Kabarmadrasah.com- Leadership#7
“Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang keberanian
bertanggung jawab.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan kuat dalam materi pembinaan kepemimpinan yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Setelah sebelumnya
membahas konsep 5G Leadership—Grand Why, Gift, Grind, Growth Mindset, dan
Great Hope, pembahasan kali ini bergerak ke sisi yang berbeda: mengenali
tipologi pemimpin yang justru harus dihindari. Salah satunya adalah leader
yang pengecut dan tidak mampu mengelola komunikasi serta argumentasi.
Istilah
tersebut memang terdengar keras. Namun, jika dicermati, yang dikritisi bukanlah
pribadi seseorang, melainkan perilaku kepemimpinan yang dapat melemahkan
organisasi. Sebab seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki jabatan. Ia harus
memiliki keberanian untuk berdiri di atas keputusan, menghadapi persoalan,
mengelola perbedaan pendapat, dan mempertanggungjawabkan amanahnya.
Bukan
Tentang Siapa yang Berkuasa, tetapi Siapa yang Berani Bertanggung Jawab
Jabatan memberikan seseorang kewenangan.Tetapi
kewenangan tidak otomatis melahirkan kepemimpinan. Seorang kepala madrasah,
kepala sekolah, ketua organisasi, maupun pemimpin sebuah tim dapat memiliki
posisi tertinggi dalam struktur organisasi.Namun, kualitas kepemimpinannya
justru akan terlihat ketika menghadapi persoalan.
- ·
Apakah ia berani mengambil keputusan?
- ·
Apakah ia mampu menjelaskan alasan keputusannya?
- ·
Apakah ia bersedia menerima kritik?
- ·
Apakah ia mampu berdialog ketika terdapat perbedaan pendapat?
Dan yang paling penting:
Apakah ia berani bertanggung jawab ketika keputusan yang diambil
ternyata memiliki kekurangan?
Di sinilah perbedaan antara memegang jabatan
dan menjalankan kepemimpinan menjadi sangat jelas.
Siapa Pemimpin yang Pengecut?
Pemimpin pengecut bukan berarti orang yang secara
fisik tidak berani. Dalam konteks kepemimpinan, istilah tersebut lebih tepat
dipahami sebagai pemimpin yang tidak memiliki keberanian moral dan
intelektual untuk menghadapi persoalan secara terbuka dan bertanggung jawab. Ia
cenderung menghindari masalah. Takut menghadapi tekanan. Ragu mengambil
keputusan. Tidak nyaman ketika mendapatkan kritik. Dan ketika muncul persoalan,
ia lebih memilih mencari jalan yang paling aman bagi dirinya daripada jalan
yang paling baik bagi organisasi. Pada titik inilah kepemimpinan mulai
kehilangan substansinya.
1. Tidak
Berani Berdiri di Atas Argumentasinya Sendiri
Salah satu
ciri yang ditekankan dalam materi adalah tidak berani berdiri di atas
argumentasinya sendiri. Seorang pemimpin tentu boleh menerima masukan. Bahkan
pemimpin yang baik memang harus mau mendengarkan. Tetapi setelah
mempertimbangkan berbagai masukan, ia harus mampu mengambil sikap. Pemimpin
tidak seharusnya selalu bersembunyi di balik pendapat orang lain. Ketika
keputusan benar, ia harus berani mempertanggungjawabkannya. Ketika keputusan
ternyata keliru, ia juga harus berani mengakuinya. Itulah integritas
kepemimpinan.
Bukan selalu benar, tetapi berani bertanggung
jawab atas apa yang diyakini dan diputuskan.
2. Takut Menghadapi Konflik
Konflik
dalam organisasi tidak selalu berarti kegagalan. Perbedaan pendapat merupakan
sesuatu yang wajar. Guru bisa memiliki pandangan berbeda dengan kepala
madrasah. Anggota tim bisa memiliki usulan yang berbeda. Bahkan dalam sebuah
rapat, sangat mungkin muncul argumentasi yang beragam. Masalahnya bukan pada
adanya perbedaan. Masalah muncul ketika pemimpin tidak mampu mengelola
perbedaan tersebut.
