Kabarmadrasah.com –Leadership#8
Menjadi kepala madrasah bukan sekadar memiliki jabatan. Di balik sebuah jabatan terdapat tanggung jawab untuk menggerakkan manusia, membangun budaya kerja, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta memastikan madrasah terus bertumbuh. Karena itu, kepemimpinan tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak program yang berhasil dilaksanakan. Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari bagaimana seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.
- ·
Apakah guru merasa dihargai?
- ·
Apakah komunikasi berjalan terbuka?
- ·
Apakah pemimpin menjadi teladan?
- ·
Apakah setiap orang memahami arah yang sedang dituju?
·
Dan apakah kepala madrasah hadir bukan hanya ketika administrasi harus
diselesaikan, tetapi juga ketika guru dan murid membutuhkan dukungan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting
ketika Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi,
S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan materi “5 Kesalahan Kepala Sekolah Saat
Memimpin” dalam pembinaan kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah
pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Materi tersebut bukan semata-mata daftar kesalahan.
Ia lebih tepat dipahami sebagai cermin untuk melakukan refleksi
kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik bukan pemimpin yang tidak pernah
melakukan kesalahan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau menyadari,
mengevaluasi, dan memperbaiki kesalahannya.
1. Terlalu
Sering Menyalahkan
Ketika sebuah program tidak berjalan sesuai
harapan, respons pertama seorang pemimpin menjadi sangat penting. Ada pemimpin
yang langsung bertanya: “Siapa yang salah?” Namun ada pula pemimpin yang
bertanya: “Apa yang menyebabkan ini terjadi dan bagaimana kita
memperbaikinya?”
Dua pertanyaan tersebut menghasilkan budaya
organisasi yang berbeda. Jika pemimpin terlalu sering mencari siapa yang salah,
anggota tim akan belajar untuk melindungi diri. Ketika muncul masalah,
mereka sibuk mencari alasan. Ketika program gagal, mereka mencari pihak lain
untuk dijadikan penyebab. Pada akhirnya, energi organisasi habis bukan untuk
mencari solusi, melainkan untuk mencari kambing hitam. Padahal, seorang
pemimpin memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya penyelesaian masalah.
Tentu bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Akuntabilitas
tetap penting. Namun, akuntabilitas yang sehat harus disertai evaluasi dan
pembelajaran.Pertanyaan utamanya bukan hanya: “Siapa yang salah?” Tetapi:
“Apa yang harus kita perbaiki agar kesalahan ini tidak terulang?”
2. Tidak Mau
Mendengarkan
Pemimpin memiliki kewenangan untuk mengambil
keputusan. Tetapi kewenangan tidak berarti pemimpin harus selalu menjadi orang
yang paling banyak berbicara. Kadang-kadang, kualitas seorang pemimpin justru
terlihat dari kemampuannya mendengarkan.
Guru memiliki pengalaman di kelas. Tenaga
kependidikan mengetahui persoalan administrasi. Murid memiliki pengalaman
belajar. Orang tua memiliki perspektif terhadap pelayanan madrasah. Semua itu
merupakan sumber informasi yang berharga. Ketika pemimpin tidak mau
mendengarkan, informasi yang sampai kepadanya akan semakin sedikit. Akibatnya,
keputusan bisa saja terlihat benar di atas meja, tetapi tidak sesuai dengan
kondisi di lapangan.
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui.
Pemimpin tetap memiliki hak untuk menentukan
keputusan. Namun sebelum memutuskan, ia perlu memahami persoalan dari berbagai
sudut pandang. Pemimpin yang mau mendengarkan sedang membangun satu hal yang
sangat penting: kepercayaan.
3. Tidak
Menjadi Teladan
Guru adalah teladan bagi murid. Tetapi sebelum guru
menjadi teladan bagi murid, seorang pemimpin perlu menjadi teladan bagi guru. Inilah
salah satu prinsip paling sederhana sekaligus paling sulit dalam kepemimpinan: Apa
yang dilakukan pemimpin sering kali lebih kuat daripada apa yang dikatakannya.
·
Jika pemimpin meminta disiplin, tetapi dirinya tidak disiplin, pesan
tersebut kehilangan kekuatan.
