang dipercaya akan belajar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.

Ketiga, memberikan kesempatan.

Kesempatan menjadi ruang bagi seseorang untuk menemukan kemampuan yang mungkin selama ini belum terlihat.

Keempat, memberikan pendampingan.

Ketika seseorang mengalami kesulitan, pemimpin hadir bukan sekadar untuk menilai, tetapi membantu mencari jalan keluar.

Kelima, memberikan teladan.

Pemimpin yang disiplin, jujur, terbuka, dan mau belajar sebenarnya sedang memberikan contoh yang jauh lebih kuat daripada sekadar memberikan instruksi.


Gift dan Budaya Saling Menguatkan

Madrasah merupakan komunitas pendidikan. Karena itu, keberhasilan tidak seharusnya dibangun melalui kompetisi yang saling menjatuhkan, tetapi melalui budaya saling menguatkan.

Ketika seorang guru berhasil, keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi guru lainnya.

Ketika seorang guru mengalami kesulitan, rekan kerja dapat memberikan dukungan.

Ketika sebuah program berhasil, apresiasi diberikan kepada tim, bukan hanya kepada individu tertentu.

Budaya seperti inilah yang membuat Gift tidak berhenti sebagai karakter seorang kepala madrasah, tetapi berkembang menjadi budaya organisasi.


Jangan Hanya Menilai, Tetapi Tumbuhkan

Salah satu tantangan kepemimpinan adalah kecenderungan untuk terlalu cepat menilai orang lain.

Ketika seorang guru melakukan kesalahan, pemimpin mudah melihat kekurangannya.

Namun pemimpin dengan semangat Gift akan mencoba melihat pertanyaan yang berbeda:

"Apa yang dapat saya lakukan agar ia menjadi lebih baik?"

Perubahan sudut pandang ini sangat penting. Menilai memang diperlukan. Evaluasi juga penting. Tetapi kepemimpinan tidak boleh berhenti pada penilaian.


Tujuan akhirnya adalah pertumbuhan.

Karena itu, evaluasi seharusnya menjadi pintu menuju perbaikan, bukan sekadar sarana untuk mencari kesalahan.


Dari Gift Menuju Legacy

Pada akhirnya, Gift berbicara tentang warisan kepemimpinanSeorang kepala madrasah mungkin suatu saat menyelesaikan masa jabatannya. Ruang kerjanya mungkin ditempati oleh pemimpin berikutnya. Program-program baru mungkin menggantikan program lama.

Namun ada satu hal yang dapat tetap tinggal: orang-orang yang pernah ia tumbuhkan.

Guru yang menjadi lebih percaya diri.

Guru yang berani berinovasi.

Guru yang menemukan potensi terbaiknya.

Tim yang mampu bekerja tanpa selalu menunggu instruksi.

Dan generasi murid yang memperoleh layanan pendidikan yang lebih baik.

Itulah salah satu bentuk legacy seorang pemimpin.

Bukan sekadar bangunan atau dokumen program, tetapi manusia-manusia yang menjadi lebih baik karena pernah dipimpin olehnya.


Refleksi Leadership#3

Setiap kepala madrasah dan pemimpin pendidikan dapat berhenti sejenak dan bertanya:

1.   Apa yang selama ini saya berikan kepada orang-orang yang saya pimpin?

2.   Apakah saya sudah memberikan kepercayaan kepada guru untuk berkembang?

3.   Apakah saya lebih sering mencari kesalahan atau membantu mencari solusi?

4.   Sudahkah saya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil dan memimpin?

5.   Jika suatu hari saya tidak lagi memimpin, orang-orang seperti apa yang akan saya tinggalkan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi cermin sederhana untuk melihat apakah kepemimpinan kita telah menjadi Gift bagi orang lain.

Penutup: Kepemimpinan yang Memberi Jejak

Kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa banyak orang yang berada di bawah kita. Kepemimpinan justru dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang menjadi lebih kuat karena pernah berjalan bersama kita. Seorang pemimpin yang memiliki Gift tidak takut melihat orang lain tumbuh.

