Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

03 September 2026

5 Kesalahan Kepala Madrasah Saat Memimpin: Ketika Kebiasaan Kecil Menghambat Kemajuan

Kabarmadrasah.com –Leadership#8

Menjadi kepala madrasah bukan sekadar memiliki jabatan. Di balik sebuah jabatan terdapat tanggung jawab untuk menggerakkan manusia, membangun budaya kerja, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta memastikan madrasah terus bertumbuh. Karena itu, kepemimpinan tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak program yang berhasil dilaksanakan. Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari bagaimana seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.


  • ·        Apakah guru merasa dihargai?
  • ·        Apakah komunikasi berjalan terbuka?
  • ·        Apakah pemimpin menjadi teladan?
  • ·        Apakah setiap orang memahami arah yang sedang dituju?

·        Dan apakah kepala madrasah hadir bukan hanya ketika administrasi harus diselesaikan, tetapi juga ketika guru dan murid membutuhkan dukungan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting ketika Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan materi “5 Kesalahan Kepala Sekolah Saat Memimpin” dalam pembinaan kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Materi tersebut bukan semata-mata daftar kesalahan. Ia lebih tepat dipahami sebagai cermin untuk melakukan refleksi kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik bukan pemimpin yang tidak pernah melakukan kesalahan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau menyadari, mengevaluasi, dan memperbaiki kesalahannya.

1. Terlalu Sering Menyalahkan

Ketika sebuah program tidak berjalan sesuai harapan, respons pertama seorang pemimpin menjadi sangat penting. Ada pemimpin yang langsung bertanya: “Siapa yang salah?” Namun ada pula pemimpin yang bertanya: “Apa yang menyebabkan ini terjadi dan bagaimana kita memperbaikinya?”

Dua pertanyaan tersebut menghasilkan budaya organisasi yang berbeda. Jika pemimpin terlalu sering mencari siapa yang salah, anggota tim akan belajar untuk melindungi diri. Ketika muncul masalah, mereka sibuk mencari alasan. Ketika program gagal, mereka mencari pihak lain untuk dijadikan penyebab. Pada akhirnya, energi organisasi habis bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk mencari kambing hitam. Padahal, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya penyelesaian masalah.

Tentu bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Akuntabilitas tetap penting. Namun, akuntabilitas yang sehat harus disertai evaluasi dan pembelajaran.Pertanyaan utamanya bukan hanya: “Siapa yang salah?” Tetapi: “Apa yang harus kita perbaiki agar kesalahan ini tidak terulang?”

 

2. Tidak Mau Mendengarkan

Pemimpin memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. Tetapi kewenangan tidak berarti pemimpin harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Kadang-kadang, kualitas seorang pemimpin justru terlihat dari kemampuannya mendengarkan.

Guru memiliki pengalaman di kelas. Tenaga kependidikan mengetahui persoalan administrasi. Murid memiliki pengalaman belajar. Orang tua memiliki perspektif terhadap pelayanan madrasah. Semua itu merupakan sumber informasi yang berharga. Ketika pemimpin tidak mau mendengarkan, informasi yang sampai kepadanya akan semakin sedikit. Akibatnya, keputusan bisa saja terlihat benar di atas meja, tetapi tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui.

Pemimpin tetap memiliki hak untuk menentukan keputusan. Namun sebelum memutuskan, ia perlu memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Pemimpin yang mau mendengarkan sedang membangun satu hal yang sangat penting: kepercayaan.

3. Tidak Menjadi Teladan

Guru adalah teladan bagi murid. Tetapi sebelum guru menjadi teladan bagi murid, seorang pemimpin perlu menjadi teladan bagi guru. Inilah salah satu prinsip paling sederhana sekaligus paling sulit dalam kepemimpinan: Apa yang dilakukan pemimpin sering kali lebih kuat daripada apa yang dikatakannya.

·        Jika pemimpin meminta disiplin, tetapi dirinya tidak disiplin, pesan tersebut kehilangan kekuatan.

·        Jika pemimpin meminta guru datang tepat waktu, tetapi dirinya sendiri sering terlambat, akan muncul pertanyaan tentang konsistensi.

