Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

19 September 2026

Dari Refleksi Menuju Aksi: Ketika Kepemimpinan Mulai Mengubah Budaya Madrasah

 Kabarmadrasah.com-Leadership#10

“Jangan ukur kepemimpinan hanya dari apa yang berhasil kita kerjakan hari ini. Ukurlah dari apa yang tetap tumbuh ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.”

Setelah berbicara panjang tentang kepemimpinan, ada satu tahap yang tidak boleh dilewatkan: aksi. Sebab seorang pemimpin tidak dinilai hanya dari seberapa baik ia memahami teori, seberapa banyak ia mengetahui konsep kepemimpinan, atau seberapa sering ia memberikan nasihat kepada orang lain. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan akan terlihat dari perubahan nyata yang terjadi pada dirinya, pada tim yang dipimpinnya, dan pada lingkungan tempat ia bekerja.


Perjalanan pada seri-seri sebelumnya telah membawa kita mengenal gagasan 5G Leadership: Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan Great Hope. Kita kemudian diajak melihat sisi lain kepemimpinan melalui pembahasan tentang pemimpin yang pengecut, kesalahan kepala madrasah dalam memimpin, pentingnya komunikasi, keteladanan, serta keberanian seorang pemimpin untuk melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Kini pertanyaannya bukan lagi sekadar apa itu kepemimpinan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan kita lakukan setelah memahami semua itu?

Sebab refleksi yang tidak diikuti perubahan hanya akan berhenti sebagai renungan. Pengetahuan yang tidak diterjemahkan menjadi perilaku tidak akan banyak mengubah keadaan. Dan kepemimpinan yang hanya berhenti pada jabatan akan kehilangan makna terbesarnya. Kepemimpinan harus bergerak dari pemahaman menuju tindakan.

 

Pemimpin Tidak Harus Mengerjakan Semuanya

Dalam kehidupan sebuah madrasah, kepala madrasah memang memiliki tanggung jawab besar. Ia harus memastikan program berjalan, mengoordinasikan guru dan tenaga kependidikan, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, sekaligus menjaga arah lembaga agar tetap sesuai dengan tujuan pendidikan. Namun, ada satu jebakan yang terkadang tidak disadari oleh seorang pemimpin: merasa bahwa semua persoalan harus diselesaikan sendiri.

Pada awalnya, pola tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk tanggung jawab. Pemimpin menjadi orang pertama yang turun tangan ketika ada masalah. Semua keputusan berada di tangannya. Semua persoalan datang kepadanya. Tetapi jika berlangsung terus-menerus, organisasi justru dapat menjadi terlalu bergantung kepada satu orang.

Guru terbiasa menunggu perintah. Tim ragu mengambil keputusan. Inisiatif menjadi lemah karena setiap langkah harus menunggu persetujuan pemimpin.

Di sinilah pemimpin perlu mengubah cara pandangnya. Tugas seorang pemimpin bukan menjadi satu-satunya orang yang mampu bekerja, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat semakin banyak orang mampu bekerja dan mengambil tanggung jawab.

Pemimpin yang berhasil bukanlah orang yang membuat dirinya menjadi pusat dari segala aktivitas. Ia justru mampu membangun sistem dan menumbuhkan orang-orang yang dapat bergerak bersama.

 

Dari “Saya” Menuju “Kita”

Perubahan budaya kepemimpinan sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: cara pemimpin menggunakan bahasa. Ada perbedaan suasana ketika seorang pemimpin mengatakan, “Ini program saya,” dengan ketika ia mengatakan, “Ini program kita.” Kata “saya” menempatkan pemimpin sebagai pusat. Sementara kata “kita” membuka ruang bagi orang lain untuk merasa memiliki.

Demikian pula ketika sebuah persoalan muncul. Pemimpin dapat memilih mengatakan, “Siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini?” atau mengubahnya menjadi, “Mari kita lihat bersama apa yang terjadi dan bagaimana kita menyelesaikannya.”

Perbedaannya bukan sekadar pilihan kata. Di baliknya terdapat cara berpikir tentang manusia yang dipimpin.

Pemimpin yang selalu menempatkan dirinya sebagai pusat akan lebih mudah membangun organisasi yang bergantung kepada dirinya. Sebaliknya, pemimpin yang membangun semangat kebersamaan akan lebih mudah menciptakan sense of ownership, yaitu rasa memiliki terhadap pekerjaan dan lembaga.

Ketika guru merasa bahwa madrasah adalah milik bersama, pekerjaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai tugas dari atasan. Ia mulai dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk membangun pendidikan.