Ia tidak takut memberikan kesempatan.

Ia tidak takut berbagi pengetahuan.

Ia tidak takut ketika orang lain tampil lebih baik.

Karena ia memahami bahwa keberhasilan kepemimpinan bukanlah ketika semua orang bergantung kepadanya, melainkan ketika orang-orang yang dipimpinnya mampu tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Pada akhirnya, seorang pemimpin akan dikenang bukan hanya karena apa yang pernah ia kerjakan, tetapi juga karena orang-orang yang pernah ia bantu untuk tumbuh.

Itulah Gift dalam kepemimpinan: menjadikan diri kita sebagai sumber manfaat, sekaligus membuka jalan agar orang lain menemukan potensi terbaiknya.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 
Baca selengkapnya ...

21 August 2026

Grand Why: Pemimpin Harus Memiliki Alasan Besar dalam Mengabdi

Kabarmadrasah.com- Leadership#2

Menjadi seorang pemimpin bukan sekadar memperoleh posisi, jabatan, atau kewenangan untuk mengambil keputusan. Di balik sebuah kepemimpinan yang kuat, terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab: mengapa saya memilih untuk memimpin?


Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami konsep Grand Why, salah satu unsur dalam konsep 5G Leadership yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam pembinaan Kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Rabu (5/8/2026).

Dalam materi tersebut, 5G Leadership diperkenalkan dengan lima unsur utama, yaitu Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Kelimanya menjadi rangkaian karakter yang dapat menjadi refleksi bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah kepemimpinannya.

Apa Itu Grand Why?

Secara sederhana, Grand Why dapat dimaknai sebagai alasan besar yang menjadi dasar seseorang dalam menjalankan kepemimpinan.

Seorang kepala madrasah tentu memiliki tugas dan tanggung jawab formal. Ada administrasi yang harus diselesaikan, program yang harus dijalankan, guru yang harus dikoordinasikan, serta berbagai persoalan madrasah yang harus diselesaikan.

Namun, kepemimpinan tidak seharusnya berhenti pada daftar tugas tersebut.

Di balik semua pekerjaan itu, seorang pemimpin membutuhkan tujuan yang lebih besar: untuk apa semua itu dilakukan? Untuk siapa kepemimpinan tersebut dijalankan? Dan perubahan seperti apa yang ingin diwujudkan?

Di sinilah Grand Why menjadi penting.

Pemimpin yang memiliki alasan besar akan memiliki arah yang lebih jelas. Ia tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi persoalan karena ia mengetahui tujuan yang hendak dicapai.

Bukan Sekadar Menjalankan Jabatan

Jabatan kepala madrasah pada dasarnya adalah amanah. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang kepala madrasah tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak program yang terlaksana atau seberapa rapi administrasi yang diselesaikan.

Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari dampaknya terhadap manusia dan lingkungan yang dipimpinnya.

Apakah guru menjadi lebih berkembang?

Apakah murid mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik?

Apakah budaya kerja di madrasah menjadi lebih positif?

Apakah masyarakat semakin percaya kepada madrasah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa seorang pemimpin dari sekadar "apa yang harus saya kerjakan?" menuju pertanyaan yang lebih mendasar: "mengapa saya harus melakukan semua ini?"

Itulah ruang refleksi Grand Why.


Grand Why Mengubah Cara Pemimpin Mengambil Keputusan

Alasan besar yang dimiliki seorang pemimpin juga akan memengaruhi cara ia mengambil keputusan.

Ketika tujuan utama kepemimpinan adalah membangun madrasah yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi murid, guru, orang tua, serta masyarakat, maka keputusan tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan pribadi.

Pemimpin akan lebih mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Misalnya, ketika menghadapi seorang guru yang mengalami kesulitan, pemimpin dengan Grand Why tidak terburu-buru mencari siapa yang harus disalahkan. Ia akan lebih dahulu berpikir: bagaimana guru tersebut dapat dibantu agar berkembang?