·
Jika pemimpin meminta guru datang tepat waktu, tetapi dirinya sendiri
sering terlambat, akan muncul pertanyaan tentang konsistensi.
·
Jika pemimpin meminta guru menjalankan aturan, tetapi dirinya sendiri
mengabaikannya, kewibawaan kepemimpinan akan berkurang.
Keteladanan tidak selalu berupa tindakan besar.
- ·
Datang tepat waktu.
- ·
Menepati janji.
- ·
Menghargai orang lain.
- ·
Berbicara santun.
- ·
Mengakui kesalahan.
- ·
Meminta maaf ketika keliru.
- ·
Memberikan apresiasi.
·
Bahkan bersedia turun tangan ketika tim menghadapi kesulitan.
Hal-hal sederhana tersebut justru menjadi bahasa kepemimpinan yang paling mudah dipahami.
4. Komunikasi Tidak Jelas
Banyak persoalan dalam organisasi sebenarnya bukan
karena orang tidak mau bekerja. Kadang mereka tidak memahami apa yang harus
dikerjakan. Instruksi yang berubah-ubah. Informasi yang tidak lengkap. Tujuan
yang tidak dijelaskan. Pembagian tugas yang tidak jelas. Batas waktu yang tidak
tegas. Semua itu dapat membuat pekerjaan berjalan tanpa arah yang sama. Pemimpin
perlu memahami bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan perintah. Komunikasi
harus memastikan bahwa pesan dipahami.
Jika kepala madrasah mengatakan: “Tolong program
ini segera dilaksanakan.”
Pertanyaannya: Program apa? Siapa yang bertanggung jawab? Kapan dilaksanakan? Apa targetnya? Bagaimana indikator keberhasilannya?
Tanpa kejelasan tersebut, sebuah instruksi dapat
menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda. Karena itu, pemimpin perlu
membangun komunikasi yang jelas, terbuka, konsisten, dan dua arah. Dan
sekali lagi, komunikasi yang baik bukan hanya tentang kemampuan berbicara. Pemimpin
juga harus mampu mendengarkan.
5. Hanya Fokus pada Administrasi
Administrasi adalah bagian penting dalam pengelolaan madrasah.Dokumen harus tertata. Program harus terdokumentasi.Laporan harus diselesaikan. Data harus akurat.Namun, ada bahaya ketika kepemimpinan berhenti pada administrasi. Madrasah bukan sekadar kumpulan dokumen. Madrasah adalah organisasi pendidikan yang di dalamnya terdapat manusia. Ada guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan masyarakat. Karena itu, kepala madrasah tidak cukup hanya memastikan bahwa laporan selesai. Ia juga perlu memastikan:
- · Apakah guru berkembang?
- · Apakah pembelajaran semakin baik?
- · Apakah murid merasa aman dan nyaman?
- · Apakah budaya kerja semakin sehat?
- · Apakah program yang dibuat benar-benar memberikan dampak?
Administrasi seharusnya menjadi alat untuk
mendukung peningkatan mutu, bukan tujuan akhir kepemimpinan.
Lima Kesalahan, Satu Benang Merah
Jika kelima kesalahan tersebut diperhatikan,
sebenarnya terdapat satu benang merah. Kepemimpinan yang terlalu berpusat
pada diri sendiri. Terlalu sering menyalahkan membuat pemimpin berfokus
pada kesalahan orang lain. Tidak mau mendengarkan membuat pemimpin berfokus
pada pikirannya sendiri. Tidak menjadi teladan membuat pemimpin menuntut orang
lain tanpa menuntut dirinya sendiri. Komunikasi tidak jelas membuat pemimpin
gagal memastikan orang lain memahami arah yang dituju. Sementara terlalu fokus
pada administrasi dapat membuat pemimpin lupa bahwa inti madrasah adalah
manusia dan proses pendidikan. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan perubahan
perspektif: dari “saya” menuju “kita”.
Pemimpin yang Hebat Bukan yang Selalu Benar
Pesan penutup pada materi memberikan perspektif
yang sangat menarik: “Pemimpin yang hebat bukan yang selalu benar, tetapi
yang mau belajar, memperbaiki diri, dan menginspirasi tim untuk tumbuh
bersama.”