 

Budaya Madrasah Tidak Cukup Dibangun dengan Slogan

Di banyak lembaga pendidikan, kita mudah menemukan kata-kata indah tentang disiplin, integritas, profesionalisme, kolaborasi, pelayanan, dan karakter. Semua itu penting. Tetapi budaya tidak lahir hanya karena sebuah slogan dipasang di dinding.

Budaya lahir dari perilaku yang dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya menjadi kebiasaan.

Jika sebuah madrasah ingin membangun budaya disiplin, maka disiplin harus terlihat dalam keseharian para pemimpinnya. Jika ingin membangun budaya komunikasi yang sehat, pemimpin harus menunjukkan bagaimana cara berbicara dan mendengarkan dengan baik. Jika ingin membangun budaya belajar, pemimpin tidak boleh berhenti belajar. Dan jika ingin membangun budaya saling menghargai, penghargaan tersebut harus terlebih dahulu hadir dalam hubungan antara pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Karena itu, seorang pemimpin perlu memahami bahwa budaya organisasi tidak terutama dibentuk oleh apa yang dikatakan pemimpin, tetapi oleh apa yang secara konsisten dilakukan dan ditoleransi oleh pemimpin.

Apa yang terus dilakukan akan menjadi kebiasaan. Apa yang terus ditoleransi akan menjadi budaya.

Berikan Ruang untuk Berbeda Pendapat

Madrasah yang sehat bukan madrasah yang seluruh orangnya selalu sepakat dengan pemimpin. Justru organisasi yang sehat membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat.

Guru yang memiliki pandangan berbeda seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai orang yang sulit diarahkan. Bisa jadi ia sedang melihat persoalan dari sudut yang belum terlihat oleh pemimpin.

Dalam sebuah rapat, misalnya, ketika seorang guru mengatakan, “Mohon izin, saya mempunyai pandangan yang berbeda,” pemimpin memiliki pilihan untuk memotong pembicaraan atau memberikan ruang untuk mendengarkan alasan di balik perbedaan tersebut. Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui.

Pemimpin tetap memiliki kewenangan untuk menentukan keputusan akhir. Namun, proses menuju keputusan akan menjadi lebih sehat ketika setiap pihak memiliki kesempatan menyampaikan argumen secara rasional dan santun. Justru dari perbedaan itulah organisasi dapat menemukan alternatif yang lebih baik.

Sebaliknya, ketika semua orang takut berbicara, rapat mungkin terlihat tenang, tetapi ketenangan tersebut belum tentu menunjukkan kesehatan organisasi. Bisa jadi orang-orang hanya belajar bahwa pendapat yang berbeda tidak memiliki tempat.

 

Kepercayaan Adalah Investasi Kepemimpinan

Seorang pemimpin tidak akan mampu membangun tim yang kuat tanpa memberikan kepercayaan.Kepercayaan memang memiliki risiko. Orang yang diberi tanggung jawab bisa saja melakukan kesalahan. Program yang dipercayakan kepada seseorang mungkin tidak langsung berhasil. Keputusan yang diambil oleh tim mungkin berbeda dari apa yang dipikirkan pemimpin.

Namun, tanpa kesempatan, seseorang juga tidak akan pernah belajar mengambil tanggung jawab. Karena itu, memberikan kepercayaan bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Pemimpin tetap perlu memberikan tujuan, batas kewenangan, pendampingan, dan evaluasi. Yang dihindari adalah kebiasaan mengendalikan setiap detail pekerjaan sampai orang yang diberi tugas tidak memiliki ruang untuk berpikir.

Guru yang dipercaya akan belajar bertanggung jawab. Guru yang diberi kesempatan akan belajar mengambil keputusan. Dan guru yang mendapatkan ruang untuk berkembang akan memiliki peluang menjadi penggerak bagi orang lain.

Di sinilah prinsip Gift dalam 5G Leadership menemukan bentuk praktisnya: pemimpin bukan hanya melihat seseorang berdasarkan posisi yang sedang ditempatinya, tetapi juga berdasarkan potensi yang dapat dikembangkan.

 

Evaluasi Tidak Harus Menjadi Penghakiman

Dalam perjalanan sebuah organisasi, kesalahan adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Program tidak selalu berhasil. Target tidak selalu tercapai. Komunikasi kadang mengalami hambatan. Bahkan keputusan seorang pemimpin pun tidak selalu tepat. Karena itu, budaya evaluasi menjadi penting. Namun, evaluasi akan kehilangan manfaatnya jika hanya digunakan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Ketika sebuah kegiatan tidak berjalan sesuai harapan, pemimpin dapat memilih bertanya, “Siapa yang salah?” Tetapi pemimpin juga dapat mengambil pendekatan yang lebih konstruktif dengan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan apa yang harus kita perbaiki?”