Ketika sebuah program belum berhasil, pertanyaannya bukan hanya "siapa yang gagal?", tetapi juga "apa yang dapat kita pelajari dan bagaimana memperbaikinya?"

Dengan demikian, Grand Why dapat menjadi kompas moral dalam kepemimpinan.


Dari Jabatan Menuju Pengabdian

Dalam konteks madrasah, Grand Why memiliki makna yang semakin kuat karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan.

Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus akhlak.

Karena itu, seorang kepala madrasah perlu melihat kepemimpinannya sebagai bagian dari proses pengabdian yang lebih luas.

Jabatan mungkin memiliki batas waktu. Namun, jejak kepemimpinan dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa seseorang menduduki jabatan.

Seorang kepala madrasah mungkin akan berganti. Tetapi budaya kerja yang telah dibangun, guru-guru yang telah berkembang, dan murid-murid yang pernah mendapatkan inspirasi dari kepemimpinannya dapat terus membawa pengaruh tersebut ke masa depan.


Grand Why dan Kepemimpinan Berbasis Cinta

Konsep Grand Why juga menarik untuk dikaitkan dengan gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang turut menjadi materi dalam pembinaan tersebut.

Kurikulum Berbasis Cinta mengajak warga pendidikan untuk memulai perubahan dari orang dewasa. Artinya, kepala madrasah dan guru tidak hanya dituntut memahami konsep pendidikan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai tersebut melalui sikap dan keteladanan.

Di titik ini, Grand Why menjadi pertanyaan reflektif:

Apakah saya memimpin karena jabatan, atau karena ingin memberikan manfaat?

Jika jawabannya adalah memberikan manfaat, maka kepemimpinan akan memiliki energi yang berbeda.

Pemimpin tidak hanya meminta orang lain bekerja, tetapi juga berusaha menjadi teladan.

Tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga memberikan dukungan.

Tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memperhatikan manusia yang berada di balik proses tersebut.


Saat Pemimpin Kehilangan Grand Why

Sebaliknya, pemimpin yang kehilangan alasan besar dalam kepemimpinannya berpotensi terjebak pada rutinitas.

Rapat dilakukan karena jadwal.

Administrasi diselesaikan karena kewajiban.

Program dilaksanakan karena tuntutan.

Evaluasi dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Semua kegiatan mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan ruh dan makna.

Di sinilah pentingnya seorang pemimpin melakukan refleksi secara berkala.

Bukan hanya bertanya:

"Apa yang sudah saya kerjakan?"

Tetapi juga:

"Untuk apa saya mengerjakannya?"

Pertanyaan kedua sering kali lebih sulit, tetapi justru lebih penting.


Refleksi untuk Kepala Madrasah

Grand Why pada akhirnya bukan sekadar konsep kepemimpinan. Ia adalah ajakan untuk kembali menemukan makna dari amanah yang sedang dijalankan.

Setiap kepala madrasah dapat mengambil waktu sejenak untuk menjawab lima pertanyaan sederhana:

1.  Mengapa saya menerima amanah sebagai pemimpin?

2.  Siapa yang paling ingin saya beri manfaat melalui kepemimpinan ini?

3.  Perubahan apa yang ingin saya tinggalkan di madrasah?

4.  Nilai apa yang ingin saya wariskan kepada guru dan murid?

5.  Jika suatu hari saya tidak lagi menjadi kepala madrasah, jejak apa yang ingin tetap hidup?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin berbeda antara satu pemimpin dan pemimpin lainnya.

Namun, satu hal yang sama: kepemimpinan yang memiliki tujuan besar akan lebih kuat menghadapi perjalanan yang panjang.


Penutup: Pemimpin dan Alasan Besarnya

Grand Why mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang alasan.

Bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi tentang pengabdian.

Bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang warisan kebaikan yang ditinggalkan untuk masa depan.

Karena itu, sebelum bertanya bagaimana menjadi pemimpin yang hebat, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar untuk direnungkan:

"Untuk apa saya memimpin?"

