Ziarah Muassis bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebuah praktik pendidikan nilai—menghubungkan generasi saat ini dengan akar sejarah, teladan keikhlasan, serta etos pengabdian para pendiri madrasah. Pada peringatan Harlah ke-68 MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah Kudus tahun 2026, kegiatan ini dirancang sistematis: spiritual (doa), historis (napak tilas), dan edukatif (internalisasi hikmah).
Kegiatan ziarah muassis ini dilaksanakan setelah sebelumnya para bapak/ibu guru mengkhotamkan Alqur'an 30 Juz binnadhor, kemudian punca acara dilaksanakan ziarah ke Maqbaroh Muslim Desa Undaan Tengah dengan susunan acara :
- Pembukaan – Suparno, S.Pd.I
- Tabur Bunga – Penasehat, Kepala dan
wakil guru
- Pembacaan Ayat Suci
Al-Qur’an –
Siswi-siswi madrasah
- Prosesi Kirim Doa:
- Hadhoroh: KH. Fatkhur
Rohman
- Khotmil Qur’an: Muhammad
Zair,S.Pd.I
- Tahlil: Ahmad Yunus, M.Pd
- Doa: KH. Fathurrahman,
S.Pd.I
- Pemaparan Napak Tilas – KH. Ahmad Halim, S.Pd.I
- Penutup – Suparno, S.Pd.I
Beberapa nilai yang terkandung daam kegiatan ini
adalah
- Bahwa ziarah memiliki nilai
edukatif, bukan sekadar tradisi ritual.
- Bahwa generasi sekarang
membutuhkan narasi historis untuk memperkuat identitas kelembagaan.
- Bahwa keberkahan (barokah)
dipahami sebagai hasil dari kesinambungan ilmu, adab, dan khidmah.
Resume selayang pandang sejarah madrasah
Oleh: KH.
Ahmad Halim, S.Pd.I
MI NU
Miftahul Falah Undaan Tengah memiliki akar sejarah panjang yang dimulai dari
perjuangan tokoh-tokoh ikhlas. Salah satu tokoh utama adalah KH. Ahmad Ali,
yang dimakamkan di pintu gerbang sebelah kiri area makam muslim Undaan Tengah
Kudus
Beliau adalah cikal bakal pendiri Madrasah Diniyah Miftahul Falah, yang pada awalnya berdiri sederhana menghadap ke selatan. Dalam perjalanannya, madrasah sempat menghadapi ujian besar, termasuk persoalan wakaf yang sempat hilang. Namun semangat tidak padam—justru menjadi pemicu lahirnya madrasah baru di belakang balai desa.
Sepuluh
tahun kemudian, berdirilah MI Miftahul Falah, dengan tokoh-tokoh penting
seperti K. Abdur Rohim dan lain-lainnya
Jika
dilihat secara kritis, keberhasilan madrasah bukan hanya karena tokoh besar,
tetapi juga karena ekosistem sosial: gotong royong masyarakat, legitimasi tokoh
lokal, dan kesinambungan kaderisasi. Tanpa itu, perjuangan individu tidak akan
berkelanjutan.
Mengapa Ziarah Itu Penting?
Ziarah kepada para muassis bukan sekadar mengenang,
tetapi menginternalisasi nilai perjuangan:
- Mereka mendirikan madrasah
tanpa orientasi materi
- Berkorban tenaga dan harta
(bahkan mencari kayu ke gunung, mengurug tanah secara manual, gotong
royong bamboo, kayu dll )
- Mengedepankan pendidikan
generasi, bukan kepentingan pribadi
MI
Miftahul Falah bahkan menjadi pelopor berdirinya MI di Kecamatan Undaan.
Berdasarkan penuturan Mbah Durrohim, inisiatif pendirian madrasah di desa lain
terinspirasi dari Undaan Tengah, termasuk dalam proses pendaftaran resmi ke
Jakarta, tidak lepas dari peran tanda tangan beliau
Hikmah Harlah ke-68
Beliau KH. Ahmad Halim,S.Pd.I mengutip nasihat
ulama besar, dari Mekkah Sayyid Alwi al-Maliki: Tsabaatul ‘ilmi bil
mudzakarati, Wabarokatuhu bil khidmati,Wanaf’uhu biridha asy-syaikhi.
Artinya : Ilmu menjadi kuat dengan belajar dan mengulang
(mudzakarah) ,keberkahan
ilmu lahir dari khidmah (pengabdian) , manfaat ilmu tergantung ridha
guru