Pertanyaan kedua tidak berarti menghapus tanggung jawab. Jika ada kesalahan yang memang harus dipertanggungjawabkan, tentu harus ada pertanggungjawaban. Namun, organisasi juga perlu mendapatkan pembelajaran dari kesalahan tersebut.

Dengan cara demikian, kesalahan tidak hanya menghasilkan hukuman, tetapi juga menghasilkan pengetahuan baru untuk perbaikan. Inilah karakter organisasi pembelajar: pengalaman tidak dibiarkan berlalu begitu saja, tetapi diolah menjadi pelajaran.

 

Pemimpin Harus Menumbuhkan Pemimpin Baru

Ada ukuran keberhasilan seorang pemimpin yang jauh lebih penting daripada sekadar banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

Ukuran tersebut adalah: apakah orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih mampu?

Jika seorang kepala madrasah mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi tidak meninggalkan orang-orang yang mampu melanjutkan pekerjaannya, maka keberhasilan itu belum sepenuhnya berkelanjutan.

Sebaliknya, jika guru-guru semakin berani mengambil inisiatif, semakin mampu menyelesaikan persoalan, semakin percaya diri memimpin kegiatan, dan semakin siap bertanggung jawab, maka sesungguhnya sedang terjadi proses regenerasi kepemimpinan.

Pemimpin yang baik tidak takut melihat orang lain tumbuh. Ia tidak merasa kehilangan wibawa ketika seorang guru memiliki kemampuan yang lebih baik dalam bidang tertentu. Justru ia merasa berhasil ketika orang-orang di sekelilingnya berkembang.

Karena pada akhirnya, pemimpin yang hebat bukan yang membuat dirinya semakin besar, tetapi yang membuat orang-orang di sekitarnya semakin kuat.

 

Kembali kepada 5G Leadership

Jika perjalanan seri ini kita tarik kembali ke gagasan awal tentang 5G Leadership, kita akan menemukan hubungan yang menarik.

Grand Why memberikan arah. Seorang pemimpin harus mengetahui untuk apa lembaga ini bergerak dan mengapa perjuangan tersebut penting.

·        Gift mengingatkan bahwa setiap orang memiliki potensi. Tugas pemimpin bukan hanya mengatur manusia, tetapi menemukan dan mengembangkan potensi tersebut.

·        Grind mengajarkan bahwa perubahan tidak lahir dari semangat sesaat. Budaya yang baik membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan kesediaan untuk terus bekerja meskipun hasil belum langsung terlihat.

·        Growth Mindset membuat pemimpin dan tim tidak takut belajar dari kesalahan. Kegagalan tidak dilihat sebagai identitas, tetapi sebagai pengalaman yang dapat digunakan untuk berkembang.

·        Great Hope menjaga agar organisasi tidak kehilangan harapan ketika menghadapi tantangan. Pemimpin perlu mampu melihat bahwa keadaan yang belum ideal bukan berarti tidak mungkin diperbaiki.

Kelima unsur tersebut bukan sekadar konsep yang indah untuk dibaca. Nilainya justru muncul ketika diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.

Pemimpin yang Mengubah Budaya

Perubahan sebuah madrasah tidak selalu dimulai dengan program besar. Terkadang ia dimulai dari kepala madrasah yang bersedia mendengarkan guru lebih lama.

  • ·        Dari seorang pemimpin yang berani mengakui kesalahan.
  • ·        Dari rapat yang memberikan ruang bagi perbedaan pendapat.
  • ·        Dari guru yang diberi kepercayaan untuk mengembangkan gagasannya.
  • ·        Dari evaluasi yang tidak mempermalukan.
  • ·        Dari apresiasi yang diberikan secara tulus.
  • ·        Dari kebiasaan belajar yang terus dijaga.

Perubahan-perubahan kecil tersebut, ketika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk sesuatu yang jauh lebih besar: budaya madrasah. Dan ketika budaya telah berubah, perubahan tidak lagi bergantung pada satu orang. Ia mulai hidup dalam kebiasaan seluruh warga madrasah.

 

Apa yang Akan Kita Tinggalkan?

Pada akhirnya, setiap pemimpin akan sampai pada titik ketika masa jabatannya selesai. Kursi kepemimpinan akan berganti. Struktur organisasi akan berubah. Program akan diteruskan atau diperbarui. Nama pemimpin perlahan akan menjadi bagian dari sejarah. Namun, ada sesuatu yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada jabatan: pengaruh.