Pemimpin
yang pengecut cenderung menghindari konflik dengan cara yang tidak sehat.
- ·
Masalah dibiarkan.
- ·
Ketegangan dipendam.
- ·
Persoalan tidak dibicarakan secara terbuka.
·
Akibatnya, persoalan kecil dapat berkembang menjadi persoalan besar.
Pemimpin
yang matang justru berani menghadapi persoalan melalui komunikasi. Bukan
mencari siapa yang harus dikalahkan, tetapi mencari apa yang harus
diselesaikan.
3. Tidak Matang Secara Emosional
Kepemimpinan
membutuhkan kecerdasan emosional. Pemimpin akan menghadapi kritik, tekanan,
perbedaan karakter, bahkan mungkin penolakan. Jika setiap kritik dianggap sebagai
serangan pribadi, maka pemimpin akan mudah bersikap defensif. Jika setiap
perbedaan pendapat dianggap sebagai pembangkangan, maka ruang dialog akan
semakin sempit. Jika setiap persoalan dijawab dengan kemarahan, maka
orang-orang akhirnya memilih diam. Padahal, diamnya bawahan tidak selalu
berarti setuju. Bisa jadi mereka hanya tidak lagi merasa aman untuk
menyampaikan pendapat. Karena itu, pemimpin perlu mampu mengendalikan emosi dan
membedakan antara kritik terhadap keputusan dengan serangan terhadap
pribadi.
4. Berlindung di Balik Orang Lain
Ciri lain
yang perlu diwaspadai adalah pemimpin yang tidak berani berdiri di depan
ketika persoalan muncul, tetapi menggunakan orang lain sebagai tameng. Ketika
berhasil, ia tampil sebagai pihak yang paling depan. Namun ketika muncul
masalah, ia mencari pihak yang dapat disalahkan.
Dalam
kepemimpinan, perilaku seperti ini sangat berbahaya.
Sebab anggota organisasi akhirnya belajar bahwa:
“Kalau berhasil, pemimpin mengambil nama. Kalau
gagal, bawahan yang disalahkan.”
Jika budaya
seperti ini berkembang, kepercayaan akan runtuh.
Pemimpin sejati justru melakukan sebaliknya. Ketika
keberhasilan datang, ia memberikan apresiasi kepada tim. Ketika masalah muncul,
ia hadir bersama tim untuk menyelesaikannya.
Ia tidak meminjam tangan orang lain untuk
menghadapi persoalan yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Gamang dan Tidak Konsisten
Pemimpin
juga harus memiliki ketegasan. Tegas bukan berarti keras. Tegas berarti
memiliki kejelasan sikap dan konsistensi dalam menjalankan keputusan. Pemimpin
yang selalu berubah karena tekanan akan membuat organisasi kehilangan arah. Hari
ini mengatakan A. Besok berubah menjadi B. Hari ini aturan ditegakkan.
Besok aturan yang sama justru diabaikan. Lama-kelamaan
anggota organisasi tidak lagi memahami standar apa yang sebenarnya harus mereka
ikuti. Konsistensi menjadi penting karena tim membutuhkan kepastian arah.
Pemimpin
boleh mengubah keputusan apabila terdapat alasan yang kuat. Tetapi perubahan
harus dijelaskan secara rasional, bukan semata-mata karena takut menghadapi
tekanan.
Ketika Pemimpin Takut, Organisasi Ikut Membayar Harganya
Persoalan
pemimpin pengecut tidak berhenti pada dirinya sendiri. Dampaknya dapat
dirasakan oleh seluruh organisasi. Dalam materi pembinaan tersebut, beberapa
dampak yang digambarkan antara lain:
1. Ketidakpercayaan Meluas
Ketika pemimpin tidak konsisten dan tidak berani
bertanggung jawab, anggota organisasi mulai kehilangan kepercayaan.