Ketika seorang pemimpin telah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, ia memiliki kompas untuk menentukan ke mana harus melangkah, bagaimana menghadapi tantangan, dan untuk siapa seluruh perjuangan kepemimpinannya dipersembahkan.

Itulah Grand Why: menemukan alasan besar agar kepemimpinan tidak sekadar menjadi jabatan, tetapi menjadi jalan pengabdian yang memberikan makna dan manfaat.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 
Baca selengkapnya ...

17 August 2026

Semarak HUT Kemerdekaan RI ke-81, MI NU Miftahul Falah Gelar Upacara dengan Khidmat dan Penuh Semangat

Undaan Tengah, 17 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, keluarga besar MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah melaksanakan upacara bendera pada Senin (17/8/2026). Kegiatan berlangsung di Lapangan Koperasi Desa Merah Putih, sebelah utara Balai Desa Undaan Tengah, dengan penuh semangat, tertib, dan khidmat.

Foto : Dok. Tim IT Miftahul Falah

Upacara diikuti oleh seluruh Pendidi da Tenaga Kependidikan dan semua  murid dari kelas 1 sampai kelas 6 sebanyak 13 rombel. Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Ahmad Yunus, S.Pd.I., M.Pd.

Dalam amanatnya, Ahmad Yunus mengajak seluruh murid untuk memaknai kemerdekaan tidak sekadar sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai tanggung jawab generasi penerus bangsa untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu.

Menurutnya, perjuangan para pahlawan di masa lalu harus diteruskan oleh generasi sekarang melalui pendidikan, akhlak, dan kontribusi positif bagi bangsa.


“Sebagai generasi saat ini, kita harus melanjutkan perjuangan para pendahulu dan para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan menjadi generasi yang berakhlakul karimah, memiliki akhlak yang baik, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa,” pesan Ahmad Yunus dalam amanatnya.

Ia juga menyampaikan ungkapan Arab yang sarat makna bagi generasi muda, “Syubbanul yaum rijalul ghod”, yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku madrasah merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah bangsa di masa mendatang. Karena itu, mereka perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, serta akhlak yang baik.


“Anak-anak yang saat ini masih belia, kelak di kemudian hari akan menjadi pemimpin masa mendatang. Karena itu, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya sejak sekarang,” lanjutnya.

Rangkaian upacara berlangsung dengan lancar. Seluruh petugas upacara berasal dari murid-murid MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah. Mereka menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab sehingga seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana secara lancar, tertib, dan khidmat.

Suasana semakin syahdu ketika doa dipimpin oleh H. Ahmad Halim, S.Pd.I. Dengan khusyuk, seluruh peserta mengikuti doa sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus memanjatkan harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan keberkahan.

Dimeriahkan Tarian Kolosal dan Musik Biola

Semangat peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 tidak berhenti setelah upacara selesai. Keluarga besar MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah juga menyuguhkan berbagai penampilan seni dari para murid.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah tarian kolosal yang merupakan kolaborasi sejumlah tarian daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Penampilan tersebut menjadi gambaran keberagaman budaya Nusantara yang tetap dapat bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak kalah menarik, penampilan musik biola secara live oleh Ananda Aurora, murid kelas 4A, turut memeriahkan suasana. Dengan kelihaian memainkan biola, Aurora mengiringi lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan oleh dua teman vokalisnya, Wulan dan Cantika.

Perpaduan musik, vokal, dan seni tari tersebut menghadirkan suasana peringatan kemerdekaan yang semarak sekaligus sarat pesan pendidikan. Para murid tidak hanya diajak mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga diberikan ruang untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.


Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pun menjadi momentum untuk menanamkan nilai nasionalisme, persatuan, keberanian, tanggung jawab, dan akhlakul karimah kepada generasi muda.

Kemerdekaan bukan sekadar warisan yang diterima, tetapi amanah yang harus dijaga dan diisi dengan karya. Dari madrasah, semangat itu terus ditanamkan: belajar, berakhlak, berkarya, dan kelak menjadi generasi penerus bangsa yang mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan.

Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com