Seorang guru mungkin masih mengingat pemimpin yang pernah memberinya kesempatan ketika ia belum percaya diri. Seorang anggota tim mungkin masih membawa kebiasaan baik yang dahulu ia pelajari dari pemimpinnya. Bahkan budaya kerja yang dibangun bertahun-tahun dapat terus hidup meskipun orang yang pertama kali menanamkannya sudah tidak lagi berada di dalam organisasi.

Karena itu, pertanyaan penting bagi seorang pemimpin bukan hanya tentang berapa lama ia memegang jabatan. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:

Ketika saya tidak lagi berada di posisi ini, apa yang masih hidup dari cara saya memimpin?

·        Jika yang tersisa hanyalah aturan, mungkin kepemimpinan kita hanya menghasilkan kepatuhan.

·        Jika yang tersisa adalah ketergantungan, mungkin kita belum berhasil membangun tim.

·        Tetapi jika yang tersisa adalah budaya belajar, keberanian, kolaborasi, integritas, keteladanan, dan orang-orang yang mampu melanjutkan kebaikan, maka di situlah kepemimpinan meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada masa jabatan.

 

Dari Jabatan Menuju Pengabdian

Kepemimpinan pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang berada di posisi paling tinggi. Ia adalah tentang siapa yang bersedia mengambil tanggung jawab untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.

Seorang kepala madrasah memang memiliki jabatan formal. Namun kepemimpinan yang sesungguhnya baru terasa ketika jabatan tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan, keteladanan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun manusia, dan kesediaan memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang.

Maka, setelah melalui rangkaian pembahasan tentang 5G Leadership dan berbagai wajah kepemimpinan, kita sampai pada satu kesimpulan sederhana: kepemimpinan tidak selesai ketika kita memahami bagaimana cara memimpin. Kepemimpinan justru dimulai ketika kita mulai mempraktikkannya.

  • ·        Dari refleksi menuju aksi.
  • ·        Dari individu menuju tim.
  • ·        Dari instruksi menuju pemberdayaan.
  • ·        Dari jabatan menuju pengabdian.
  • ·        Dan dari kepemimpinan seseorang menuju budaya kepemimpinan bersama.

Pemimpin mungkin tidak dapat mengubah seluruh keadaan dalam satu malam. Ia juga tidak selalu memiliki jawaban untuk setiap persoalan. Namun, seorang pemimpin selalu memiliki pilihan tentang bagaimana ia bersikap ketika menghadapi persoalan tersebut.

  • ·        Ia dapat memilih menyalahkan atau mencari solusi.
  • ·        Ia dapat memilih menutup ruang dialog atau membuka kesempatan untuk mendengar.
  • ·        Ia dapat memilih memusatkan semua keputusan pada dirinya atau mulai mempercayai tim.
  • ·        Ia dapat memilih mempertahankan cara lama atau berani belajar.
  • ·        Dan ia dapat memilih sekadar mempertahankan jabatan atau menggunakan jabatan tersebut untuk menumbuhkan manusia.

Pada titik inilah kepemimpinan menemukan maknanya. Pemimpin yang baik tidak hanya meninggalkan program yang pernah dijalankan. Ia meninggalkan manusia yang lebih baik, tim yang lebih kuat, dan budaya yang mampu terus bertumbuh.

Karena pada akhirnya, jabatan memiliki batas waktu, tetapi jejak kepemimpinan dapat hidup jauh lebih lama.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

 

Baca selengkapnya ...

12 September 2026

Maulid Nabi di MI NU Miftahul Falah: Kisah Abrahah, Burung Ababil hingga Transformer Sukses Bikin Murid Antusias

KUDUS, kabarmadrasah.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah Kudus, Sabtu (12/9/2026), berlangsung semarak. Bukan sekadar menghadirkan lantunan Al-Qur’an dan Maulid Al-Barzanji, kegiatan yang digelar di Aula Balai Desa Undaan Tengah tersebut dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak: kisah Nabi, storytelling, peraga, sulap, hingga kemunculan karakter robot transformer.


Sejak pukul 07.00 WIB, murid dan keluarga besar madrasah telah mengikuti rangkaian acara dengan penuh antusias. Kegiatan dipandu oleh Ibu Chusnul Inayah, S.Pd.I sebagai pembawa acara.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh ananda Mohammad Bagas, murid kelas 5. Suasana kemudian berlanjut khidmat melalui pembacaan Maulid Al-Barzanji oleh ananda Zafira, Hafida, dan kawan-kawan. Namun, suasana aula berubah semakin hidup ketika Mr. Black tampil di hadapan para murid.