Kalimat ini penting karena membongkar anggapan
bahwa seorang pemimpin harus selalu terlihat sempurna. Tidak. Pemimpin juga
manusia.
- ·
Ia bisa keliru.
- ·
Ia bisa salah mengambil keputusan.
- ·
Ia bisa kurang tepat berkomunikasi.
- ·
Ia bisa terlambat memahami sebuah persoalan.
Yang membedakan adalah apa yang dilakukan
setelah menyadari kesalahan tersebut.
- ·
Apakah ia mencari pembenaran?
- ·
Atau melakukan refleksi?
- ·
Apakah ia menyalahkan orang lain?
- ·
Atau mengambil tanggung jawab?
- ·
Apakah ia mempertahankan ego?
- ·
Atau bersedia belajar?
Di situlah kualitas kepemimpinan diuji.
Kepemimpinan Dimulai dari Orang Dewasa
Menariknya, materi pembinaan tersebut juga mengarah
pada refleksi mendalam tentang Kurikulum Berbasis Cinta: “Memulai Perubahan
dari Orang Dewasa.”
Pesan ini memiliki hubungan yang kuat dengan
kepemimpinan. Jika kita menginginkan guru yang disiplin, pemimpin harus memberi
contoh disiplin. Jika kita menginginkan guru yang mau belajar, pemimpin harus
menjadi pembelajar. Jika kita menginginkan komunikasi yang santun, pemimpin
harus menunjukkan komunikasi yang santun. Jika kita menginginkan budaya saling
menghargai, pemimpin harus terlebih dahulu menghargai orang lain.
Perubahan di madrasah tidak selalu harus dimulai
dengan program baru. Kadang
perubahan justru dimulai dari perubahan perilaku orang dewasa yang memimpin.
Refleksi Leadership #8
Mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri
sendiri:
1. Ketika terjadi kesalahan, apakah saya lebih
cepat mencari siapa yang salah daripada mencari solusi?
2. Apakah guru merasa nyaman menyampaikan pendapat
yang berbeda kepada saya?
3. Apakah perilaku saya sudah sesuai dengan aturan
yang saya tuntut dari orang lain?
4. Apakah instruksi dan komunikasi saya sudah cukup
jelas?
5. Apakah saya terlalu sibuk dengan administrasi
hingga kurang hadir dalam persoalan guru dan murid?
6. Jika ada kritik terhadap kepemimpinan saya,
apakah saya menerimanya sebagai ancaman atau sebagai bahan belajar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ditujukan
untuk menghakimi. Justru sebaliknya. Ia adalah cermin. Dan setiap
pemimpin sesekali membutuhkan cermin untuk melihat apakah dirinya masih berada
di jalan yang benar.
Memimpin Bukan Tentang Kesempurnaan
Lima kesalahan dalam kepemimpinan bukanlah daftar untuk mencari siapa yang paling banyak melakukan kesalahan. Ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan selalu membutuhkan evaluasi.
Pemimpin yang hebat bukan orang yang tidak pernah
salah. Pemimpin yang hebat adalah orang yang ketika salah, berani
mengakuinya. Ketika dikritik, mau mendengarkan. Ketika menghadapi
persoalan, tidak mencari kambing hitam. Ketika memberikan aturan, bersedia
menjadi teladan. Ketika berkomunikasi, berusaha memastikan pesan
benar-benar dipahami. Dan ketika mengelola administrasi, tidak lupa
bahwa di balik setiap dokumen terdapat manusia yang harus dilayani dan
dikembangkan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala madrasah
bukan hanya terlihat dari tebalnya laporan atau banyaknya program.
Keberhasilan kepemimpinan akan jauh lebih terasa
ketika: guru tumbuh, murid berkembang, tim semakin solid, komunikasi semakin
sehat, dan madrasah bergerak maju bersama. Maka, sebelum bertanya: “Apa
yang harus diperbaiki di madrasah saya?” seorang pemimpin mungkin perlu
terlebih dahulu bertanya: “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?”
Karena sering kali, perubahan terbesar di sebuah
madrasah dimulai bukan dari meja rapat, bukan dari dokumen program, melainkan
dari keberanian seorang pemimpin untuk bercermin.
Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5 Kesalahan Kepala Madrasah Saat Memimpin" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.


