KUDUS, KabarMadrasah.com — Jambore Ranting (Jamran) Gerakan Pramuka Kwartir
Ranting Undaan Tahun 2026 bukan sekadar agenda perkemahan dan perlombaan. Lebih
dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pendidikan karakter bagi generasi muda
melalui pengalaman langsung, kebersamaan, kedisiplinan, kemandirian, serta
penguatan jiwa persaudaraan.
Foto bersama Pengawas madrasah beserta kepala Mi Undaan
di depan ;angkalan MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah
Jambore
Ranting Undaan 2026 dilaksanakan pada 1–3 September 2026 di Lapangan Desa
Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut diikuti
Pramuka Penggalang dari berbagai pangkalan SD, MI, SMP, dan MTs se-Kwartir
Ranting Undaan. Dalam proposal kegiatan tercatat terdapat 12 pangkalan MI yang
turut menjadi bagian dari 54 pangkalan peserta.
Mengusung
tema “Bersaudara, Berbudaya, Berbakti, Berkreasi” atau “Beraksi”,
Jamran Undaan diarahkan tidak hanya untuk menguji keterampilan kepramukaan,
tetapi juga membina dan mengevaluasi pengetahuan serta keterampilan peserta
dalam pendidikan kepramukaan di pangkalannya.
Jangan
Pulang Hanya Membawa Pengalaman Lomba
Dari perspektif
pendidikan madrasah, kegiatan seperti Jamran memiliki posisi penting karena
memberikan pengalaman belajar yang tidak seluruhnya dapat diperoleh di ruang
kelas.
Kegiatan
perkemahan mengajarkan murid untuk mengatur diri, bekerja dalam regu, menaati
aturan, menyelesaikan persoalan bersama, serta belajar bertanggung jawab atas
tugas yang diberikan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan sasaran kegiatan
Jamran yang menekankan kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, nasionalisme,
patriotisme, persaudaraan, serta pengembangan wawasan dan keterampilan.

Foto : H. Noor Yadi saat berkunjung di pangkalan MI Raudlatut Tholibin Sambung
Membawa Nama
Madrasah dengan Sikap
Bagi
peserta, keikutsertaan dalam Jamran juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan
karakter murid madrasah di tengah pergaulan dengan peserta dari berbagai satuan
pendidikan. Identitas madrasah tidak cukup ditunjukkan melalui seragam maupun
atribut pangkalan. Identitas itu justru terlihat dari sikap dan perilaku:
bagaimana peserta menghormati pembina, menghargai peserta lain, menjaga
kebersihan lingkungan perkemahan, mengikuti kegiatan dengan tertib, menjalankan
ibadah, serta mampu menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sportif.
Dalam
konteks inilah semangat “Bersaudara, Berbudaya, Berbakti, Berkreasi”
menemukan maknanya. Persaudaraan tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan
melalui kesediaan bekerja sama. Budaya tercermin dalam sikap santun dan
menghargai perbedaan. Bakti diwujudkan melalui kepedulian dan tanggung jawab.
Sementara kreativitas hadir melalui keberanian berkarya dan menyelesaikan
tantangan.
Jamran
sebagai Laboratorium Karakter
Berbagai
kegiatan yang diagendakan dalam Jamran—mulai dari keterampilan kepramukaan,
cerdas tangkas, pioneering, kegiatan kebersihan dan kesehatan perkemahan,
pentas seni dan budaya, kegiatan olahraga, hingga kegiatan jelajah—menempatkan
peserta dalam situasi belajar yang konkret.
Foto : Peserta jamran dari pangkalan MI Undaan Tengah
Di sinilah
pendidikan karakter bekerja secara nyata. Seorang peserta belajar bahwa
kedisiplinan bukan sekadar datang tepat waktu, tetapi kesiapan mengikuti
seluruh rangkaian kegiatan. Kemandirian bukan sekadar mampu mengurus
perlengkapan pribadi, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan menyelesaikan
persoalan. Sementara kerja sama bukan sekadar berada dalam satu regu, tetapi
saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
Bagi
madrasah, pengalaman tersebut seharusnya tidak berhenti ketika tenda dibongkar
dan peserta kembali ke sekolah. Nilai-nilai yang diperoleh selama Jamran perlu
dibawa kembali ke lingkungan madrasah dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Pulang
Membawa Karakter, Bukan Sekadar Piala
Jambore
Ranting pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara dalam
perlombaan. Prestasi memang penting sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras
peserta. Namun, keberhasilan pendidikan kepramukaan memiliki ukuran yang lebih
panjang.
Peserta yang
semula kurang percaya diri menjadi berani tampil. Peserta yang terbiasa
bergantung kepada orang lain mulai belajar mandiri. Peserta yang belum terbiasa
bekerja dalam kelompok belajar memahami arti tanggung jawab. Dan peserta yang
sebelumnya hanya mengenal teman dari lingkungan madrasahnya mulai mengenal persaudaraan
yang lebih luas.
Karena itu,
pesan terpenting bagi peserta adalah berkompetisilah
dengan sungguh-sungguh, tetapi tetaplah bersaudara; berusahalah meraih
prestasi, tetapi jangan kehilangan sportivitas; dan jadikan setiap pengalaman
sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebab,
sebagaimana tujuan penyelenggaraan Jamran, pendidikan kepramukaan pada akhirnya
diarahkan untuk membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan,
kemandirian, tanggung jawab, rasa percaya diri, nasionalisme, patriotisme, dan
jiwa persaudaraan.