Ketika Sejarah Islam Dibawakan dengan Gaya Anak-Anak

Mengenakan kostum serba hitam, Mr. Black tidak sekadar bercerita. Ia membawa murid masuk ke dalam kisah sejarah yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, terutama peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah.


Dengan gaya storytelling yang atraktif, ekspresi yang kuat, serta bantuan peraga gajah dan burung, kisah tentang kesombongan Abrahah dan kegagalan upayanya menghancurkan Ka’bah menjadi jauh lebih mudah dibayangkan oleh anak-anak.

Abrahah datang dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun, rencana tersebut gagal. Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengirim burung-burung Ababil yang membawa batu dari neraka yang telah ditetapkan sebagai azab bagi pasukan tersebut. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Di tangan Mr. Black, kisah yang selama ini mungkin hanya didengar melalui buku pelajaran berubah menjadi pengalaman yang lebih konkret.

Sesekali murid tertawa, sesekali mereka terdiam memperhatikan peraga yang dimainkan. Pesan tentang kekuasaan Allah dan akibat kesombongan pun disampaikan tanpa membuat suasana menjadi kaku. Inilah salah satu kekuatan pendidikan berbasis pengalaman: anak tidak hanya mendengar, tetapi melihat, membayangkan, tertawa, dan mengingat.


Kepala Madrasah: Kebaikan Harus Dilatih, Bukan Sekadar Diucapkan

Di balik kemeriahan peringatan Maulid, Kepala MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Ahmad Yunus, M.Pd., memberikan pesan yang justru menjadi inti pendidikan karakter dalam kegiatan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa melakukan kebaikan terkadang membutuhkan proses memaksa diri sebelum akhirnya berubah menjadi kebiasaan.

“Kita harus memaksakan diri dalam berbuat kebaikan. Misalnya belajar. Kita paksakan diri sekali, dua kali dan seterusnya. Nanti akan menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter.”

Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna pendidikan yang kuat. Sebab, karakter tidak lahir hanya dari nasihat. Karakter tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.

Murid yang dibiasakan belajar akan belajar dengan lebih ringan. Murid yang dibiasakan disiplin akan mulai merasa tidak nyaman ketika melanggar. Begitu pula dengan kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan berbagai akhlak mulia lainnya.

Dalam konteks Maulid Nabi, pesan tersebut menemukan relevansinya. Mencintai Rasulullah SAW tidak berhenti pada perasaan senang mendengar kisah beliau, tetapi harus dilanjutkan dengan latihan meneladani akhlaknya.


Dari Burung Merpati hingga Transformer

Setelah kisah sejarah disampaikan, Mr. Black kembali mengajak murid memasuki sesi hiburan. Sejumlah atraksi sulap membuat suasana aula semakin riuh. Satu demi satu kejutan ditampilkan. Burung merpati muncul dari sebuah kotak. Ayam muncul dari sebuah wadah. Sebuah payung kemudian digandakan menjadi empat. Setiap atraksi disambut tepuk tangan dan teriakan antusias para murid.

Puncaknya terjadi ketika sosok robot transformer muncul di hadapan mereka. Spontan, murid-murid berebut mendekat. Mereka ingin secara dekat menyaksian sosok karakter yang selama ini hanya mereka kenal dari layar.

Aula Balai Desa Undaan Tengah yang sejak pagi digunakan untuk kegiatan keagamaan itu pun berubah menjadi ruang kegembiraan anak-anak. Tetapi di balik kemeriahan tersebut terdapat satu hal yang menarik: hiburan digunakan sebagai pintu masuk untuk menyampaikan pesan pendidikan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.


Maulid yang Tidak Berhenti di Atas Panggung

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana merayakan kelahiran Nabi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan nilai agama, pendidikan karakter, kreativitas, dan kegembiraan anak dalam satu kegiatan.

Murid diajak mendengar Al-Qur’an, bershalawat melalui Al-Barzanji, mengenal sejarah Islam, menyaksikan storytelling, menikmati sulap, hingga berfoto bersama karakter Transformer. Semua dikemas dalam satu pesan besar: mengenal Nabi Muhammad SAW, mencintai beliau, dan belajar meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Maulid hanya berhenti pada acara, maka ia akan selesai ketika panggung ditutup. Namun jika Maulid berhasil melahirkan kebiasaan baik, maka peringatannya justru baru dimulai setelah acara berakhir.