·        Jika pemimpin meminta guru menjalankan aturan, tetapi dirinya sendiri mengabaikannya, kewibawaan kepemimpinan akan berkurang.

Keteladanan tidak selalu berupa tindakan besar.

  • ·        Datang tepat waktu.
  • ·        Menepati janji.
  • ·        Menghargai orang lain.
  • ·        Berbicara santun.
  • ·        Mengakui kesalahan.
  • ·        Meminta maaf ketika keliru.
  • ·        Memberikan apresiasi.

·        Bahkan bersedia turun tangan ketika tim menghadapi kesulitan.

Hal-hal sederhana tersebut justru menjadi bahasa kepemimpinan yang paling mudah dipahami.

4. Komunikasi Tidak Jelas

Banyak persoalan dalam organisasi sebenarnya bukan karena orang tidak mau bekerja. Kadang mereka tidak memahami apa yang harus dikerjakan. Instruksi yang berubah-ubah. Informasi yang tidak lengkap. Tujuan yang tidak dijelaskan. Pembagian tugas yang tidak jelas. Batas waktu yang tidak tegas. Semua itu dapat membuat pekerjaan berjalan tanpa arah yang sama. Pemimpin perlu memahami bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan perintah. Komunikasi harus memastikan bahwa pesan dipahami.

Jika kepala madrasah mengatakan: “Tolong program ini segera dilaksanakan.”

Pertanyaannya: Program apa? Siapa yang bertanggung jawab? Kapan dilaksanakan? Apa targetnya? Bagaimana indikator keberhasilannya?

Tanpa kejelasan tersebut, sebuah instruksi dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda. Karena itu, pemimpin perlu membangun komunikasi yang jelas, terbuka, konsisten, dan dua arah. Dan sekali lagi, komunikasi yang baik bukan hanya tentang kemampuan berbicara. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan.

 

5. Hanya Fokus pada Administrasi

Administrasi adalah bagian penting dalam pengelolaan madrasah.Dokumen harus tertata. Program harus terdokumentasi.Laporan harus diselesaikan. Data harus akurat.Namun, ada bahaya ketika kepemimpinan berhenti pada administrasi. Madrasah bukan sekadar kumpulan dokumen. Madrasah adalah organisasi pendidikan yang di dalamnya terdapat manusia. Ada guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan masyarakat. Karena itu, kepala madrasah tidak cukup hanya memastikan bahwa laporan selesai. Ia juga perlu memastikan:

  • ·        Apakah guru berkembang?
  • ·        Apakah pembelajaran semakin baik?
  • ·        Apakah murid merasa aman dan nyaman?
  • ·        Apakah budaya kerja semakin sehat?
  • ·        Apakah program yang dibuat benar-benar memberikan dampak?

Administrasi seharusnya menjadi alat untuk mendukung peningkatan mutu, bukan tujuan akhir kepemimpinan.

 

Lima Kesalahan, Satu Benang Merah

Jika kelima kesalahan tersebut diperhatikan, sebenarnya terdapat satu benang merah. Kepemimpinan yang terlalu berpusat pada diri sendiri. Terlalu sering menyalahkan membuat pemimpin berfokus pada kesalahan orang lain. Tidak mau mendengarkan membuat pemimpin berfokus pada pikirannya sendiri. Tidak menjadi teladan membuat pemimpin menuntut orang lain tanpa menuntut dirinya sendiri. Komunikasi tidak jelas membuat pemimpin gagal memastikan orang lain memahami arah yang dituju. Sementara terlalu fokus pada administrasi dapat membuat pemimpin lupa bahwa inti madrasah adalah manusia dan proses pendidikan. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan perubahan perspektif: dari “saya” menuju “kita”.

 

Pemimpin yang Hebat Bukan yang Selalu Benar

Pesan penutup pada materi memberikan perspektif yang sangat menarik: “Pemimpin yang hebat bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar, memperbaiki diri, dan menginspirasi tim untuk tumbuh bersama.”