2. Perpecahan Internal
Komunikasi yang buruk dan ketidakmampuan mengelola
konflik dapat menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan.
3.
Energi Habis pada Konflik
Energi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan
kualitas madrasah justru habis untuk persoalan internal.
4.
Potensi dan Talenta Menjauh
Orang-orang yang memiliki kemampuan dan gagasan
mungkin memilih diam karena merasa tidak mendapatkan ruang.
Bahkan dalam jangka panjang, orang-orang terbaik
dapat kehilangan motivasi untuk terlibat.
5.
Reputasi Lembaga Menurun
Ketika konflik internal terus berlangsung dan tidak
terselesaikan, dampaknya dapat keluar dari organisasi dan memengaruhi
kepercayaan masyarakat.
Mengapa Pemimpin Pengecut Berbahaya?
Karena
ketakutan seorang pemimpin dapat menciptakan ketakutan kolektif dalam
organisasi.
- ·
Ketika pemimpin takut menerima kritik, orang lain belajar untuk tidak
mengkritik.
- ·
Ketika pemimpin takut mengambil keputusan, orang lain belajar untuk
menunggu.
- ·
Ketika pemimpin suka menyalahkan, orang lain belajar untuk mencari
kambing hitam.
- ·
Ketika pemimpin tidak konsisten, orang lain belajar untuk mengikuti
kepentingan masing-masing.
Akhirnya organisasi mungkin terlihat tenang.
- ·
Tidak ada yang berdebat.
- ·
Tidak ada yang mengkritik.
- ·
Tidak ada yang mempertanyakan keputusan.
Tetapi ketenangan tersebut belum tentu sehat. Bisa
jadi itu adalah tanda bahwa orang-orang sudah kehilangan keberanian untuk
berbicara.
Pemimpin Sejati Tidak Meminjam Tangan Orang Lain
Ada pesan yang sangat kuat dalam materi ini: Pemimpin
sejati tidak meminjam tangan orang lain. Artinya, seorang pemimpin harus
bersedia berdiri di depan ketika menghadapi konsekuensi dari kepemimpinannya.
- ·
Ia tidak mencari orang lain untuk dijadikan tameng.
- ·
Ia tidak melempar tanggung jawab.
- ·
Ia tidak menyembunyikan keputusan di balik nama orang lain.
- ·
Ia berdiri dengan keberanian dan integritas.
Inilah yang membuat kepemimpinan menjadi sebuah
amanah, bukan sekadar kekuasaan.
Komunikasi Adalah Ujian Kepemimpinan
Seorang
pemimpin mungkin memiliki gagasan yang bagus. Tetapi gagasan tersebut tidak
akan berarti jika tidak mampu dikomunikasikan. Pemimpin perlu mampu menjelaskan
mengapa sebuah keputusan diambil, apa tujuannya, bagaimana pelaksanaannya,
dan apa yang harus dilakukan ketika muncul masalah.
Komunikasi bukan sekadar berbicara. Komunikasi juga
berarti mendengarkan. Bahkan terkadang, kemampuan mendengarkan jauh lebih
menentukan daripada kemampuan berbicara.
Pemimpin yang mau mendengarkan akan mengetahui
persoalan sebelum persoalan tersebut menjadi krisis.
Argumentasi Tidak Harus Menjadi Permusuhan
Dalam sebuah
madrasah, perbedaan argumentasi merupakan hal yang sehat selama dikelola dengan
baik. Guru boleh berbeda pendapat. Tim boleh mengusulkan alternatif. Pemimpin
boleh mempertanyakan sebuah gagasan. Yang harus dijaga adalah cara
berkomunikasinya. Argumentasi seharusnya diarahkan kepada gagasan,
bukan menyerang pribadi.
Kalimat: “Saya kurang setuju dengan gagasan
tersebut karena…”
jauh lebih sehat daripada: “Kamu memang selalu
salah.”