Sejalan dengan pesan Kepala Madrasah, kebaikan memang perlu dilatih. Sekali, dua kali, berkali-kali—hingga akhirnya menjadi kebiasaan, lalu tumbuh menjadi karakter.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Fathur Rohman, S.Pd.I. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW keluarga besar MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pun berakhir. Tetapi semangat untuk menjadikan kecintaan kepada Rasulullah sebagai bagian dari perilaku sehari-hari diharapkan terus tumbuh di lingkungan madrasah.

Baca selengkapnya ...

11 September 2026

Sebelum Memimpin Orang Lain, Sudahkah Kita Memimpin Diri Sendiri?

Kabarmadrasah.com – Leadership#9

    Ada satu pertanyaan sederhana yang terkadang justru paling sulit dijawab oleh seorang pemimpin:“Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya sebelum saya meminta orang lain berubah?”


    Pertanyaan ini tampak sederhana,namun, bagi seorang pemimpin madrasah, jawabannya bisa menjadi bahan perenungan yang panjang. Sebab memimpin bukan hanya tentang memberikan arahan kepada orang lain. Memimpin juga berarti mengelola diri sendiri—mengelola emosi, waktu, sikap, keputusan, komunikasi, bahkan ego.

    Setelah pada Leadership #8 kita membahas lima kesalahan kepala madrasah saat memimpin, kali ini kita memasuki ruang yang lebih personal: refleksi kepemimpinan.

    Bukan lagi tentang bagaimana melihat kesalahan orang lain.Tetapi tentang keberanian melihat diri sendiri.

 

Pemimpin Adalah Cermin Organisasi

Dalam sebuah madrasah, perilaku pemimpin sering kali menjadi cermin bagi budaya organisasi.Jika pemimpinnya disiplin, budaya disiplin lebih mudah tumbuh. Jika pemimpinnya terbuka terhadap kritik, guru akan lebih berani menyampaikan gagasan. Jika pemimpinnya mau belajar, budaya belajar akan lebih mudah  berkembang.

Sebaliknya, jika pemimpin mudah menyalahkan, budaya saling menyalahkan pun dapat tumbuh. Jika pemimpin tidak mau mendengarkan, komunikasi organisasi menjadi satu arah. Jika pemimpin tidak konsisten, anggota tim akan kebingungan menentukan standar. Karena itu, perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai dari program baru. Terkadang perubahan justru harus dimulai dari orang yang memimpin program tersebut.

 

Jangan Meminta Apa yang Tidak Kita Contohkan

  • ·        Seorang kepala madrasah meminta guru disiplin.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya sudah menjadi contoh kedisiplinan?
  • ·        Seorang pemimpin meminta guru meningkatkan kompetensi.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya masih mau belajar?
  • ·        Pemimpin meminta komunikasi yang santun.
  • Pertanyaannya: Bagaimana cara dirinya berbicara ketika sedang marah?
  • ·        Pemimpin meminta guru bekerja sama.
  • Pertanyaannya: Apakah dirinya mau mendengarkan pendapat orang lain?

Di sinilah keteladanan menjadi sangat penting. Sebab manusia lebih mudah mengikuti contoh daripada sekadar mendengarkan perintah.

Kepemimpinan yang hanya berisi instruksi akan menghasilkan kepatuhan. Tetapi kepemimpinan yang disertai keteladanan dapat menghasilkan kesadaran.

 

Memimpin Diri Sendiri Tidak Mudah

Ada alasan mengapa self-leadership menjadi salah satu kemampuan penting dalam kepemimpinan. Memimpin orang lain terkadang lebih mudah daripada memimpin diri sendiri. Kita bisa meminta orang lain bersabar. Tetapi apakah kita sendiri mampu bersabar?

Kita bisa meminta orang lain mengendalikan emosi. Tetapi apakah kita mampu mengendalikan emosi ketika keputusan kita dipertanyakan?

Kita bisa meminta orang lain menerima kritik. Tetapi apakah kita mampu menerima kritik tanpa langsung bersikap defensif?

Di sinilah kualitas seorang pemimpin diuji. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan mengendalikan diri.

 

Ego: Tantangan yang Sering Tidak Terlihat

    Jabatan membawa kewenangan. Dan kewenangan membawa risiko. Salah satunya adalah ego kepemimpinan. Ketika seseorang terlalu lama berada dalam posisi pengambil keputusan, ada kemungkinan muncul perasaan bahwa pendapatnya harus selalu menjadi yang paling benar. Padahal, jabatan tidak menjadikan seseorang selalu benar. Seorang kepala madrasah tetap bisa salah. Guru tetap bisa memiliki gagasan yang lebih baik. Bawahan terkadang dapat melihat persoalan yang tidak terlihat oleh pemimpin. Bahkan seorang murid pun dapat menyampaikan sesuatu yang membuat orang dewasa berpikir ulang. Maka, pemimpin perlu memiliki kerendahan hati intelektual: “Saya mungkin tidak mengetahui semuanya.”