Kalimat ini penting karena membongkar anggapan bahwa seorang pemimpin harus selalu terlihat sempurna. Tidak. Pemimpin juga manusia.

  • ·        Ia bisa keliru.
  • ·        Ia bisa salah mengambil keputusan.
  • ·        Ia bisa kurang tepat berkomunikasi.
  • ·        Ia bisa terlambat memahami sebuah persoalan.

Yang membedakan adalah apa yang dilakukan setelah menyadari kesalahan tersebut.

  • ·        Apakah ia mencari pembenaran?
  • ·        Atau melakukan refleksi?
  • ·        Apakah ia menyalahkan orang lain?
  • ·        Atau mengambil tanggung jawab?
  • ·        Apakah ia mempertahankan ego?
  • ·        Atau bersedia belajar?

Di situlah kualitas kepemimpinan diuji.

 

Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa

Menariknya, materi pembinaan tersebut juga mengarah pada refleksi mendalam tentang Kurikulum Berbasis Cinta: “Memulai Perubahan dari Orang Dewasa.”

Pesan ini memiliki hubungan yang kuat dengan kepemimpinan. Jika kita menginginkan guru yang disiplin, pemimpin harus memberi contoh disiplin. Jika kita menginginkan guru yang mau belajar, pemimpin harus menjadi pembelajar. Jika kita menginginkan komunikasi yang santun, pemimpin harus menunjukkan komunikasi yang santun. Jika kita menginginkan budaya saling menghargai, pemimpin harus terlebih dahulu menghargai orang lain.

Perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai dengan program baru. Kadang perubahan justru dimulai dari perubahan perilaku orang dewasa yang memimpin.

 

Refleksi Leadership #8

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

1. Ketika terjadi kesalahan, apakah saya lebih cepat mencari siapa yang salah daripada mencari solusi?

2. Apakah guru merasa nyaman menyampaikan pendapat yang berbeda kepada saya?

3. Apakah perilaku saya sudah sesuai dengan aturan yang saya tuntut dari orang lain?

4. Apakah instruksi dan komunikasi saya sudah cukup jelas?

5. Apakah saya terlalu sibuk dengan administrasi hingga kurang hadir dalam persoalan guru dan murid?

6. Jika ada kritik terhadap kepemimpinan saya, apakah saya menerimanya sebagai ancaman atau sebagai bahan belajar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ditujukan untuk menghakimi. Justru sebaliknya. Ia adalah cermin. Dan setiap pemimpin sesekali membutuhkan cermin untuk melihat apakah dirinya masih berada di jalan yang benar.

 

Memimpin Bukan Tentang Kesempurnaan

Lima kesalahan dalam kepemimpinan bukanlah daftar untuk mencari siapa yang paling banyak melakukan kesalahan. Ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan selalu membutuhkan evaluasi.

Pemimpin yang hebat bukan orang yang tidak pernah salah. Pemimpin yang hebat adalah orang yang ketika salah, berani mengakuinya. Ketika dikritik, mau mendengarkan. Ketika menghadapi persoalan, tidak mencari kambing hitam. Ketika memberikan aturan, bersedia menjadi teladan. Ketika berkomunikasi, berusaha memastikan pesan benar-benar dipahami. Dan ketika mengelola administrasi, tidak lupa bahwa di balik setiap dokumen terdapat manusia yang harus dilayani dan dikembangkan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala madrasah bukan hanya terlihat dari tebalnya laporan atau banyaknya program.

Keberhasilan kepemimpinan akan jauh lebih terasa ketika: guru tumbuh, murid berkembang, tim semakin solid, komunikasi semakin sehat, dan madrasah bergerak maju bersama. Maka, sebelum bertanya: “Apa yang harus diperbaiki di madrasah saya?” seorang pemimpin mungkin perlu terlebih dahulu bertanya: “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?”

Karena sering kali, perubahan terbesar di sebuah madrasah dimulai bukan dari meja rapat, bukan dari dokumen program, melainkan dari keberanian seorang pemimpin untuk bercermin.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5 Kesalahan Kepala Madrasah Saat Memimpin" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.

Comments
0 Comments

No comments:

Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com