Pemimpin yang matang tidak takut dengan
argumentasi. Ia justru memanfaatkan argumentasi untuk menemukan keputusan yang
lebih baik.
Menjadi Pemimpin yang Berani Bukan Berarti Harus Keras
Ini penting
untuk digarisbawahi. Keberanian tidak identik dengan suara keras. Keberanian
bukan berarti mudah marah. Keberanian bukan berarti memaksakan kehendak. Keberanian
seorang pemimpin justru dapat terlihat dalam hal-hal yang sederhana:
- · Berani mendengar.
- · Berani berkata benar.
- · Berani mengambil keputusan.
- · Berani menerima kritik.
- · Berani mengakui kesalahan.
- · Berani meminta maaf.
- · Berani memperbaiki keputusan.
- ·
Dan yang paling penting:berani bertanggung jawab.
Cermin untuk Diri Sendiri
Materi tentang
“pemimpin pengecut” sebaiknya tidak digunakan untuk menunjuk siapa yang
memiliki karakter tersebut. Justru sebaliknya. Materi ini harus menjadi cermin
bagi setiap pemimpin.
Sebab tidak ada pemimpin yang sempurna. Mungkin
sesekali kita pernah menghindari percakapan yang sulit. Mungkin kita pernah
ragu mengambil keputusan. Mungkin kita pernah merasa tersinggung ketika
dikritik. Mungkin kita pernah terlalu cepat menyalahkan orang lain. Yang
penting adalah apakah kita bersedia menyadarinya dan memperbaikinya. Karena pemimpin
yang mau mengoreksi dirinya sendiri sesungguhnya sedang menunjukkan keberanian.
Refleksi Leadership
#7
Cobalah jawab dengan jujur:
1. Apakah saya berani berdiri di
atas keputusan yang saya ambil?
2. Apakah saya mampu menerima kritik
tanpa merasa diserang secara pribadi?
3. Apakah saya menghadapi konflik
atau justru menghindarinya?
4. Apakah saya pernah menggunakan
orang lain sebagai tameng ketika menghadapi masalah?
5. Apakah keputusan dan sikap saya
konsisten?
6. Apakah guru dan anggota tim
merasa aman untuk menyampaikan pendapat kepada saya?
7. Ketika terjadi kesalahan, apakah
saya mencari solusi atau mencari siapa yang harus disalahkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sederhana.
Namun, jawaban yang jujur dapat menjadi awal
perubahan besar dalam diri seorang pemimpin.
Jabatan Memberi Wewenang, Keberanian Melahirkan Kepemimpinan
Pada
akhirnya, kepemimpinan bukanlah seni untuk membuat orang lain takut. Kepemimpinan
adalah seni untuk membuat orang lain percaya, bertumbuh, dan berani
memberikan yang terbaik.
Pemimpin tidak harus selalu benar. Tetapi ia harus
berani bertanggung jawab. Pemimpin tidak harus selalu menang dalam argumentasi.
Tetapi ia harus mampu mencari keputusan terbaik.
Pemimpin tidak harus menghindari konflik. Tetapi ia
harus mampu mengelolanya dengan komunikasi yang sehat. Dan pemimpin tidak harus
terlihat sempurna. Tetapi ia harus memiliki keberanian untuk berkata: “Saya
keliru. Mari kita perbaiki bersama.”
Sebab pada akhirnya, jabatan hanya memberikan
posisi, tetapi integritaslah yang memberikan kewibawaan.
Dan sebagaimana pesan yang menjadi penutup materi:
“Kepemimpinan bukan seni memainkan manusia, tetapi
seni memuliakan manusia.” Maka,
pemimpin sejati bukanlah mereka yang selalu berdiri paling tinggi.
Pemimpin sejati adalah mereka yang berani berdiri
paling depan ketika harus bertanggung jawab, sekaligus mampu berdiri bersama
tim ketika menghadapi kesulitan. Itulah kepemimpinan yang sesungguhnya. Berani memimpin. Berani
berkomunikasi. Berani berargumentasi. Berani bertanggung jawab.