    Kalimat tersebut bukan kelemahan. Justru merupakan tanda bahwa seorang pemimpin masih memiliki ruang untuk bertumbuh.

 

Berani Mendengar Kritik

Salah satu ukuran kematangan seorang pemimpin adalah bagaimana ia merespons kritik. Kritik yang disampaikan dengan baik seharusnya tidak langsung dianggap sebagai ancaman. Bisa jadi kritik adalah informasi yang tidak menyenangkan, tetapi justru diperlukan. Ada kalanya seorang pemimpin tidak mengetahui bahwa komunikasi yang disampaikannya membingungkan. Tidak mengetahui bahwa sebuah kebijakan menimbulkan persoalan di lapangan. Tidak menyadari bahwa cara bicaranya membuat orang lain enggan menyampaikan pendapat. Jika tidak ada orang yang berani menyampaikan kritik, seorang pemimpin dapat hidup dalam ruang gema-hanya mendengar hal-hal yang menyenangkan dirinya.

Dan kondisi tersebut berbahaya bagi organisasi. Pemimpin membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mengatakan: “Siap, Pak.” Tetapi juga orang yang berani mengatakan: “Mohon izin, saya memiliki pandangan yang berbeda.”

Tentu perbedaan itu harus disampaikan dengan etika. Tetapi  pemimpin juga harus menciptakan ruang agar perbedaan tersebut dapat didengar.

 

Mengubah “Siapa yang Salah?” Menjadi “Apa yang Bisa Diperbaiki?”

Salah satu perubahan pola pikir yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah mengubah pertanyaan. Ketika terjadi masalah, jangan selalu berhenti pada: “Siapa yang salah?” Cobalah bertanya: “Apa yang bisa kita pelajari dari masalah ini?” Lalu: “Apa yang harus kita perbaiki?” Dan:“Bagaimana agar masalah yang sama tidak terulang?”

Perubahan pertanyaan menghasilkan perubahan budaya. Organisasi yang selalu mencari kesalahan akan dipenuhi ketakutan. Organisasi yang terbiasa melakukan refleksi akan dipenuhi pembelajaran. Tentu kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun, pertanggungjawaban dan pembelajaran tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan bersama.

 

Pemimpin yang Mau Berkata: “Saya Salah”

Ada satu kalimat yang sederhana tetapi membutuhkan keberanian luar biasa dari seorang pemimpin: “Saya salah.” Tidak semua pemimpin mampu mengucapkannya. Sebagian takut kehilangan wibawa. Sebagian khawatir dianggap tidak mampu. Sebagian merasa bahwa pemimpin harus selalu terlihat benar. Padahal, mengakui kesalahan justru dapat menjadi salah satu bentuk keteladanan terbaik.

Ketika kepala madrasah berani mengatakan: “Keputusan saya kemarin kurang tepat. Mari kita evaluasi dan perbaiki.” guru belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar. Di sinilah semangat Growth Mindset kembali menemukan relevansinya. Pemimpin yang bertumbuh bukan pemimpin yang tidak pernah salah. Pemimpin yang bertumbuh adalah pemimpin yang belajar dari kesalahannya.

 

Dari Kritik Menuju Refleksi

Refleksi berbeda dengan menyalahkan diri sendiri.Refleksi berarti melihat kembali pengalaman dengan jujur untuk menemukan apa yang dapat diperbaiki. Setelah sebuah rapat yang tidak berjalan baik, misalnya, seorang pemimpin dapat bertanya:

  • Apakah tujuan rapat sudah jelas?
  • Apakah semua pihak mendapatkan kesempatan berbicara?
  • Apakah saya terlalu banyak berbicara?
  • Apakah saya mendengarkan?
  • Apakah keputusan akhirnya dipahami semua pihak?

Begitu pula setelah sebuah program tidak mencapai target. Bukan sekadar: “Siapa yang tidak bekerja?” Tetapi juga:

  •  “Apakah saya sudah memberikan arahan yang jelas?”
  •  “Apakah sumber dayanya cukup?”
  • “Apakah pembagian tugasnya tepat?”
  • “Apakah saya melakukan pendampingan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pemimpin tidak hanya menjadi hakim, tetapi juga menjadi pembelajar.

 

Pemimpin Tidak Harus Selalu Berada di Depan

Ada kalanya pemimpin perlu berada di depan untuk memberikan arah.Ada kalanya ia berada di tengah untuk bekerja bersama. Dan ada kalanya ia perlu berada di belakang untuk memberikan dukungan kepada tim. Kepemimpinan bukan tentang selalu menjadi orang yang paling terlihat. Justru salah satu keberhasilan pemimpin adalah ketika tim mampu bergerak tanpa harus selalu menunggu instruksi.

Jika setiap keputusan kecil harus menunggu kepala madrasah, mungkin organisasi terlalu bergantung kepada satu orang. Tetapi jika guru memiliki keberanian mengambil inisiatif dalam koridor yang benar, itu menunjukkan bahwa pemimpin berhasil menumbuhkan kepemimpinan di dalam tim.

 

Dari “Saya Memimpin” Menjadi “Kita Bertumbuh”

Inilah titik penting dari refleksi kepemimpinan. Pemimpin tidak seharusnya menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia adalah pengarah, penggerak, fasilitator, sekaligus teladan. Tujuannya bukan membuat semua orang bergantung kepadanya. Tujuannya adalah membuat semakin banyak orang mampu berkembang dan mengambil peran.

Karena itu, kepemimpinan yang sehat tidak menghasilkan pengikut yang takut. Ia menghasilkan anggota tim yang percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama.

 

Refleksi Leadership #9

Kini saatnya pertanyaan tersebut diarahkan kepada diri kita sendiri.

·        Tentang keteladanan : Apakah saya sudah melakukan apa yang saya minta dari orang lain?

·        Tentang komunikasi : Apakah saya lebih banyak berbicara atau benar-benar mendengarkan?

·        Tentang kritik : Apakah orang-orang di sekitar saya merasa aman menyampaikan pendapat yang berbeda?

·        Tentang kesalahan : Apakah saya berani mengakui kesalahan saya sendiri?

·        Tentang ego : Apakah jabatan membuat saya sulit menerima masukan?

·        Tentang pertumbuhan : Apa yang sudah saya pelajari dari kesalahan kepemimpinan saya selama ini?

Dan pertanyaan yang paling penting: “Jika saya ingin madrasah ini berubah, perubahan apa yang harus saya mulai dari diri saya sendiri?”

 

Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa

Ada pesan penting yang layak direnungkan dalam konteks pendidikan: perubahan harus dimulai dari orang dewasa.

Guru memiliki pengaruh terhadap murid. Kepala madrasah memiliki pengaruh terhadap guru. Karena itu, perubahan budaya madrasah tidak cukup hanya dilakukan dengan membuat aturan. Budaya dibangun melalui contoh yang dilakukan berulang-ulang. Anak bukanlah cermin kata-kata kita, melainkan cermin perilaku kita orang dewasa

  • ·        Jika ingin budaya literasi tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan budaya membaca.
  • ·        Jika ingin budaya disiplin tumbuh, orang dewasa harus menunjukkan disiplin.
  • ·        Jika ingin budaya saling menghargai tumbuh, orang dewasa harus mempraktikkan penghargaan.
  • ·        Jika ingin murid memiliki karakter baik, orang dewasa harus menunjukkan karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan. Ia harus diperlihatkan.

 

Bercermin Sebelum Menunjuk

    Ada kalanya kita terlalu sibuk melihat apa yang harus diperbaiki dari orang lain.

  •  Guru harus disiplin.
  • Guru harus komunikatif.
  •  Guru harus kreatif.
  • Guru harus bertanggung jawab.
  • Guru harus mau belajar.
  • Semua itu benar.

Tetapi seorang pemimpin perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana dengan saya?”

  •  Apakah saya sudah disiplin?
  •   Apakah saya komunikatif?
  •   Apakah saya kreatif?
  • Apakah saya bertanggung jawab?
  • Apakah saya masih mau belajar?

Karena perubahan yang hanya dituntut kepada orang lain akan mudah menjadi perintah. Tetapi perubahan yang dimulai dari diri sendiri dapat menjadi keteladanan.

Dan keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Sebagaimana pesan dalam materi kepemimpinan: “Pemimpin yang hebat bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar, memperbaiki diri, dan menginspirasi tim untuk tumbuh bersama.”

  • Maka, sebelum memimpin guru, pimpinlah diri sendiri.
  • Sebelum meminta orang lain berubah, beranilah berubah.
  • Sebelum meminta orang lain belajar, jadilah pembelajar.

Dan sebelum menuntut orang lain menjadi teladan, pastikan diri kita layak menjadi contoh. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak orang yang mengikuti kita. Kepemimpinan adalah tentang seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena pernah berjalan bersama kita.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "Perubahan Karakter dimulai dari Aktor Utama" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi. 

Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com